Teknologi

Dari Modal Kecil hingga Jadi Orang Terkaya Dunia: Begini Perjalanan 10 Miliarder

×

Dari Modal Kecil hingga Jadi Orang Terkaya Dunia: Begini Perjalanan 10 Miliarder

Sebarkan artikel ini

EKSPRESNEWS – Menjadi salah satu orang terkaya di dunia bukan berarti selalu dimulai dari modal yang sangat besar. Sejumlah miliarder justru membangun bisnisnya dari perusahaan kecil, kamar asrama, bahkan dengan modal hanya sekitar US$1.000.

Di balik kekayaan ratusan miliar dolar yang mereka miliki saat ini, terdapat perjalanan bisnis yang panjang. Mereka membangun perusahaan, mempertahankan kepemilikan saham, kemudian menyaksikan nilai perusahaan berkembang berkali-kali lipat.

Berikut perjalanan 10 orang terkaya dunia yang menarik untuk diketahui.

1. Elon Musk: Dari Zip2 hingga SpaceX dan Tesla

Elon Musk mulai membangun bisnis ketika berusia sekitar 24 tahun. Bersama saudaranya, Kimbal Musk, ia mendirikan Zip2 pada 1995.

Zip2 menyediakan layanan dan konten online untuk perusahaan media. Perusahaan tersebut kemudian diakuisisi pada 1999 dan memberikan Musk modal besar untuk melanjutkan perjalanan bisnisnya.

Musk kemudian mendirikan X.com yang berkembang menjadi PayPal. Setelah PayPal dijual kepada eBay pada 2002, Musk menggunakan sebagian besar kekayaannya untuk membiayai perusahaan-perusahaan berikutnya.

Ia kemudian menjadi tokoh utama di Tesla dan mendirikan SpaceX. Di kemudian hari, portofolionya semakin luas melalui perusahaan seperti Neuralink, The Boring Company dan xAI.

Kekayaan Musk kemudian terutama berasal dari nilai kepemilikannya di berbagai perusahaan tersebut.

2. Larry Page: Google Berawal dari Proyek di Stanford

Larry Page mulai mengembangkan Google bersama Sergey Brin ketika mereka masih menjadi mahasiswa doktoral di Stanford University.

Keduanya mengembangkan teknologi pencarian yang kemudian dikenal melalui algoritma PageRank. Pada 1998, Google resmi didirikan.

Salah satu pendanaan awal Google yang terkenal adalah investasi US$100.000 dari Andy Bechtolsheim, salah satu pendiri Sun Microsystems.

Dari sebuah proyek mesin pencari, Google berkembang menjadi perusahaan teknologi global yang menaungi berbagai layanan dan kemudian menjadi bagian dari Alphabet.

Page mempertahankan kepemilikan sahamnya. Ketika nilai Google dan Alphabet meningkat drastis, nilai kekayaannya ikut melonjak.

3. Jeff Bezos: Memulai Amazon dari Bisnis Buku

Jeff Bezos mendirikan Amazon pada 1994 ketika berusia sekitar 30 tahun.

Pada awalnya, Amazon bukanlah raksasa teknologi seperti sekarang. Bisnis tersebut dimulai sebagai toko buku online.

Bezos melihat pertumbuhan penggunaan internet dan menyadari bahwa internet dapat digunakan untuk menjual berbagai macam produk.

Orang tua Bezos juga memberikan dukungan finansial terhadap usaha tersebut.

Amazon kemudian berkembang dari toko buku menjadi marketplace global, layanan cloud melalui Amazon Web Services, bisnis logistik, perangkat elektronik dan berbagai layanan digital.

Kepemilikan Bezos terhadap Amazon menjadi sumber utama kekayaan yang kemudian membawanya masuk jajaran orang terkaya dunia.

4. Sergey Brin: Membangun Google Bersama Page

Sergey Brin bertemu Larry Page di Stanford pada pertengahan 1990-an. Keduanya kemudian bekerja sama mengembangkan mesin pencari yang awalnya bernama BackRub.

Pada 1998, Google lahir.

