EKSPRESNEWS – Prahara kenaikan tarif pasca operasi yang tidak diketahui pasien menyisakan tanya yang perlu diungkap. Sebelumnya Direktur Pelayanan Medis RS Unand dr Yose kepada EkspresNews mengatakan biaya operasi sebenarnya sudah menetapkan SK Tarif Tindakan di RS Unand di akhir bulan Mei 2025. Dimana persiapan penyusunan tarif ini sudah disusun dari tahun 2024 kemarin. Jadi untuk menaikkan sepihak mungkin tidak benar.
“Untuk SOP biaya memang koordinasi harus dilakukan dan pasien mengkonfirmasi biaya tindakan dari awal direncanakan untuk tindakan ke Kasir,” tulisnya dalam pesan WA.
Kendati demikian, pengamat sosial Miranda Syofia mengatakan tidak ada urusan tarif diurus oleh Direktur Pelayanan Medik karena pada dasarnya urusan tarif berada dibawah kuasa Direktur Keuangan. Ada apa di RS Unand, tanyanya ?
“Jika Direktur Pelayanan Medik mengubah ataupun berbicara soal tarif dan kenaikan tarif, itu sejatinya diluar tanggungjawab yang bersangkutan, kenapa urusan tarif diurus oleh pelayanan medik?” ungkapnya kepada EkspresNews, Jumat 18 Juli 2025.
Menurutnya, persoalan tarif dan kenaikan tarif domain dari kerja direktur keuangan yang harus bertanggungjawab. Pada dasarnya, direktur keuangan memiliki kewajiban menjelaskan kepada siapapun termasuk pasien.
“Jadi pihak RS ini sudah menjelaskan atau belum kepada pasien ? Dari keterangan dr Yose selaku Direktur Pelayanan Medik bahwa pasien tidak mengetahui terkait tarif tindakan yang akan dilakukan, adalah sebuah pernyataan yang menyiratkan tidak ada komunikasi dari RS kepada pasien, nah disini seharusnya benang merah persoalan ini,” kata Miranda.
Lebih jauh Miranda menyebutkan ada beberapa opsi kemungkinan komunikasi tersebut tidak terjadi. Bagi rumah sakit, jika pasien diinfokan tarif baru sebelum operasi tentu pasien akan berpikir menunda operasi akibat kenaikan tarif dan pemasukan bagi RS Unand berkurang.
“Itu analisa tidak terjadinya komunikasi persoalan tarif. Sedangkan untuk asumsi dari pasien yang sebelumnya sudah mengetahui tarif operasi, tapi biaya tarif lama. Sehingga pasien juga tidak bertanya kembali soal tarif, ini yang harus jujur dijawab, terutama bagi rumah sakit Unand. Kalau tidak, bisa diduga praktek culas itu benar adanya,” katanya menutup pembicaraan.
Sementara itu Direktur Keuangan dan Perencanaan RS Unand Mohammad Fany Alfarisi, SE, MS.Fin, PhD saat dikonfirmasi melalui pesan WA hingga berita ini tayang tidak memberikan keterangan apapun. Sang direktur memilih bungkam seribu bahasa tanpa keterangan sama sekali sehingga masyarakat dan pembaca kehilangan haknya untuk mengetahui bagaimana tanggapan dari RS Unand. (Abdi)











