Masyarakat Pesisir Selatan Masih Benahi Dampak Banjir, Risiko Belum Hilang

Sisa-sisa lumpur di Lubuk Nyiur, Batangkapas, Pesisir Selatan.
Dokumentasi Ekspres News (Daffa)

PESISIR SELATAN, EKSPRESNEWS.COM – Sabtu siang itu, 16 Maret 2024 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, cuaca tidak lagi mendung maupun hujan. Matahari cenderung terik. Namun di Nagari Lubuk Nyiur, Batangkapas, Pesisir Selatan sisa-sisa dari hujan deras hingga menyebabkan banjir sepekan silam masih membekas dalam genangan-genangan lumpur yang semakin padat.

Sebuah jembatan bahkan harus tertutup lumpur-lumpur yang sudah mengeras, sisa dari terjangan banjir. Tampak pemuda-pemuda kampung setempat menjaga jalan yang rusak tersebut sembari menuntun kendaraan yang hendak lewat di antara potongan kayu. Di tangan seorang pemuda tinggi berkulit legam, ada kardus yang kiranya bisa menerima uluran bantuan dari pengemudi yang lewat.

Sementara itu, di antara rumah-rumah masyarakat kampung yang masih bertalian darah dan kekerabatan matrilineal Minangkabau, lumpur-lumpur masih “menjajah”. Orang Minang menyebutnya “cirik aia” atau secara harfiah berarti sebagai “kotoran air”. Dampak dari banjir terburuk yang pernah menimpa masyarakat Batangkapeh (Batangkapas).

“Sebelumnya belum pernah banjir sedalam ini. Memang pernah banjir yang lumayan dalam pada sekitar 1998 dulu, tapi tidak sampai separah sekarang. Air sampai tergenang dalam rumah panggung,” ungkap Seni (79), perempuan asli Lubuk Nyiur kelahiran 1940-an.

Ironisnya, akses terhadap air bersih di lingkungan rumahnya pun jadi sulit selepas kampung itu menerima terjangan banjir. Air kran tidak lagi hidup, terpaksa harus menimba air dari sumur apabila butuh air bersih.

Warga lokal juga menduga di kawasan hutan di sekitar nagari tersebut juga terjadi pembalakan liar, sehingga berdampak pada meningkatnya risiko banjir. “Jembatan di Lubuk Nyiur ini bahkan bisa rusak karena banjir. Sementara mereka (pelaku pembalakan liar, red.) tidak tersentuh hukum,” ungkap Nafsil Diiri (56), warga Lubuk Nyiur.

Tanpa Perbaikan Lingkungan, Masyarakat Pesisir Selatan akan Terus Terancam Banjir

Cuaca ekstrim memang melanda Sumbar pada 7 Maret 2024 silam. Pesisir Selatan adalah salah satu kabupaten dengan dampak terparah. Di Kecamatan Tarusan, sebuah jembatan gantung tidak lagi membentang lurus dan aman untuk para pejalan maupun pengendara. Terlihat bahwa arus sungai yang dangat dalam lagi deras telah menghantamnya.

Kecamatan Sutera juga menjadi salah satu wilayah yang terdampak parah. Berdasarkan update informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pesisir Selatan, terdapat 25 korban meninggal dunia akibat banjir. Korban yang terakhir teridentifikasi adalah balita perempuan usia lima tahun, warga Nagari Gantiang Mudiak Utara, Kecamatan Sutera. Sedangkan 4 orang lagi masih hilang dan dalam pencarian.

Mengapa dampak cuaca ekstrim kali ini lebih parah mengancam masyarakat Pesisir Selatan daripada sebelumnya? Berdasarkan temuan Jaringan Independen Kehutanan (JPIK), salah satu pemicu banjir besar yang melanda sebagian wilayah Pesisir Selatan adalah deforestasi atau pengurangan kawasan hutan.

Tercatat dalam sejak tahun 2020 hingga 2022 Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) mengalami deforestasi sebesar 8118,304 Ha. Area yang mengalami deforestasi di Sumatera Barat pada umumnya dialih fungsikan sebagai lahan pertanian atau perkebunan.

Diketahui, TNKS juga mencakup sungai-sungai kecil yang bermuara ke Samuderan Hindia melalui wilayah Sumatera Barat. Pembukaan hutan dalam skala besar dapat mengurangi kemampuan penyimpanan dan daya tangkap air pada kawasan sekitar sungai tersebut, sehingga risiko bencana seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor ikut meningkat.

Sejalan dengan temuan JPIK tersebut, Kepala Departemen Advokasi dan Lingkungan Hidup Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumbar Tommy Adam juga menyampaikan bahwa deforestasi adalah faktor utama banjir di Pesisir Selatan.

Menurutnya, apabila defofrestasi atau pengurangan area hutan terus terjadi di kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) dan sekitarnya, maka bukan tidak mungkin masyarakat Pesisir Selatan akan terus terancam bahaya banjir.

“Jika tidak ada perbaikan, maka ancaman banjir akan selalu ada. Selain itu daerah aliran sungai (DAS) di Pesisir Selatan pada umumnya tergolong sempit. Sehingga aliran sungainya akan dalam dan debitnya tinggi ketika hujan ekstrim,” pungkasnya. (Daffa)