EKSPRESNEWS – Kemunculan Sinetron Asmara Gen Z (AGZ) telah menarik minat berbagai kalangan seperti para pecinta drakor, kpopers, hingga dracin dengan suguhan cerita yang kompleks dan berbeda dari sinetron lain. Tidak hanya menceritakan kisah percintaan anak muda, sinetron ini sangat relatable dengan kehidupan Gen Z pun generasi milenial yang dipenuhi segudang masalah, terutama gangguan mental yang banyak diabaikan.
Generasi Z (Gen Z) adalah generasi yang tumbuh di tengah pesatnya perkembangan digitalisasi dan tingginya ekspektasi orang-orang di sekitar mereka, terutama tuntutan sosial yang tinggi dari generasi sebelumnya. Gen Z dideskripsikan sebagai generasi yang cerdas, terbuka, mudah beradaptasi, dan berani menyuarakan pendapat mereka.

Namun, di balik itu Gen Z juga dipandang sebagai generasi lemah, manja, gampang menyerah, dan puncaknya generasi ini cenderung menyimpan banyak luka yang mendalam sehingga banyak yang terkena penyakit mental disorder. Bersumber dari alodokter.com, gangguan mental (mental disorder) merupakan suatu penyakit yang mempengaruhi perilaku, emosi, serta pikiran seseorang karena faktor tertentu.
Faktanya, generasi yang rentan terkena gangguan mental ini penyebab utamanya bukanlah teknologi, melainkan konflik keluarga (family issue). Dikutip dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), ada 1 dari 20 (5,5%) atau sekitar 2,45 juta remaja terdiagnosis mengalami masalah gangguan mental dan 1 dari 3 (34,9 %) atau setara dengan 15,5 juta remaja memiliki satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
Asmara Gen Z: Menyuguhkan Alur Cerita Tak Biasa
Popularitas AGZ sebagai tontonan viral yang memenuhi konten-konten platform media sosial seperti X, TikTok, dan Instagram memang tidak perlu diragukan. Sinetron produksi Sinemart ini tayang perdana pada 9 Desember 2024 pukul 16.45 WIB di SCTV dan telah memenangkan sejumlah penghargaan.
Bahkan sinetron yang dibintangi oleh Aqeela Calista, Nicole Rossi, Fattah Syach, Arya Mohan, dan Harry Vaughan ini turut menciptakan shippers besar yang diidolakan banyak orang, melahirkan teori-teori menarik yang diciptakan penggemar di setiap episodenya, hingga tak jarang juga mengundang war demi membela pasangan yang disukai. Rating sinetron ini pun juga selalu tinggi dalam setiap penayangannya dengan share di atas 20% (bersumber dari akun Instagram @indotvtrends).
Memiliki karakter yang kuat, masing-masing dari setiap tokoh sinetron ini diceritakan mempunyai berbagai permasalahan rumit dan gangguan mental.
Mulai dari tokoh Aqeela yang mempunyai penyakit Borderline Personality Disorder (BPD), lalu Fattah yang mengidap Anxiety, tokoh Zara yang mengalami Panic Attack, disusul Mohan yang mengidap penyakit Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), kemudian tokoh Cantika yang mengidap Obsesive-Compulsive Personality Disorder (OCPD), lalu tokoh Raisa yang ditunjukkan sebagai penderita Histrionic Personality Disorder (HPD, Harry yang diduga mengidap Paranoid, dan lainnya yang masih belum terungkap.
Gangguan mental yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam Asmara Gen Z sebagian besar terjadi karena family issue, yakni hampir keseluruhan tokoh dalam cerita ini memiliki konflik keluarga yang cukup rumit. Orang tua yang menuntut anak mereka hingga tak segan melakukan kekerasan fisik pada anaknya untuk memenuhi keinginan mereka, kurangnya perhatian dan kasih sayang karena kesibukan, sering kali mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan anak, dan retaknya hubungan suami istri karena orang ketiga sehingga berdampak pada anak.
Lingkungan yang tidak mendukung dan hilangnya tempat bercerita membuat gangguan mental ini semakin sulit disembuhkan. Parahnya hal tersebut akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari karena juga berdampak pada orang lain.
