Opini

Tanaman Obat Keluarga di Nagari Batu Tanjung, Sawahlunto Jadi Wadah Edukasi Masyarakat

×

Tanaman Obat Keluarga di Nagari Batu Tanjung, Sawahlunto Jadi Wadah Edukasi Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Pengabdian masyarakat oleh Fakultas Farmasi Unand di Sawahlunto.
Pengabdian masyarakat oleh Fakultas Farmasi Unand di Sawahlunto.

Artikel Opini oleh Dr. apt. Dwisari Dillasamola, M. Farm, Dosen Fakultas Farmasi Universitas Andalas (Unand)

EKSPRESNEWS – Sebuah inisiatif pemberdayaan masyarakat berbasis tanaman obat keluarga (TOGA) resmi diluncurkan di lahan bersama Nagari Batu Tanjung, Sawahlunto sejak 28 Juli 2025. Program yang digagas tim pengabdian masyarakat dari Universitas Andalas ini memadukan edukasi, praktik budidaya organik, dan pembentukan kebun percontohan untuk meningkatkan kemandirian kesehatan sekaligus membuka potensi ekonomi lokal.

Program pemberdayaan ini dilaksanakan dalam SKIM TOGA 4S, yaitu Sedia, Siap, Sediaan, dan Sehat. S mencakup pembuatan obat tradisional mandiri berbasis tanaman obat keluarga di desa serta program pemeriksaan kesehatan gratis di Nagari Batu Tanjung, Kecamatan Talawi, Sawahlunto. Melalui pendekatan ini, masyarakat didorong untuk menyediakan, mempersiapkan, dan memproduksi obat tradisional yang sehat di lingkungan mereka sendiri, sehingga meningkatkan kemandirian kesehatan secara berkelanjutan.

Program tersebut dimulai dengan sosialisasi dan pelatihan yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari ibu rumah tangga, kader kesehatan, hingga pemuda dan perangkat desa. Peserta diberikan materi yang disampaikan langsung oleh penulis sendiri, Dr. apt. Dwisari Dillasamola, M. Farm, selaku ketua tim pengabdian masyarakat tentang manfaat tanaman obat yang mudah ditemukan di sekitar rumah, seperti jahe, kunyit, kapulaga, dan lidah buaya termasuk bagaimana mengubahnya menjadi produk yang lebih berharga. Selain pengetahuan teoritis, mereka juga diajak langsung menanam berbagai bibit tanaman herbal di kebun bersama yang disiapkan di lahan milik nagari.

Selain edukasi budidaya tanaman herbal, kegiatan pengabdian masyarakat ini juga menghadirkan pemateri spesialis kesehatan. Dokter spesialis bedah tulang, dr. H. Noverial, Sp. Ot., memberikan penyuluhan dan sosialisasi mengenai kesehatan sendi dan tulang. Antusiasme warga tampak tinggi dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada dr. Noverial selama sesi berlangsung. Selain itu, juga menghadirkan dr. Biomechy Oktomalio Putri, M. Biomed yang juga bagian dari tim pengabdian masyarakat ini untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara gratis bagi masyarakat Batu Tanjung Talawi yang dibantu oleh beberapa mahasiswa farmasi, diantaranya Rada Anjeli, Hana Syakirah Hasibuan, Rativa Firjatullah, Dhiya Rahmi Putri, dan Poetti Raihan Salman.

Hasil pengujian pemahaman peserta sebelum pelatihan yang dilakukan oleh panitia menunjukkan bahwa hanya 40% peserta yang memiliki pemahaman dasar terkait TOGA dan manfaatnya sebagai obat tradisional. Namun, setelah mengikuti sesi edukasi dan praktik langsung, terjadi peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan mereka. Pendekatan pembelajaran yang interaktif dan partisipatif terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat, sehingga mereka lebih percaya diri untuk menerapkan tanaman obat sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

Pembuatan kebun TOGA percontohan dilakukan secara gotong royong. Kebun ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembelajaran, tetapi juga sebagai simbol kolaborasi dan semangat kebersamaan warga. Semua proses mulai dari pembersihan lahan, pengolahan tanah, hingga penanaman bibit dilakukan bersama-sama, memastikan setiap warga memiliki keterlibatan langsung. Penggunaan metode organik tanpa pestisida kimia juga ditekankan untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Lebih dari aspek kesehatan, pengembangan TOGA ini diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Produk olahan dari tanaman herbal yang memiliki khasiat medis memiliki peluang besar untuk dikembangkan dan dipasarkan, sehingga dapat menambah penghasilan keluarga di desa. Dukungan lanjutan dari pemerintah nagari dalam bentuk pelatihan berkala dan kebijakan perawatan lahan bersama menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan program ini.

Dengan adanya program pemberdayaan melalui budidaya tanaman obat keluarga ini, Nagari Batu Tanjung diharapkan dapat menjadi contoh bagaimana potensi lokal dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesehatan, ekonomi, dan solidaritas sosial di tingkat desa. Upaya bersama dari berbagai pihak termasuk akademisi dan mahasiswa turut memperkuat modal sosial dalam membangun ketahanan masyarakat dan pelestarian budaya herbal tradisional yang berharga. (*)