Seperti Page, kekayaan Brin bukan berasal dari keuntungan pribadi yang besar pada tahap awal. Kekayaan tersebut terutama terbentuk karena kepemilikan sahamnya di Google yang kemudian berkembang menjadi Alphabet.

Google selanjutnya berkembang dari mesin pencari menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia.

5. Michael Dell: Modal Sekitar US$1.000

Kisah Michael Dell menjadi salah satu contoh menarik tentang bagaimana bisnis dapat dimulai dari modal yang relatif kecil.

Ketika berusia 19 tahun dan masih kuliah, Dell mulai menjual dan merakit komputer dari kamar asramanya.

Modal awal yang sering disebut dalam kisah pendirian bisnisnya adalah sekitar US$1.000.

Dell melihat adanya peluang untuk menjual komputer langsung kepada konsumen tanpa terlalu bergantung pada jaringan toko dan distributor.

Model penjualan langsung tersebut membuat perusahaan dapat menawarkan komputer dengan konfigurasi sesuai kebutuhan pelanggan.

Bisnis berkembang pesat dan kemudian menjadi Dell Technologies.

Nilai kepemilikan saham Dell dan investasi lainnya membuat Michael Dell masuk dalam jajaran orang terkaya dunia.

6. Mark Zuckerberg: Facebook Dimulai Saat Berusia 19 Tahun

Mark Zuckerberg mendirikan Facebook pada 2004 ketika berusia sekitar 19 tahun.

Pada awalnya Facebook dibuat sebagai jejaring sosial untuk mahasiswa Harvard.

Dari lingkungan kampus, Facebook berkembang ke universitas lain dan akhirnya dibuka untuk masyarakat umum.

Pertumbuhan jumlah pengguna membuat platform tersebut menjadi sangat menarik bagi pengiklan.

Facebook kemudian membeli Instagram dan WhatsApp dan selanjutnya perusahaan induknya berganti nama menjadi Meta.

Zuckerberg mempertahankan kepemilikan saham dan hak suara yang besar di perusahaan tersebut.

Ketika Meta berkembang menjadi perusahaan teknologi global, nilai saham yang dimilikinya ikut meningkat secara luar biasa.

7. Larry Ellison: Oracle Dimulai dengan Modal Sekitar US$2.000

Larry Ellison mempunyai perjalanan yang berbeda.

Pada 1977, Ellison bersama Bob Miner dan Ed Oates mendirikan perusahaan yang awalnya bernama Software Development Laboratories.

Ellison sebelumnya bekerja sebagai programmer.

Modal awal yang digunakan oleh para pendiri tersebut relatif kecil. Ellison pernah menjelaskan bahwa mereka menggunakan sekitar US$2.000 uang sendiri.

Bisnis mereka berfokus pada perangkat lunak database.

Perusahaan tersebut kemudian berkembang menjadi Oracle, salah satu perusahaan software enterprise terbesar dunia.

Nilai kepemilikan saham Ellison di Oracle kemudian menjadi sumber utama kekayaannya.

8. Jensen Huang: Dari Perusahaan Chip hingga Revolusi AI

Jensen Huang mendirikan NVIDIA pada 1993 bersama Chris Malachowsky dan Curtis Priem. Saat itu Huang berusia sekitar 30 tahun.

Pada masa awalnya, NVIDIA dikenal terutama melalui teknologi grafis komputer dan gaming.

Perusahaan kemudian mengembangkan GPU yang semakin kuat dan teknologi CUDA untuk komputasi paralel.

Perkembangan kecerdasan buatan mengubah posisi GPU menjadi sangat strategis.

Pelatihan model AI membutuhkan kemampuan komputasi dalam jumlah besar dan GPU NVIDIA menjadi salah satu komponen penting dalam ekosistem tersebut.

Lonjakan permintaan terhadap teknologi AI kemudian menyebabkan nilai NVIDIA meningkat sangat besar.

Huang, sebagai salah satu pendiri dan pemegang saham besar, ikut memperoleh manfaat dari kenaikan tersebut.

9. Steve Ballmer: Bukan Pendiri, tetapi Menjadi Miliarder dari Microsoft

Steve Ballmer mempunyai cerita yang berbeda dari sebagian besar nama dalam daftar ini.

