EKSPRESNEWS.COM – Festival Literasi IV Kota Padang Panjang Tahun 2026 resmi dibuka di Lapangan Bancalaweh, Kamis (29/10). Mengusung tema “Ruang Bertemu Ide, Buku, Manusia dan Masa Depan” dengan tagline “Kota Literasi, Kota yang Menginspirasi”, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat budaya membaca sekaligus menghadirkan berbagai inovasi di tengah masyarakat.
Pembukaan festival dilakukan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpustakaan Nasional RI, Adin Bondar. Kehadiran Perpusnas menjadi bentuk dukungan terhadap upaya Pemerintah Kota Padang Panjang dalam mengembangkan ekosistem literasi yang melibatkan pemerintah, sekolah, komunitas, keluarga, dan masyarakat.
Festival Literasi IV tidak sekadar menghadirkan pameran buku dan kegiatan membaca. Tahun ini, Pemko Padang Panjang memperkenalkan dua inovasi, yakni Gerakan Padang Panjang Membaca 1-1-1 dan Pamenan, yang dirancang untuk memperluas kebiasaan membaca sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi budaya lokal.
Gerakan Padang Panjang Membaca 1-1-1 mengusung semangat satu siswa, satu buku, satu bulan. Melalui gerakan ini, pelajar didorong membangun kebiasaan membaca secara konsisten, menjadikan buku sebagai bagian dari keseharian, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berpikir kritis.
Sementara itu, Pamenan hadir sebagai inovasi yang mengangkat kembali permainan tradisional. Melalui pendekatan yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan anak-anak, Pamenan menjadi sarana mengenalkan warisan budaya lokal agar tetap dikenal dan dimainkan oleh generasi muda.

Wali Kota Padang Panjang, Hendri Arnis, mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkolaborasi menyukseskan festival. Menurutnya, penguatan literasi membutuhkan keterlibatan bersama, sebab budaya membaca dan kecintaan terhadap pengetahuan tidak dapat dibangun hanya melalui program pemerintah.
Hendri juga menekankan pentingnya penguatan literasi sejarah daerah. Ia menginginkan adanya penyusunan buku sejarah Padang Panjang secara komprehensif, mulai dari asal-usul kota, keberadaan bekas kantor residen, perkebunan kopi pada masa kolonial, hingga jejak tokoh nasional seperti Sutan Sjahrir.
Menurutnya, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber pengetahuan dan pembelajaran untuk menentukan arah masa depan. Dengan memahami perjalanan daerahnya, masyarakat diharapkan semakin mengenal identitas Padang Panjang sebagai kota pendidikan dan kota yang memiliki kekayaan sejarah.
Bunda Literasi Kota Padang Panjang, Ny. Maria Feronika Hendri, turut menegaskan bahwa literasi memiliki makna yang luas. Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kreatif, serta membangun karakter sejak lingkungan keluarga.
Salah satu rangkaian kegiatan pembukaan adalah peluncuran buku kumpulan cerpen perdana karya penulis muda Shazia Naura Andiqna berjudul Rencana agar Terlihat Keren yang Gagal Total. Peluncuran ini menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas generasi muda sekaligus dorongan agar semakin banyak anak dan remaja berani menuangkan gagasan melalui karya tulis.
Festival juga menghadirkan talk show bersama Yusrizal KW dan Dr. Yona Primadesi, dengan moderator Dr. Afrizal Harun. Diskusi membahas sastra anak dan inovasi, sekaligus membuka ruang pertukaran gagasan mengenai pentingnya menghadirkan bacaan yang menarik, bermutu, dan sesuai dengan perkembangan generasi muda.

Kemudian, sekitar 61 stan turut memeriahkan festival. Stan tersebut terdiri atas 35 stan literasi, sekitar 20 stan UMKM, serta enam stan pelayanan organisasi perangkat daerah (OPD). Kehadirannya memperlihatkan bahwa festival tidak hanya menjadi ruang pengembangan pengetahuan, tetapi juga wadah promosi produk dan pelayanan publik.
Beragam kegiatan ekonomi masyarakat turut dihadirkan, mulai dari bazar buku, kuliner, produk UMKM, tanaman hias, hingga pangan murah. Kehadiran pangan murah mendapat perhatian pengunjung karena menyediakan sejumlah kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau dibandingkan harga pasar.
Salah seorang pengunjung, Ressa Yolanda, menyampaikan bahwa harga sejumlah komoditas seperti cabai menjadi daya tarik tersendiri. Saat harga cabai di pasaran berada di kisaran Rp66 ribu per kilogram, kegiatan pangan murah memberikan alternatif pembelian yang lebih hemat bagi masyarakat.
Memasuki hari kedua, Jumat (30/10), Festival Literasi IV semakin semarak dengan kehadiran masyarakat, pelajar, komunitas, dan aparatur sipil negara (ASN). Suasana Lapangan Bancalaweh dipenuhi berbagai aktivitas, mulai dari senam bersama hingga perlombaan dan pertunjukan seni yang melibatkan peserta dari berbagai jenjang pendidikan.
Berbagai lomba digelar untuk memberikan ruang bagi anak-anak dan remaja dalam menunjukkan kemampuan serta kreativitas. Kegiatan tersebut meliputi lomba menyanyi solo, mewarnai tingkat taman kanak-kanak, baca puisi, mendongeng, puisi musikal, dan sejumlah penampilan lainnya.
Lomba mewarnai tingkat TK diikuti 40 peserta. Penilaian mencakup keselarasan warna, keterampilan motorik, kerapian, serta penyelesaian gambar. Dari perlombaan tersebut, peserta dari TK RA Al-Qur’an meraih juara pertama dan ketiga, sedangkan juara kedua diraih TK Jihad.

