Study Komparatif, Wako Deri Asta komandoi 20 Insan Media Ke Kota Medan

SAWAHLUNTO, EKSPRESNEWS.COM – Diskominfo Kota Sawahlunto bersama 20 (dua puluh) orang awak media melakukan kunjungan ke Pemerintah kota Medan. Dibalut Studi Komparatif, kunjungan yang langsung dukomandoi Walikota Sawahlunto Deri Asta ini terkait regulasi pemberitaan dan kerjasama media medua yang ada.

Dalam sambutannya Walikota Medan, yang disampaukani oleh Sekretaris Daerah (Sekda), Wiriya Alrahman pada sambutanya menyampaikan ucapan selamat datang dan permohonan maaf dari Wali Kota karena jadwal yang berbenturan dengan kunjungan tamu dari pusat tapi berjanji akan menyempatkan hadir dalam pertemuan yang berlangsung di ruang rapat kantor walikota Medan, Jum’at 9 Juni 2023.
“Kota Medan adalah kota yang heterogen dengan jumlah penduduk sebanyak 2,5 juta jiwa lebih yang terdiri dari berbagai etnis suku dan bangsa, diantaranya yang terbanyak adalah suku Jawa (37%), kemudian juga Tionghoa, Batak, Minang, Melayu dan lainnya” kata Wiriya Al-rahman.
“Dalam penyebaran informasi serta sosialisasi dari berbagai kegiatan yang tengah berlangsung ataupun dalam kondisi tertentu lainnya, peran dari media massa sangat dominan dalam menjangkau masyarakat luas, baik itu skala daerah, Nasional dan Internasional”.
“untuk itu, pemerintah kota Medan melakukan kerjasama dengan berbagai media massa yang terdiri dari :
– 32 media cetak, RRI, TVRI , 1 TV Swasta lokal, 8 radio swasta dan 1 TV Nasional , 10 media online nasional dan 120 media online lokal

Menanggapi sambutan tersebut, Walikota Sawahlunto , Deri Asta mengucapkan rasa terimakasih atas penerimaan dari jajaran pemerintah kota Medan kepada rombongan awak media kota Sawahlunto yang dipimpinnya.

Ia menuturkan bahwa antara kota Sawahlunto dan Kota Medan miliki kesamaan, yaitu sama-sama didiamii oleh penduduk yang berasal dari beragam etnis suku dan bangsa.
“Hal itu terjadi berkat keberadaan tambang Batubara sejak jaman kolonial Belanda dimana dalam aktivitas eksplorasi hingga eksploitasi batubara pada tambang underground tertua di Asia Tenggara itu, Belanda mendatangkan pekerja dari luar daerah bahkan luar negri yaitu Cina, serta dari Jawa, Batak, Sulawesi dan lain lain” kata Deri Asta.
“Semua itu membawa berkah tersendiri dimana peninggalan dari berbagai fasilitas dan sarana prasarananya yang masuk dalam kategori cagar budaya, Kota Sawahlunto telah di tetapkan sebagai kota warisan dunia oleh UNESCO tanggal 6 Juli 2019 di BAKU, Azerbaijan”.

“Terimakasih kepada segenap jajaran pemerintahan kota Medan khususnya pada Wali kota atas sambutannya dalam kunjungan ini, kami mengundang bapak dan ibu sekalian untuk datang ke Sawahlunto sebagai kunjungan balasan” tutur Deri Asta.(Ab1)