Berita

Krisis Keteladanan Seorang Wakil Rakyat Dari KNPI Sumbar

×

Krisis Keteladanan Seorang Wakil Rakyat Dari KNPI Sumbar

Sebarkan artikel ini

EKSPRESNEWS – Kepercayaan publik atau masyarakat terhadap para wakil rakyat kini telah mulai menurun. Mungkinkah sorotan ini akan berkembang dan tertuju kepada internal Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumatera Barat.

Organisasi pemuda yang seharusnya menjadi wadah berhimpun dan pembinaan bagi generasi muda, justru tengah mengalami keterpurukan. Terutama periode kepengurusan tahun 2022–2025, DPD KNPI Sumbar nyaris mengalami tidak terurus lagi.

Mencuaknya nama Nanda Satria, sebagai Ketua KNPI Sumbar yang mana sekaligus merupakan anggota dewan Provinsi Sumbar, kini menjadi sorotan bagi sebagian organisasi kepemudaan. Sejak awal Januari hingga September tahun 2025, Nanda sapaan akrabnya disebut tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki ke sekretariat DPD KNPI Sumbar tersebut.

Baca : KNPI Sumbar Gersang Dan Memprihatinkan, Siapa Yang Bertanggung Jawab…???

Salah seorang Pemuda yang kadang-kadang nongkrong di kantin KNPI Sumbar, mengatakan kepada kami “Dari awal tahun sampai sekarang, dia tidak pernah datang untuk melihat,” ujarnya.

Ini merupakan bukti ketidak pedulian tersebut sangat terlihat jelas di depan mata. Mushalla tempat menunaikan ibadah pemuda dan beberapa masyarakat di sekitar kompleks DPD KNPI Sumbar mulai memprihatinkan, atapnya telah bocor, lotengnya rusak. Kendaraan KNPI sebagai operasional sekretariat kini telah menyerupai besi tua tak terawat di karenakan ban yang telah bocor.

Fasilitas internet sebagai penunjang kegiatan telah terputus karena menunggak. Bahkan mungkin PDAM bernasib yang sama..!!! Pertanyaan pun mulai menyeruak, di karenakan kondisi yang terjadi. Apakah DPD KNPI Sumbar memang tidak mendapatkan anggaran, ataukah anggaran itu tidak digunakan sebagaimana mestinya.?

Sebagian aktivis yang pernah berkecimpung dan berkiprah di DPD KNPI Sumbar sampai menuding bahwasanya organisasi ini hanya dijadikan sebagai batu loncatan politik demi memenuhi hasrat Nanda. Setelah sukses melenggang ke kursi legislatif, perhatian terhadap organisasi yang membesarkan namanya seiring berjalan waktu mulai memudar. “Karena seperti dibiarkan mati,” ujar seorang salah satu mantan pengurus.

Fenomena ini terjadi di tengah menurunnya kepercayaan masyarakat kepada anggota legislatif. Publik Sumbar khusunya kota Padang yang pernah menaruh harapan pada Nanda kini berhadapan dengan kenyataan pahit, seorang pemimpin muda yang dulu dielu-elukan bahkan di gadang-gadangkan dapat membuat perubahan terhadap organisasi kepemudaan dan untuk memenangkannya segala cara dilakukan bahkan sampai pengaturan pemilihan agar menang secara aklamasi ini, justru tampak abai terhadap organisasi yang telah membesarkan namanya.

KNPI, sebagai wadah berhimpun organisasi pemuda, seharusnya menjadi laboratorium kepemimpinan, tempat menanamkan nilai kepedulian dan pengabdian serta adab atau etika. Namun, jika pengurusnya sendiri tak memberi teladan, maka organisasi ini bisa kehilangan makna dan marwahnya.

Lebih dari itu, kasus DPD KNPI Sumbar dapat dijadikan cermin, jika seorang pemimpin tidak mampu merawat rumahnya sendiri, bagaimana ia bisa diharapkan mengurus rumah besar bernama negara.??

(KmK)