Berita

Malpraktek Salah Diagnosis Hingga Membuat Anak Jadi Yatim, Ini Komen Netizen Terkait Pelayanan SPH

×

Malpraktek Salah Diagnosis Hingga Membuat Anak Jadi Yatim, Ini Komen Netizen Terkait Pelayanan SPH

Sebarkan artikel ini

EKSPRESNEWS – Pasca pemberitaan terkait SPH Berulah Lagi, Anak Usia 1 Tahun Dipimpong, Layanan Makin Buruk ? Viral di media sosial TikTok dalam akun official @capt.indoraya a.k.a Medan Nan Bapaneh, rumah sakit Semen Padang Hospital (SPH) mendapatkan banyak komentar negatif terkait pelayanan berdasarkan pengalaman pasien, beberapa yang berkomentar positif juga ada. “Teman ku juga, disuruh umum katanya nggak ditanggung BPJS,” tulis akun Purnadi7em.

“Karna petugasnya bekerja tidak dengan sepenuh hati tidak mengingat sumpahnya, karna ilmu kesehatan itu sejiwa dengan agama. Kalau petugas tidak punya ilmu agama dan hati yang bersih yang begitulah jadinya,” tulis akun Rajo Alam_04.

“Saya juga pernah mengalami padahal anak saya trombositnya sudah turun, dan anak saya tidak tahan lagi malah disuruh pulang dulu, akhirnya saya pindah ke rumah sakit BMC dan dirujuk rawat inap di rumah sakit Siti Hawa karna kamar anak penuh ketika itu,” tulis akun Aries.

Akun Mellisa juga menuliskan komentar yang sangat sedih, tulisnya baru beberapa bulan lalu ponakan demam tinggi, batuk flu, lalu sampai di IGD SPH cek darah, setelah hasil keluar, dokternya menjelaskan ini memang ada infeksi, tapi tidak diberi tahu kalau infeksinya berat. Karena dokternya bilang ini masih bisa rawat jalan, alhasil anak muntah sampai 8 kali, lalu dibawa lagi ke IGD Siti Hawa, ternyata dokter di Siti Hawa menyatakan kalau kondisinya ini sangat berat dan harus dirawat di PICU sehingga akhirnya anak dirawat di PICU RS Unand hampir sebulan.

Komentar menohok juga ditulis akun Azza Jeda Mom’s, menuliskan bahwa 1 tahun lalu ayah teman anaknya dilarikan ke SPH malam hari karena sakit kepala hebat dan perlahan tidak sadarkan diri. SPH menyuruh dibawa ke M Djamil tanpa ada surat rujukan perantara dan akhirnya di M Djamil ayahnya meninggal. Almarhum meninggal karena harus mengulang proses dari awal rujukan sampai tindakan, andai tindakan cepat dilakukan di SPH, mungkin tidak menjadikan anak orang menjadi anak yatim.

“Memang iya, pelayanannya tidak bagus. Keponakan umur 2 tahun, demam diare dan tidak mau makan, ke SPH malam lalu diinfusnya besok siang, palaaak,” tulis akun Syafiraa Hanania Bilqis dan D.

“Pernah mau berobat ke SPH, rujukan dari klinik, sampai di SPH harus ada KTP dan Kartu BPJS, tidak boleh kurang dan tidak boleh ada yang fotocopy harus asli, padahal dimana-mana salah satunya saja cukup. Mana dokter yang melayani tidak baik, salah diagnosa, cuma dikasih vitamin dan penambah nafsu makan padahal badanku sudah 85. Ke Hermina layanan oke banget, dokter juga teliti,” tulis akun Panda Abu-Abu.

Sebelumnya diberitakan Akun TikTok @borunasution memposting keluhan terhadap rumah sakit Semen Padang Hospital (SPH) Padang, Kamis 16 Juli 2026. Anaknya berusia 1 tahun mengalami panas tinggi hingga menggigil sejak pukul 1 siang hingga 8 malam, malah dipimpong.

“Rumah sakit pan***, dari jam 1 sampai jam 8 malam anak usia 1 tahun, sudah ambil darah dan rontgen, disutik berkali-kali, pada jam 4 sore panas tinggi hingga mengigil belum ditanggapi, malah kamar pelayanan penuh. Sehingga diminta cari rumah sakit lain, tapi rumah sakit lain juga penuh kata mereka. Akhirnya kami pulang. Jika ke SPH sebaiknya jadi pasien mandiri, bukan pasien BPJS,” tulis Borunasution dalam unggahannya.

Postingan tersebut dikomentari oleh akun Mama Rava menuliskan bahwa pelayanan SPH benar-benar cuek. Separah apapun kondisi pasien, SPH tetap slow menanggapi. “Jangan jadi bangga SPH. Separah apapun kondisi pasien, mereka tetap slow menanggapi,” tulisnya.

Selain itu, akun Moon Decoration turut memberikan komentar bahwa pernah mengalami sakit perut parah dan dada juga sesak. Alih-alih memberikan obat pereda nyeri, pihak SPH malah mengatakan kondisinya tidak darurat, karena menggunakan jaminan BPJS.

“Aku bayar umum akhirnya di SPH, tapi dokternya super cuek. 2 minggu setelah itu, sakit perut lagi dan pergi ke rumah sakit Hermina, nah disana pelayanannya super ramah sekali, gerak cepat, cek darah, rontgen dan akhirnya dapat diagnosa usus buntu langsung operasi tentunya di cover BPJS,” ungkapnya.

Pemerhati sosial Miranda Syofia mengatakan pola yang dimainkan adalah proses balas dendam manajemen terhadap perlakuan BPJS yang sejatinya sudah sesuai aturan. Malah kata Miranda, ini jadi preseden buruk bagi rumah sakit lainnya.

“Manajemen SPH kali ini balas dendam karena tidak bisa mendapat uang tambahan dari klaim BPJS. Sebab sebelumnya SPH telah melakukan upcoding hingga mark up klaim yang membuat BPJS rugi. Jadi diduga balas dendam karena tak dapat upeti, gitulah kira-kira,” katanya.

Akan tetapi, kata Miranda, sungguh disayangkan perlakuan buruk SPH terhadap pasien anak usia 1 tahun yang jadi korban. Agaknya lihat-lihat juga pasiennya. Dikatakannya seharusnya pelayanan kepada pasien itu nomor 1 diutamakan, bukan diabaikan. “Pasien itu adalah objek dari orientasi sebuah rumah sakit. Pelayanan jadi ujung tombak, tapi jika anak usia 1 tahun saja dipimpong untuk mendapat layanan, berarti rumah sakit itu memang butuh perhatian khusus,” tuturnya.

Sementara itu konfirmasi kepada dr Selfi selaku direktur utama SPH hingga berita ini terbit tidak memberikan keterangan apapun. Jangankan membalas pesan WA, menjawab salampun juga tidak. (Abdi)