Berita

Pesan Warga Mentawai untuk Bupati Baru: Butuh Rumah Duka dan Peningkatan Kapasitas Rumah Singgah

×

Pesan Warga Mentawai untuk Bupati Baru: Butuh Rumah Duka dan Peningkatan Kapasitas Rumah Singgah

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa bersama warga Mentawai berdiskusi di rumah singgah di Jalan Azizi, Padang, 25 Juli 2025.
Mahasiswa bersama warga Mentawai berdiskusi di rumah singgah di Jalan Azizi, Padang, 25 Juli 2025.

EKSPRESNEWS – Sudah lebih 5 bulan Kabupaten Kepulauan Mentawai menjalani masa pemerintahan dengan Bupati Rinto Wardana Samaloisa dan Wakil Bupati Jakop Saguruk yang menjabat sejak 20 Februari 2025 silam. Dalam kurun waktu tersebut, program-program pelayanan sosial dan kesehatan untuk Mentawai sudah mulai terlaksana: rumah singgah warga Mentawai di Kota Padang dan ambulans laut. Atas dasar itu, beberapa warga Mentawai menyampaikan apresiasi, harapan, sekaligus kritik dan saran terhadap pemerintahan daerah.

“Dengan keberadaan rumah singgah, kami masyarakat Mentawai sangat bersyukur, berterima kasih kepada Pak Bupati. Kalau soal keterbatasan, kita akui masih ada. Satu kamar ada satu hingga dua pasien bersama keluarganya. Jadi diperlukan sekarang, penambahan kamar,” ungkap warga asal Pulau Sipora, Arly Mendey Samaloisa ketika EkspresNews temui di rumah singgah, Jalan Azizi, Kota Padang pada 25 Juli 2025.

“Keadaan merasakan manfaat dari kebijakan ini. Saya sudah 3 bulan di sini. Sebelumnya kami mengontrak di luar sana dengan biaya Rp1 juta per bulan. Dengan rumah yang sempit, jauh dari kenyamanan untuk pasien,” lanjut Pendeta Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM) tersebut.

Ia juga mengharapkan ketersediaan alat masak yang lebih banyak di rumah singgah. “Sejauh ini memakai peralatan sendiri. Untuk masyarakat lebih banyak, tentu kita butuh lebih,” jelasnya. Bahkan jika pasien beserta pendamping sudah lebih banyak yang datang ke rumah singgah, diperlukan penambahan dapur serta fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK).

Sejauh ini, menurutnya sudah ada puluhan warga Mentawai yang sudah datang ke rumah singgah. Jika memungkinkan, ia pun mengharapkan adanya anggaran untuk membantu transportasi pasien ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan. “Tentu kita juga memaklumi semuanya butuh proses,” sambungnya.

Barsinius Saleleubaja (65), pasien pengobatan asal Desa Saumanganya, Pulau Sipora juga turut menyampaikan apresiasinya atas keberadaan rumah singgah. “Kita jadi lebih terbantu. Sudah 3 minggu saya di Padang, berobat. Keinginan kita supaya diperbanyak kamarnya. Karena harapan kita Mentawai cuma ini, satu tempat ini. Kita bersyukurlah,” tuturnya pada 25 Juli 2025.

Harapan serupa juga disampaikan oleh salah seorang pendamping pasien, Marina (45) asal Desa Saliguma, Siberut. “Harapan kita sama. Kita kan baru pertama datang dan nginap di sini,” ungkapnya.

Saran yang Sudah Bertahun-Tahun Muncul dari Mahasiswa

Markolinus Sagulu (28), Ketua Forum Mahasiswa Mentawai Sumatera Barat (Formma Sumbar) mengakui pihaknya telah menyampaikan kebutuhan ambulans laut dan rumah singgah bagi warga Mentawai sejak bertahun-tahun lalu. “Baru hari ini ada terobosan baru dalam aksi sosial sesuai dengan saran-saran kita. Harapan ke depannya kita tingkatkan lagi aksi sosial seperti ini melalui kolaborasi dengan berbagai jejaring,” ungkap Marko kepada EkpresNews, 7 Agustus 2025.

Ia juga mengapresiasi keberadaan kuota khusus bagi pasien rujukan dari Mentawai untuk menggunakan transportasi umum secara gratis. Namun dalam penerapannya, menurutnya perlu ada peningkatan. “Kemarin ada yang menyampaikan ke saya, kalau ada yang dirujuk dari Mentawai, sudah jelas gratis transportasinya dengan kapal umum. Namun untuk dari Padang ke Mentawai, itu yang belum pasti,” imbuhnya.

Apresiasi terhadap program-program baru Pemerintah Kabupaten Mentawai turut disampaikan salah satu anggota Formma, Matheus Kanapui Samaurau (28). “Ini menjadi suasana baru di Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Mentawai. Dari awal sudah kita suarakan juga mengenai pentingnya ambulans laut dan rumah singgah, sehingga mampu mengatasi keterbatasan biaya dari masyarakat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan alasan Formma selalu menyuarakan peningkatan layanan sosial dan kesehatan bagi masyarakat Mentawai. “Misalnya dalam pemulangan jenazah. Sudahlah masyarakat kita ini berduka, ditambah lagi anggaran sekitar Rp15 juta untuk pemulangan jenazah, mungkin jadi ‘mengalami duka dua kali’. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman kami, biaya hingga sekitar Rp15 juta itu termasuk untuk transportasi dan biaya lainnya,” tutur pemuda yang biasa dipanggil Kana.

“Sehingga dengan kebijakan ini bisa membantu mengurangi duka masyarakat. Dan terkait kebijakan ini, kami dari Formma bersyukur. Artinya kehadiran pemerintah nampak di masyarakat. Kami hanya membantu menghubungkan masyarakat dengan pemerintah,” sambungnya.

Warga Mentawai Butuh Rumah Duka

Selain mengapresiasi program-program baru dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Arly Mendey Samaloisa sebagai warga asal Sipora yang juga melayani masyarakat sebagai pendeta GKPM juga menyampaikan kebutuhan mendesak kehadiran rumah duka di Padang bagi warga Mentawai,

“Selama ini memang salah satu lokasi penempatan jenazah dari masyarakat Mentawai ada di GKPM. Tapi ada seperti kasus yang kemarin, dua minggu berlalu, ketika GKPM melangsungkan ibadah tidak mungkin ditempatkan jenazah di sana, jadi jenazah terpaksa ditempatkan di rumah singgah. Namun sebenarnya tidak bisa dicampur rumah duka dengan rumah singgah,” ungkapnya.

Selain alasan etis, ia menjelaskan aroma formalin dari jenazah dalam waktu lama juga mengurangi kenyamanan warga di rumah singgah. Sehingga ia mengharapkan, pada era Bupati Rinto Wardana Samaloisa, kebutuhan itu dapat difasilitasi oleh pemerintah. (DB)