Berita

Sosial Media : Teman Tumbuh atau Sumber Insecure? Gen Z bicara Jujur

×

Sosial Media : Teman Tumbuh atau Sumber Insecure? Gen Z bicara Jujur

Sebarkan artikel ini

EKSPRESNEWS – Bagi Gen Z, media sosial bukan sekadar hiburan. Ia telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari—sebagai sumber inspirasi, ladang penghasilan, hingga tempat mencurahkan isi hati dan menjalin koneksi sosial.

Sebanyak 81% Gen Z menghabiskan lebih dari satu jam sehari di media sosial, dan lebih dari setengahnya bahkan menghabiskan waktu lebih dari tiga jam per hari. Platform seperti Instagram, YouTube, dan TikTok menjadi yang paling populer di kalangan mereka. Selain untuk hiburan, media sosial juga digunakan sebagai alat untuk mencari informasi, membaca berita, mengekspresikan opini, hingga membentuk identitas diri secara digital.

Namun di balik fitur yang menyenangkan, media sosial juga menyimpan sisi gelap yang tidak jarang memengaruhi kondisi emosional dan kesehatan mental para penggunanya, khususnya anak muda.

Untuk menggali lebih dalam mengenai pandangan Gen Z terhadap terang dan gelapnya dunia digital, kami berbincang dengan Casandara (19 tahun), seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi yang aktif di berbagai platform seperti Instagram dan TikTok.

Menurut Casandara, media sosial adalah ruang ekspresi yang membebaskan. Ia merasa nyaman membagikan ide dan karya secara digital, serta sering menemukan motivasi dari konten yang ia konsumsi.
“Aku suka baca beberapa kutipan di sosmed. Kadang, dari tulisan-tulisan itu aku bisa semangat lagi, bahkan jadi mikir dua kali—kayaknya bener juga, ya,” ungkapnya sambil tersenyum.

Namun, seperti dua sisi mata uang, ia juga merasakan tekanan yang muncul dari ekspektasi sosial di media sosial. Standar kecantikan, gaya hidup, dan citra “sempurna” sering kali memengaruhi kepercayaan dirinya.

“Kadang aku overthinking duluan sebelum posting. Takut fotonya jelek, takut diliat aneh. Terus mikir, kok orang lain bisa bagus banget ya pake baju kayak gitu, sementara kalau aku kayaknya nggak cocok,” tuturnya.

Fenomena ini disebut sebagai social comparison trap—jebakan perbandingan sosial yang tanpa sadar membuat seseorang merasa kurang berharga. Casandara menyadari bahwa walau media sosial bisa menjadi ruang tumbuh, terlalu lama berada di dalamnya bisa membuatnya terjebak dalam ekspektasi yang tak realistis.

Untuk menjaga kesehatan mental, ia pernah mencoba melakukan detoks digital—tidak membuka media sosial sama sekali selama satu minggu. Hasilnya sangat terasa.

“Ternyata nggak scroll sosmed selama beberapa hari bikin aku lebih produktif. Waktu yang biasanya habis buat main sosmed, bisa dipakai buat hal lain yang lebih bermanfaat,” ujarnya.

Menurut Casandara, kunci dari hubungan yang sehat dengan media sosial adalah keseimbangan. Ia percaya bahwa jeda sejenak dari dunia digital bukan berarti ketinggalan, tapi justru bisa menjadi cara terbaik untuk kembali terhubung dengan diri sendiri. “Kadang, disconnect sebentar adalah bentuk koneksi terbaik—dengan diri sendiri,” pungkasnya.

 

Najwa Yusya 

Mahasiswi D4 Bahasa Inggris Politeknik Negeri Padang.