Artikel oleh Dosen Fakultas Farmasi Universitas Andalas Dr. apt. Dwisari Dillasamola, M. Farm
EKSPRESNEWS – Siapa sangka temulawak dan jahe, yang biasanya disajikan dalam bentuk jamu dengan rasa pahit dan aroma menyengat, kini hadir dalam bentuk permen gummy yang manis, kenyal, dan lebih digemari? Inovasi unik ini diperkenalkan oleh tim Fakultas Farmasi Universitas Andalas kepada masyarakat Nagari Sipinang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, pada Jumat (27/6/2025).
Kegiatan ini bukan sekadar demo masak biasa. Lewat program pengabdian masyarakat, tim dosen dan mahasiswa ingin membuka wawasan warga tentang camilan fungsional yang tak hanya enak, tapi juga bermanfaat untuk kesehatan, khususnya sebagai imunomodulator atau penguat sistem kekebalan tubuh. Program ini selaras dengan tren global functional food, yaitu makanan yang tak sekadar mengenyangkan, tetapi juga memberi manfaat kesehatan tambahan.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim yang terdiri dari Dr. apt. Dwisari Dillasamola, M.Farm, Dr. apt. Syofyan, M.Farm, Prof. apt. Armenia Nazar, MS, P.hD, Hana Syakira, Rada Anjeli, dan Aditio. Kehadiran mereka menjadi motor penggerak kegiatan edukatif sekaligus demonstrasi langsung kepada masyarakat.
Acara dimulai dengan penyuluhan seputar pentingnya menjaga imun tubuh melalui pola makan sehat. Dr. apt. Dwisari Dillasamola, M.Farm., menjelaskan manfaat temulawak dan jahe yang sudah terbukti mampu meningkatkan daya tahan tubuh. Materi dilanjutkan dengan “10 Tips Hidup Sehat” oleh Prof. Armenia, Ph.D., sebelum akhirnya memasuki sesi yang paling ditunggu warga: praktik langsung membuat permen gummy herbal. Peserta tidak hanya menyimak, tetapi ikut menakar bahan, mencampur ekstrak temulawak dan jahe dengan gelatin serta pemanis alami, hingga menuangkan ke cetakan. Hasilnya, permen herbal sehat yang langsung bisa dicicipi bersama.
Partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci keberhasilan kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang signifikan. Sebelum penyuluhan, hanya 40 persen peserta yang mengetahui manfaat imunomodulator. Setelah kegiatan, angkanya naik menjadi 85 persen. Peserta terlihat antusias, bahkan sebagian menyatakan akan mencoba membuat kembali permen herbal ini di rumah.
Selain sehat, permen gummy ini juga dinilai punya potensi besar sebagai produk usaha rumahan. Proses pembuatannya sederhana dan bisa dilakukan dengan peralatan dapur biasa. Bahkan, untuk mendukung keberlanjutan program, tim menyerahkan satu unit blender kepada pemerintah nagari agar warga bisa terus berlatih dan memproduksi gummy secara mandiri. Warga yang hadir pun mengaku tertarik menjadikan permen herbal ini sebagai ide usaha kecil.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa edukasi kesehatan bisa dikemas dengan cara kreatif dan menyenangkan. Temulawak dan jahe yang melimpah di sekitar nagari kini bisa diolah menjadi camilan sehat bernilai tambah. Melalui inovasi ini, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga termotivasi untuk mengembangkan produk herbal sebagai peluang usaha. Dengan pendampingan berkelanjutan, permen gummy herbal diharapkan dapat berkembang menjadi produk unggulan yang menyehatkan sekaligus memperkuat perekonomian lokal. (*)











