EKSPRESNEWS – Pengalaman demi pengalaman pasien berobat ke Semen Padang Hospital (SPH) ramai dituliskan netizen di kolom komentar aku official medsos EkspresNews di @capt.indoraya (Medan Nan Bapaneh) hingga saat ini, Jumat 24 Juli 2026.
Salah seorang pengguna jasa medis di SPH, “Penawar Rindu” menuliskan bahwa ia pernah mengalaminya di SPH. Sudah jelas bayi di dalam kandungan sudah tidak bernyawa lagi. Jadi memang harus dilakukan kuret karena usia kandungan sudah 5 bulan.
“Diberi obat untuk menggugurkan kandungan. Selama 2 bulan saya bertahan dengan kondisi perdarahan yang benar-benar sangat menyakitkan. Katanya disuruh bersabar saja. Akhirnya saya dibawa ke RS M. Djamil. Di sana langsung ada penanganan. Hari itu juga saya langsung masuk ke ruang operasi,” tulisnya.
Pengabaian dan lalai petugas di SPH tidak sekali atau dua kali terjadi. Ratusan komentar miring terkait ketidakramahan pelayanan di SPH menjadi sorotan publik. Terlepas menggunakan jaminan BPJS maupun sebagai pasien umum, pelayanan tetap tidak ramah.
“Malah saya baca ada yang tangannya luka robek, lalu petugas medis di SPH menyatakan urat nadinya putus harus segera dioperasi dan pihak keluarga harus menyedikan uang puluhan juta saat itu juga. Kalau tidak ada, tidak akan dioperasi. Akhirnya pasien pindah rumah sakit, dan dilakukan tindakan medis. Ternyata hanya di jahit dan dokter yang menangani menyatakan tidak ada urat nadi yang putus. Itu adalah suatu pembohongan besar dalam dunia medis, akal-akalan agar pasien membayar uang lebih,” ungkap Marlina salah seorang masyarakat kota Padang yang dimintai pendapatnya terkait SPH yang tengah viral saat ini.
Menurutnya ini semua bermuara kepada sikap arogansi Manajemen SPH itu sendiri. Tertutup dengan kritik dan saran, sehingga, kata Marlina, SPH akan lebih cepat ditinggalkan oleh masyarakat. “Imbauan kepada warga kota Padang untuk mencari rumah sakit lain jika butuh tindakan medis, sekalipun jika tempat tinggalnya dekat dengan SPH. Masih banyak rumah sakit yang lebih baik dan lebih tepat menangani pasien dibandingkan SPH,” sarannya.
Sementara itu, Tomi warga kota Padang yang keluarganya sedang melakukan kontrol rutin di SPH mengatakan kali ini adalah yang terakhir ia membawa keluarganya berobat atau kontrol di SPH. “Ngeri saya baca komen dari pengalaman orang-orang, memang layanannya tidak ramah, kami setelah ini akan balik ke faskes dan minta rujukan ke RS lain. Lebih baik menghindar daripada menjadi korban di rumah sakit tersebut,” katanya lebih lanjut.
Sabrina, ibu 3 anak yang juga berobat di SPH sependapat dengan Tomi, ia juga akan meminta rujukan baru ke faskes dengan pilihan rumah sakit lain. “Lebih baik saya minta rujukan ke Hermina atau Yos Sudarso kalau membaca komen orang-orang. Saya tidak mau anak saya berobat malah dibentak-bentak oleh dokternya, gila semuanya di SPH ini,” tuturnya.
Dokter Selfi selaku direktur utama saat dikonfirmasi untuk diminta tanggapannya sampai berita ini dipublikasikan tidak memberikan keterangan apapun. Rusaknya reputasi sebuah rumah sakit kuat ditenggarai oleh perilaku orang-orang didalamnya. “Dirutnya saja diam, dia melakukan pembiaran terhadap layanan buruk dari bawahannya semua, ini preseden buruk bagi SPH,” ungkap Sabrina menutup pembicaraan. (Abdi)











