Berita

Rektor Paramadina Kritik Pendidikan Tinggi: PTNBH Jadi Industri Kursus

×

Rektor Paramadina Kritik Pendidikan Tinggi: PTNBH Jadi Industri Kursus

Sebarkan artikel ini
Didik Rachbani
Didik Rachbani

EKSPRESNEWS – Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi X DPR RI bersama para pimpinan perguruan tinggi, Senin 10 Februari 2026, Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini menyampaikan kritik terhadap kebijakan pendidikan tinggi nasional yang menurutnya cenderung menyimpang dari fungsi dasar universitas.

“PTN BH mengalami transformasi menyimpang dari orientasi kualitas dan riset menjadi industri kursus kuliah massal,” ungkap Didik seperti termuat dalam situs Tempo.co.

Alasannya, Didik membahas lonjakan penerimaan mahasiswa baru di sejumlah PTN yang mencapai jumlah puluhan ribu orang per tahun. Sebagai contoh, Universitas Negeri Surabaya (UNS) menerima sekitar 26 ribu mahasiswa, disusul Universitas Brawijaya dan Universitas Gadjah Mada dengan penerimaan mahasiswa baru sekitar 18 ribu orang.

Menurut Didik, lonjakan penerimaan mahasiswa baru terjadi karena tuntutan kampus untuk mencari pendanaan sendiri demi menutup biaya operasional. PTN menurutnya menjadi sekedar penyerap lulusan SMA dalam jumlah besar, bukan lagi sepenuhnya berorientasi sebagai produsen ilmu pengetahuan dan pusat riset.

Sehingga, tidak ada perguruan tinggi Indonesia yang menembus 100 besar peringkat dunia. Sementara, kampus di negara tetangga – National University of Singapore dan Nanyang Technological University mencapai peringkat 10 besar.

Sebagai perbandingan, Didik mencontohkan universitas riset kelas internasional seperti Harvard University yang hanya menampung sekitar 23 ribu mahasiswa dengan mutu yang menurutnya lebih terjamin. Sedangkan perguruan tinggi di Indonesia menaungi hingga 60 ribu sampai 80 ribu mahasiswa.

Dengan demikian, Didik mengusulkan beberapa perbaikan kebijakan. Salah satunya antara lain membatasi jumlah mahasiswa S1 di PTN unggulan melalui penetapan student cap nasional serta memfokuskan PTN ke arah pendidikan pascasarjana dan riset. (Daffa Benny)