Tingkat Ketidakpercayaan Masyarakat Mentawai Terhadap Covid-19 Tinggi

0

EkspresNews.com – Covid-19 pertama kali muncul pada tahun 2019. Sejak saat itu virus corona menyebar ke berbagai pelosok negeri bahkan di Kepulauan Mentawai. Penyebarannya kian hari makin melonjak.

Namun menilik kasus tersebut, rupanya tingkat ketidakpercayaan masyarakat Mentawai terhadap Covid-19 sangat tinggi. Masyarakat tidak percaya bahwa Covid-19 itu membahayakan jiwa.

Bahkan tak sedikit yang beranggapan jika Covid-19 tidak benar-benar ada dan menuding bahwa virus ini merupakan isu yang dibuat-buat oleh pemerintah.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan Mentawai, Lahmuddin Siregar menuturkan, Virus corona atau Covid-19 benar ada dan akan berbahaya apabila menginfeksi pasien dengan usia lanjut atau memiliki penyakit bawaan atau komorbid.

Sebab katanya, mayoritas kefatalan bahkan kematian pada pasien Covid-19 berhubungan dengan pasien yang memiliki riwayat penyakit penyerta.

“Ini adalah pandemi yang harus kita tangani secara bersama-sama dan tidak ada unsur bahwa penanganan ini adalah sesuatu yang dicari-cari. Dan virus ini akan berbahaya jika pasien memiliki penyakit penyerta” jelasnya.

Lanjutnya, fenomena masyarakat yang tingkat ketidakpercayaan pada Covid-19 diiringi dengan adanya informasi hoax yang beredar di medial sosial.

Berita bohong atau hoaks tentang Covid-19 yang ditelan mentah-mentah oleh masyarakat, ujarnya, juga akan membuat kerja para tenaga kesehatan serta Satags penanganan Covid-19 kian berat.

“Kadang-kadang adanya informasi hoax tentang Covid -19 yang beredar di medsos, jadi masyarakat juga terpengaruh” tuturnya.

Ia berharap, semua tokoh masyarakat, tokoh agama serta semua kalangan masyarakat turut ikut berpartisipasi mensosialisasikan bahwa ini merupakan pandemi yang harus ditangani secara bersama-sama.
“Jadi perlu kita semua ikut bersama-sama menyelesiakan persoalan ini. Dan ini bukanlah konspirasi” ujarnya.

Sementara itu menyingung kerahasiaan identitas pasien Covid-19 yang menjadi pertanyaan masyarakat selama ini, Lahmuddin menjelaskan, hal ini dilakukan merujuk pada UU Praktik Kedokteran no 29 tahun 2004 dalam Pasal 48 ayat 1, disebutkan setiap dokter dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib menyimpan rahasia kedokteran.

“Rekam medis merupakan rahasia kedokteran yang memuat identitas pasien yang harus disimpan dan dijaga kerahasiannya oleh rumah sakit atau dokter. Kecuali pasien sendiri yang menyebarkannnya” jelasnya.

Seperti diketahui pada Minggu (8/11) terjadi penambahan 16 kasus yang terkonfirmasi positif. Sementara hari ini Senin, (9/11) kembali bertambah 12 kasus lagi. Sehingga total kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19 di daerah yang dijuluki Bumi Sikerei itu capai 152 kasus. (N)

Comments

comments

About author

redaksi

Dalam perkembangannya, selain melakukan penyuntingan, secara umum redaktur juga bertugas memberikan pengarahan kepada reporter ketika peliputan ke tempat tertentu atau terhadap isu tertentu yang sedang hangat.