Artikel oleh Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unand, Bunga Amelia
EKSPRESNEWS – Ilmu filologi membawa penulis pada naskah kuno yang telah berusia kurang lebih 150 tahun, ditulis tangan oleh Syekh Muhammad Thaib sepulangnya dari menuntut ilmu di Arab. Terletak di surau Baru Pauh yang di jaga oleh Bapak Zahar, 65 tahun. Sebagai informasi, filologi adalah ilmu yang mempelajari naskah kuno tidak hanya berurusan dengan teks, tetapi juga dengan sejarah, budaya, serta kehidupan masyarakat di masa lalu.
Selama ini, pengetahuan tentang naskah kuno hanya sebatas teori yang dijelaskan di kelas. Namun, pengalaman melihat langsung sebuah naskah kuno yang berada di Surau Baru Pauh menghadirkan kesan baru yang sulit diungkapkan. Perjumpaan ini bukan sekadar kegiatan akademis, melainkan juga pengalaman emosional dan intelektual yang membuka mata tentang betapa berharganya warisan budaya bangsa.
Kunjungan ke Surau Baru Pauh merupakan pengalaman pertama bagi penulis dan sebagian besar teman-teman Sastra Indonesia angkatan 2024, dalam mengamati naskah kuno secara langsung. Naskah tersebut disimpan dengan sederhana, berbalut kain putih, namun tetap terjaga keasliannya. Lembaran kertas yang mulai rapuh, tulisan tangan dengan aksara Arab-Melayu, serta aroma khas kertas tua memberi kesan mendalam yang tidak bisa didapatkan hanya dengan membaca buku atau mendengarkan penjelasan dosen.
Menurut keterangan Pak Zahar, naskah tersebut sudah ada kurang lebih 150 tahun yang lalu, berdekatan dengan usia surau. Dengan demikian, membalik lembaran demi lembaran naskah harus berhati-hati, mengingat kondisi kertas yang telah lusuh dimakan waktu.
Naskah ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat dahulu memiliki tradisi tulis yang kuat. Melalui naskah, kita dapat membaca jejak sejarah, agama, hukum, maupun kehidupan sehari-hari mereka. Melihatnya secara langsung menghadirkan rasa takjub. Selain memberikan pengetahuan baru, pengalaman ini juga menumbuhkan kesadaran bahwa filologi bukan hanya mata kuliah teoritis, tetapi juga praktik nyata dalam melestarikan budaya.
Pengalaman perjumpaan pertama dengan naskah kuno di Surau Baru Pauh merupakan momen penting bagi mahasiswa filologi. Ia mengajarkan bahwa naskah bukan sekadar benda usang, tetapi saksi bisu perjalanan sejarah yang patut dihargai. Dari lembaran-lembaran tua tersebut, kita belajar bahwa ilmu tidak hanya berasal dari bangku kuliah, tetapi juga dari warisan budaya yang diwariskan turun-temurun.
Seperti yang ditegaskan Harimurti Kridalaksana, kajian filologi adalah upaya memahami warisan intelektual masa lalu agar tetap hidup di masa kini. Oleh karena itu, menjaga dan meneliti naskah kuno adalah bagian dari upaya menjaga identitas serta peradaban bangsa. (*)