Ia bukan pendiri Microsoft.

Ballmer bergabung dengan Microsoft pada 1980, ketika perusahaan tersebut masih berada pada tahap awal perkembangannya.

Ia direkrut oleh Bill Gates dan kemudian menduduki berbagai posisi penting sebelum akhirnya menjadi CEO Microsoft pada 2000.

Kekayaannya terutama berasal dari kepemilikan saham Microsoft yang diperolehnya selama perjalanan panjang bersama perusahaan tersebut.

Ini menunjukkan bahwa seseorang tidak harus menjadi pendiri perusahaan untuk membangun kekayaan luar biasa.

Bergabung sangat awal, memperoleh kepemilikan saham dan ikut membesarkan perusahaan juga dapat menghasilkan kekayaan yang sangat besar.

10. Amancio Ortega: Membangun Zara dari Industri Tekstil

Amancio Ortega berasal dari dunia yang berbeda dari para miliarder teknologi.

Ia memulai perjalanan bisnisnya dari industri tekstil.

Pada 1960-an, Ortega mulai mengembangkan bisnis manufaktur pakaian. Pada 1970-an, ia membangun perusahaan yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan menuju Inditex.

Pada 1975, Zara mulai berdiri sebagai bisnis ritel.

Kekuatan model bisnis Zara terletak pada kemampuannya merespons perubahan tren fashion dengan cepat.

Inditex kemudian berkembang menjadi salah satu perusahaan fashion terbesar dunia dengan berbagai merek.

Selain kepemilikan saham Inditex, Ortega juga membangun portofolio investasi properti dalam skala besar.

Bukan Modal Besar yang Menjadi Faktor Utama

Jika melihat perjalanan 10 miliarder tersebut, terdapat satu kesamaan yang menarik.

Sebagian besar tidak menjadi sangat kaya karena menerima gaji besar.

Kekayaan mereka terutama terbentuk dari kepemilikan terhadap perusahaan yang mereka bangun atau mereka masuki sejak awal.

Michael Dell memulai bisnisnya dengan sekitar US$1.000. Larry Ellison menyebut pendirian awal Oracle menggunakan sekitar US$2.000 uang sendiri.

Sementara Google memperoleh investasi awal US$100.000, dan Amazon dibangun dengan dukungan modal dari Bezos serta keluarganya.

Namun modal awal hanyalah bagian kecil dari perjalanan tersebut.

Yang jauh lebih menentukan adalah kemampuan mengembangkan bisnis sehingga nilainya meningkat berkali-kali lipat.

Dari Bisnis Kecil Menjadi Ekosistem

Perjalanan mereka juga memperlihatkan pola yang sama:

Modal → bisnis → pelanggan → pertumbuhan → kepemilikan saham → ekspansi → nilai perusahaan meningkat.

Google tidak berhenti sebagai mesin pencari.

Amazon tidak berhenti sebagai toko buku.

Facebook tidak berhenti sebagai jejaring sosial mahasiswa.

NVIDIA tidak berhenti sebagai perusahaan grafis komputer.

Dan Tesla tidak hanya menjadi perusahaan mobil listrik.

Perusahaan-perusahaan tersebut terus masuk ke pasar baru sehingga menciptakan sumber pertumbuhan baru.

Pelajaran bagi Pengusaha Kecil

Kisah tersebut bukan berarti setiap bisnis bermodal kecil akan berubah menjadi perusahaan raksasa.

Namun ada satu hal yang dapat dipelajari: besar kecilnya modal awal bukan satu-satunya faktor yang menentukan skala sebuah perusahaan.

Model bisnis yang dapat diperbesar, kemampuan menemukan pasar, inovasi, efisiensi dan terutama kemampuan mempertahankan kepemilikan terhadap bisnis dapat menjadi faktor penting dalam pembentukan kekayaan jangka panjang.

Pada akhirnya, kekayaan para miliarder tersebut bukan sekadar hasil dari uang yang mereka hasilkan setiap tahun.

Sebagian besar merupakan nilai kepemilikan mereka terhadap perusahaan yang telah tumbuh menjadi sangat besar. (Yudi Hadinata)