Asmara Gen Z Sebagai Perwujudan Terapi Visual
Begitu juga dengan kehidupan nyata, sinetron Asmara Gen Z sebagai representasi isu kesehatan mental yang penting untuk diperhatikan, apalagi bagi orang tua yang menganggap anak mereka dalam keadaan baik padahal menyimpan luka yang begitu dalam.
Luka emosional akibat konflik keluarga bukan hal sepele, ada beban emosional yang tersembunyi dan tak kasat mata dari keluarga yang tidak harmonis, seperti perceraian, orang tua yang tak acuh, toxic parenting, ekspektasi yang tidak realistis, dan sebagainya.
Orang tua yang tidak memahami kebutuhan emosional anak dan tidak mempedulikan anak tanpa sadar telah membentuk anak-anak mereka untuk mencari kebebasan di tempat lain karena tidak ada perlindungan di dalam keluarga.
Melalui sinetron ini, banyak penonton terutama Gen Z yang mengaku telah terwakili oleh karakter pada sinetron ini, bahkan tokoh-tokoh tersebut kerap kali dianggap sebagai perwujudan terapi visual yang mencerminkan apa yang mereka rasakan. Seperti salah satu komentar netizen di platform media sosial TikTok pada postingan yang menyangkut Asmara Gen Z.
“Aqeela ternyata kita sama, gara-gara nonton kamu aku jadi beraniin buat cek ke psikolog, ternyata kita sama.” tulis @diniiiyu.
“Kita gen z semua sama tapi susah untuk berteriak seperti itu bahkan dipendam dan semakin dipendam.” tulis @Bbsalsa.
Dari AGZ Membuka Banyak Peluang, Semua Punya Peran
Sinetron ini juga membuka banyak ruang diskusi dan kesadaran menyangkut pentingnya kesehatan mental terutama akibat family issue, karena konflik dalam keluarga tiada berujung memang sangat berpengaruh terhadap mental anggotanya. Pada dasarnya, anak-anak nakal dan remaja yang berbuat nekat terjadi karena kurang kokohnya fondasi utama kesehatan mental mereka.
Jika keluarga sudah dirasa tidak aman, maka akan banyak sikap yang lahir dari rusaknya keluarga, seperti mencari pelarian pada hal-hal negatif, tidak percaya diri, dan berada dalam bayang-bayang kecemasan sehingga berdampak pada aspek kehidupan sosial mereka, turunnya prestasi, dan hingga keinginan untuk bunuh diri.
Maka dari itu, gangguan mental perlu penanganan yang lebih baik bagi semua orang. Konseling keluarga, layanan psikologis, lingkungan yang mendukung, dan pendidikan yang berkualitas adalah langkah tepat untuk generasi yang membutuhkan ruang kepedulian emosional.
Dari sinetron Asmara Gen Z memotret konflik dan pengembangan cerita yang sangat dekat dengan kehidupan anak muda masa kini, dimana orang tua yang menuntut tanpa memahami, kurangnya komunikasi dua arah, serta luka batin yang ditutup-tutupi. Sebuah karakter yang memberontak bukan karena ingin terlihat keren, tetapi karena ingin didengar, dipahami, dan dicintai tanpa syarat oleh orang-orang di sekitar.
Tontonan Asmara Gen Z tidak hanya menyuguhkan cerita namun juga memberikan dampak sosial yang berarti. Kesehatan mental bukan sekadar tren di media sosial namun isu serius yang memerlukan uluran tangan setiap orang, karena kita semua memiliki peran dan tanggung jawab sebagai makhluk sosial.
Bukankah ini menjadi alarm pengingat bahwa setiap orang berhak mendapat rasa aman, diperhatikan, dan didengarkan?
Bila kebanyakan anak muda lebih merasa dimengerti oleh karakter fiktif yang ditayangkan di televisi daripada keluarganya sendiri, berarti ada yang salah dalam lingkungan sosial kita, terutama keluarga yang menjadi ‘rumah’ bagi kita. (*)
Penulis : Eliza Nuzul Fitria (Mahasiswa Prodi Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Andalas)











