EKSPRESNEWS – Mamamia Chaotic Club bersama Swara Showcase kembali mengadakan talkshow Swaratalk dan Swara Showcase di Lelucon Space, Kota Padang pada Rabu 6 Agustus 2025. Ajang ini beriringan dengan Electro Pop Tur oleh grup White Chorus. Dalam Swaratalk, Aditya Pratama Sony vokalis band Misanthropy Club dan Vando co founder Microgram Entertainment membagikan pengalaman dan pandangan mereka mengenai management musisi dan perihal jejaring ekosistem musik.
Kepada MC Diahayu Risqika Atmaja dan para pengunjung Swaratalk, Vando menceritakan latar belakangnya yang berasal dari Padang namun banyak menyerap wawasan tentang ekosistem musik di Bandung sejak ia berkuliah di Universitas Padjadjaran.
“Aku gemar membaca majalah-majalah musik dan subculture. Berangkat dari sana, ia jadi tertarik untuk mengetahui orang-orang yang bergerak di balik skena musik. Saya jadi tertarik untuk mengetahui orang-orang di balik ‘layar’. Majalah Trax itu orang-orangnya siapa aja ya, di Rolling Stone penulisnya siapa aja ya,” papar Vando.
Dengan keterlibatannya dalam sebuah unit kegiatan di kampus, ia pun terlibat mengorganisir sejumlah acara dan gigs musik. Keasyikan terlibat dalam dinamika acara-acara musik, ia pun terpikir untuk membuat label rekaman. “ Aku kepikiran, bikin management band atau agency aja kali ya. Karena yang paling penting di bidang ini adalah networking,” ungkap Vando.
Kemudian, Aditya yang akrab dipanggil Adyth turut membagikan pengalamannya sebagai vokalis, frontman, sekaligus internal manager Misathropy Club. “Pengalamanku untuk awal manage, biasanya tantangan itu di berjejaringnya. Misanthrophy Club itu mulainya 2019. Kita bermain di genre yang lumayan sidestream-nya sidestream. Mencampurkan metal dan elektronik dengan gaya aku sendiri. Kita tertantang untuk membuat orang notice kita, bukan hanya di Sumatera Barat,” paparnya.
Adyth sempat berkuliah di Bintaro dan mempelajari marketing (pemasaran). Pengalaman itu menurutnya turut membantunya dalam mengenalkan musiknya pada berbagai kalangan, mulai dari penikmat musik metal, elektronik, hingga hip-hop.
Ia turut menghadapi tantangan bermusik pada masa pandemi Covid-19, karena pada masa itu sangat kecil kemungkinan menampilkan musik secara live. Namun tantangan itu mampu ia hadapi dengan tetap memproduksi musik dan menyebarkannya melalui berbagai platform. Dalam proses kreatifnya, ia bersama kawan-kawan satu minat sempat membuat kolektif musik yang anggotanya berasal dari berbagai daerah seperti Padang, Bandung, Jogja, dan Bali, dan beberapa kota lainnya.
Kemudian, Cimay pendiri 3 AM Studio melontarkan pertanyaan untuk Adyth. “Sebagai musisi sidestream namun secara promosi sudah seperti mainstream, mengingat Misanthropy Club sudah sampai masuk nominasi AMI Award. Adit ternyata juga seorang PNS. Bagaimana cara membagi waktu antara ngeband dengan kerja kantoran? Apa tips dan triknya,” ucap Cimay.
“Jangan lupakan passion sejak dulu, kalau aku seperti itu. Jadi kerja itu semangat mengumpulkan ‘bahan’ untuk nge-band atau passion lainnya. Jadi diseimbangkan aja,” jawab Adyth. Ia juga menegaskan pentingnya dukungan komunitas dan jejaring dalam perkembangan suatu band atau musisi. Kendati Adyth bersama Misantrophy Club memulai pamornya melalui platform–platform online, namun ia tetap meyakini ajang-ajang offline sebagai cara paling efektif untuk membangun jejaring antar kota.
Setelah Swaratalk, berlangsung showcase-penampilan musik oleh musisi dan band lokal: Res-Q, Mustika, Sunflower, dan Brian Rahmattio. Lalu pengunjung tumpah ruah menikmati beat dan melodi electro-pop oleh White Chorus yang tengah menjalani tur ke berbagai kota di Indonesia (DB).











