Ditulis oleh Bunga Amerlia, Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Andalas
EKSPRESNEWS – Siapa sangka, dakwah yang dulunya disampaikan di surau dan mimbar kini bisa menggema dari panggung pertunjukan seni? Di tengah derasnya arus digital dan perubahan gaya hidup anak muda, warisan budaya Minangkabau bernama Sijobang justru menemukan kembali pesonanya. Bukan sekadar seni tutur biasa, tapi kisah tentang bagaimana dakwah, kreativitas, dan tradisi menyatu dalam harmoni.
Pada zaman dahulu, ketika ajaran Islam mulai berkembang di Minangkabau, khususnya di daerah Lima Puluh Kota, para murid dari pusat pembelajaran Islam di Pariaman kembali ke kampung mereka membawa ilmu dari Syekh Burhanuddin. Tapi bagaimana caranya mengumpulkan masyarakat agar mau mendengar ceramah agama? Solusinya: bercerita.
Namun, bukan sembarang cerita. Mereka menggunakan kaba—narasi yang dilagukan dengan penuh rasa. Masyarakatnya terkenal senang bercerita, berdendang, dan berpantun. Salah satu kisah yang populer adalah Anggun Nan Tungga Manggek Jambang. Penduduk berkumpul bukan karena undangan formal, tetapi karena ingin menikmati cerita yang menarik sebelum dakwah dimulai.
Pada awalnya, narasi Sijobang hanya diiringi ketukan korek api kayu yang dimainkan ritmis. Namun, perubahan besar datang dari seorang seniman bernama Nurman dari Nagari Lareh Nan Panjang. Ia memperkenalkan kucapi — alat musik berdawai yang dibelinya dari daerah Melayu. Sentuhan kucapi ini memberi warna baru pada Sijobang dan membuatnya semakin menarik.
Versi ini begitu digemari, bahkan melampaui ketenaran Sijobang versi korek api. Kreativitas ini tidak hanya memperindah penyampaian, tetapi juga menjadikan kesenian ini semakin populer. Ia mulai diundang ke berbagai acara: akikah, pernikahan, hingga pertunjukan resmi. Sijobang pun bertransformasi menjadi pertunjukan seni yang memadukan narasi, musik, dan nilai religius.
Kecintaan terhadap Sijobang tak berhenti di tengah masyarakat. Ia menembus tembok kampus dan dipelajari oleh para mahasiswa Prodi karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Sijobang kini tak hanya dilestarikan, tetapi juga dikomposisikan ulang dalam bentuk seni musik modern dan tari. Mahasiswa, dosen, dan seniman menciptakan karya baru berbasis Sijobang.
Bahkan sastra lisan ini dipertunjukkan dalam kegiatan kuliah lapangan mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Universitas Andalas, membuktikan bahwa Sijobang bukan hanya sejarah, tapi juga bagian dari masa depan seni Minang.
Di era di mana konten digital membanjiri layar, Si Jobang Kucapi adalah bukti bahwa warisan budaya tetap bisa hidup—selama dikemas dengan cerdas dan relevan. Dari mimbar dakwah menjadi panggung seni, dari korek api ke kucapi, kisah ini adalah pelajaran bahwa kreativitas mampu menjaga nilai sekaligus menarik generasi baru.
Menurut penulis, tradisi bukan untuk ditinggalkan, tapi untuk ditumbuhkan Kembali tanpa mengurangi makna yang terkandunng didalamnya—dengan cara yang sesuai zaman.(*)