Sementara itu, lomba menyanyi solo diikuti 23 pelajar berusia 13 hingga 17 tahun yang berasal dari Padang Panjang, Batipuh, dan X Koto atau wilayah Pabasko. Kompetisi ini menjadi wadah bagi pelajar untuk mengembangkan bakat seni sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.
Berdasarkan hasil penilaian, juara pertama diraih peserta dari SMAN 3 Padang Panjang dengan nilai 173, disusul SMPN 3 Padang Panjang dengan nilai 162, dan MTsN Padang Panjang dengan nilai 153. Penilaian dilakukan berdasarkan kualitas vokal, improvisasi, serta penampilan peserta di atas panggung.
Rangkaian kegiatan hari kedua memperlihatkan bahwa literasi dapat dikembangkan melalui berbagai medium. Seni, musik, puisi, dan kegiatan kreatif lainnya menjadi pendekatan untuk menumbuhkan keberanian berekspresi, memperkaya wawasan, serta membangun karakter generasi muda.
Pada hari ketiga, Sabtu (31/10), festival kembali menghadirkan beragam penampilan yang menggabungkan literasi, seni, dan kreativitas. Sejumlah pelajar dan kelompok seni tampil menunjukkan kemampuan mereka melalui pidato bahasa Inggris, tari, musik tradisional, puisi musikal, drama musikal, puisi berantai, podcast, hingga mendongeng.
Penampilan Kikan melalui English Speech menjadi salah satu sajian yang memperlihatkan pentingnya penguasaan bahasa sebagai bagian dari pengembangan literasi. Selain itu, siswa SMPN 6 menampilkan tari dan musik, SMPN 3 menghadirkan musik tradisional dan puisi, sedangkan MAN 2 menyuguhkan puisi musikal.
Berbagai penampilan tersebut menunjukkan bahwa festival menjadi ruang bagi pelajar untuk mengembangkan potensi di luar kegiatan akademik. Kreativitas, kemampuan berkomunikasi, kecintaan terhadap seni, dan apresiasi terhadap budaya lokal tumbuh melalui pengalaman tampil dan berinteraksi dengan masyarakat.

Bunda Literasi, Ny. Maria Feronika Hendri, juga mengunjungi sejumlah stan yang berpartisipasi dalam festival. Kunjungan tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap para pelaku literasi dan UMKM yang turut meramaikan kegiatan, sekaligus memperlihatkan keterkaitan antara pengembangan pengetahuan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Festival Literasi IV Kota Padang Panjang secara resmi ditutup Wakil Wali Kota, Allex Saputra, pada Sabtu malam (31/10). Dalam kesempatan itu, ia membacakan pesan Wali Kota Hendri Arnis yang menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan sejak hari pertama.
Penutupan festival semakin semarak dengan penampilan penyanyi Minang Adhim MF dan Prawira Band, serta penyerahan penghargaan kepada para pemenang lomba. Apresiasi tersebut menjadi bentuk penghargaan atas partisipasi dan kreativitas para peserta yang telah memberikan warna dalam rangkaian festival.
Melalui Festival Literasi IV, Pemko Padang Panjang menegaskan komitmennya untuk menjadikan literasi sebagai bagian dari pembangunan masyarakat. Inovasi Gerakan Membaca 1-1-1 dan Pamenan menjadi langkah konkret yang memadukan penguatan budaya baca, pengembangan kreativitas generasi muda, pelestarian tradisi, serta kolaborasi lintas sektor.
Dengan semangat “Kota Literasi, Kota yang Menginspirasi”, festival ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan. Padang Panjang terus mendorong lahirnya masyarakat yang gemar membaca, kreatif, mengenal sejarah, mencintai budaya, dan siap menghadapi masa depan. (WTD)











