Berita

70 Dari 800 Tendik Unand Alih Status, Kalah Dengan Pegawai SPPG ?

×

70 Dari 800 Tendik Unand Alih Status, Kalah Dengan Pegawai SPPG ?

Sebarkan artikel ini

EKSPRESNEWS – Akhirnya 70 dari 800 lebih tenaga kependidikan pegawai tidak tetap Universitas Andalas diangkat jadi pegawai tetap sejak awal Januari 2026. Proses pemilihan 70 dari 800 lebih tendik dan proses penentuan alih status tidak dijelaskan oleh Unand secara rinci. Rektor diduga cuci tangan dari janji manisnya ? Diduga 70 tendik yang dialih status rata-rata punya “orang dalam” ?

Surat keputusan yang ditandatangani oleh Wakil Rektor III Unand Kurnia Warman tertanggal 31 Desember 2025 itu menyisakan suka dan duka dari banyak pihak. Perasaan senang tentu bersumber dari 70 tendik yang diangkat menjadi pegawai tetap, sedangkan duka dirasakan oleh tendik yang tidak diangkat oleh Unand.

“Yang pasti kita apresiasi Unand telah berusaha memakmurkan kesejahteraan tendik walau tidak maksimal, 800 total tendik, yang diangkat hanya 70 orang,” ungkap salah seorang sumber yang layak dipercaya di Unand beberapa waktu lalu.

Dalam sebuah pencapaian, menurutnya tidak terlepas dari kekhilafan dan kesalahan. Sebab, katanya lagi, 70 tendik yang diangkat rata-rata mempunyai power orang dalam.

“Berjujur-jujur saja, 70 yang diangkat yang pegawai tetap itu punya orang dalam yang membekingi. Minimal saudara dari istri si anu, atau anak mamak yang si anu, apalagi semua tendik secara keseluruhan tidak mendapatkan informasi yang terbuka dan jelas soal pengangkatan, salah satunya terkait masa jabatan,” ungkapnya.

Menariknya lagi, kata Tendik tersebut, pengangkatan yang seharusnya mengacu kepada syarat PTNBH menjadi galeboh karena pimpinan tidak mengangkat pegawainya. “Kementerian sudah ajukan pilihan untuk memilih masa transisi, tapi Unand waktu itu lebih memilih maju tak gentar. Eh, tapi sekarang malah berdalih tak punya kemampuan keuangan untuk mengangkat lagi,” tambahnya.

Bahkan, saat ini beredar informasi bahwa karyawan MBG Nasional yang tersebar 3000 orang di Indonesia malah diajukan menjadi PPPK yang baru memiliki masa kerja kurang dari setahun kerja.

“Ini artinya bos MBG lebih peduli terhadap anggotanya dibandingkan Rektor Unand yang lebih memilih pencitraan karena digadang-gadang jadi bakal calon gubernur, miris sekali nasib pegawai Unand ini kalau kami lihat,” tambahnya.

Dalam surat pengangkatan tersebut Kurnia Waman menginstruksikan kepada seluruh tenaga kependidikan untuk mematuhi kode etik sebagai tenaga kependidikan, yang kedua diminta untuk profesional dan meningkatkan kinerja, yang tiga diinstruksikan untuk loyal dan menjaga nama baik universitas sedangkan yang keempat, tendik diminta untuk memahami sanksi jika tidak patuh.

“Hebat sekali instruksinya, sebab rata-rata yang menjabat baru diberi pistol untuk menembak, tapi sudah mengatur laksana budak dan majikan. Padahal beban kerja dari pengatur itu pun terkadang dilimpahkan kepada si budak, malang nian para tendik Unand ini,” ujar Ramon Firmansyah, salah seorang pemerhati kebijakan publik ini.

Ramon mengatakan bahwa pengangkatan itu bisa digugat ke PTUN sebab tidak ada kejelasan bakal calon yang diangkat. Bahkan, kata Ramon, diduga banyak sekali pembeking-pembeking dan orang-orang dalam yang menjadi alat dari 70 tendik yang diangkat.

“Saya dengar kabar, tapi ini Unand harus segera klarifikasi. Didalam 70 orang tendik itu ada saudara dari istri pimpinan, ada anak kemenakan dari professor A, dan ada pula istri dari pejabat kampus, jadi makin tidak elok lagi suasana kampus yang harusnya mendidik bukan amburadul macam ini, malu pula para alumni jika begini cara Rektor Efa Yonnedi memimpin. Kalau tak sanggup mundur saja, jangan campur adukkan ranah akademis dengan ranah politik yang saudara Rektor jalani selama ini,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Universitas Andalas Aidinil Zetra yang didalam percakapan telfon WA sejak bencana galodo menghantam Sumbar sampai berita ini tayang lagi, tak kunjung memberikan keterangan. Lantas itikad baik siapa yang perlu dipertanyakan ? Duh puang. (Abdi)