EKSPRESNEWS – Universitas Andalas (Unand) mengaku akan berkomitmen menjadi perguruan tinggi yang terkemuka dan bermartabat. Sekiranya narasi tersebut hanya slogan semata dan gaya-gayaan saja.
Hal tersebut diungkapkan oleh Miranda Syofia, salah seorang pemerhati pendidikan saat membaca surat yang ditanda tangani Wakil Rektor III Kurnia Warman, perihal Penyampaian Hasil Seleksi Pengangkatan Tenaga Kependidikan Calon Pegawai Tetap Universitas Andalas.
“Jadi slogan Unand Bermartabat, silakan cek di websitenya, adalah gaya-gayaan saja. Sebab dari 800 tendik lantas diangkat 70, sisa 730 orang yang nasibnya sial. Kapan ini mau diangkat oleh Rektorat ? Lagi-lagi, ini kan amanat dari PTNBH yang sudah dinikmati oleh pejabat Unand,” katanya.
Kata Miranda, Rektor dan jajarannya yang katanya sering meminta orang beritikat baik, tunjukkan itikat baik dengan memberi kejelasan dan kepastian kepada sisa tendik yang belum diangkat.
“Kalian itu berada diranah akademik yang mengedepankan moral. Kalau pejabat di Unand tidak menunjukkan itikat baik dan bermoral, lantas apa yang diajarkan oleh pejabat Unand yang notabene juga dosen kepada mahasiswanya?” ungkapnya.
Menurut Miranda, itikat baik Rektor dan jajarannya seperti pepesan kosong belaka. Dugaan nepotisme pengangkatan 70 tendik pun mengisi ruang diskuis publik sehingga jika Rektor nantinya kembali berjanji akan melakukan pengangkatan ditengah tahun 2026, jangan langsung dipercaya, kata Miranda.
“Minimal ada surat pernyataan tertulis bermaterai, bahwa akan diangkat pada tengah tahun 2026, sebanyak sekian tendik dan yang memenuhi kriteria ini ini dan ini. Seperti ini baru ada itikat baik, jangan asal melantung itikat baik saja Pak Rektor dan jajarannya. Malu lah sedikit,” katanya lagi.
Sementara itu sebelumnya diberitakan dugaan nepotisme pengangkatan 70 dari 800 Tenaga Kependidikan (Tendik) Universitas Andalas menjadi tanda tanya besar bagi banyak kalangan. Apalagi amanat alih status dari pegawai tidak tetap menjadi pegawai tetap adalah syarat Unand mendapatkan status PTNBH makin dirusak akibat dugaan kongkalingkong nepotisme dalam pusaran kemunafikan. Rektor tutup mata ?
Hal tersebut diungkapkan Ramon Firmansyah saat menelisik surat keputusan Rektor terkait pengangkatan 70 tendik dipenghujung tahun 2025 itu. “Berlagak elit dan profesional tapi minim dengan empati serta keadilan sosial. Itulah realita kaum borjuis saat menahkodai perguruan tinggi, naif dan penuh dengan aroma nepotisme,” ungkapnya saat dijumpai di parkiran Rektorat Unand, Rabu 28 Januari 2026.
Ramon mengatakan bahwa surat keputusan rektor terkait pengangkatan tendik Unand tersebar luas yang bisa ditelaah satu persatu. “Bukan dalam artian tidak bersyukur ada tendik yang dialih status dari pegawai tidak tetap menjadi pegawai tetap, melainkan bagaimana cara berpikir tim seleksi hingga unsur pimpinan yang terlibat,” katanya.
Disini kata Ramon, diduga praktek culas nepotisme dengan mengalih status tendik yang memiliki unsur kedekatan bahkan kekeluargaan. “Arogansi pimpinan universitas yang merasa menjabat sehingga kebijakan pengangkatan juga tidak masuk akal. Apakah sejauh ini para tendik secara keseluruhan mengetahui syarat atau unsur yang ditetapkan oleh tim seleksi, nah disini praktek nepotisme itu,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Unand Efa Yonnedi yang dikonfirmasi melalui pesan WA hingga berita ini tayang tidak memberikan respon apapun kendati pesan tersebut telah tersampaikan ke akun WAnya. (Abdi)











