Hukum  

KPK Panggil Tiga Saksi Terkait Kasus Mardani Maming

JAKARTA, EKSPRESNEWS.COM – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), memanggil tiga saksi dalam penyidikan kasus dugaan korupsi terkait pemberian izin usaha pertambangan (IUP) di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan yang menyeret eks Bupati Tanah Bumbu Mardani Maming.

“Hari ini, pemeriksaan saksi tindak pidana korupsi pemberian izin usaha pertambangan di Kabupaten Tanah Bumbu untuk tersangka MM. Pemeriksaan dilakukan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta,” ujar Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri di Jakarta, Senin, 29 Agustus 2022.

Tiga saksi, yakni Direktur PT Permata Abadi Raya (PAR) tahun 2013-2020 Wawan Surya, Kabag Hukum Ditjen Minerba Kementerian ESDM tahun 2011 Fadli Ibrahim, dan Eka Risnawati selaku ibu rumah tangga.

KPK telah mengumumkan Mardani sebagai tersangka pada Kamis 28 Juli 2022. Dalam konstruksi perkara, KPK menjelaskan Mardani selaku Bupati Tanah Bumbu periode 2010-2015 dan periode 2016-2018, memiliki kewenangan, di antaranya memberikan persetujuan izin usaha pertambangan operasi dan produksi (IUP OP) di Tanah Bumbu.

Pada tahun 2010, KPK mengungkapkan salah satu pihak swasta, yaitu Henry Soetio selaku pengendali PT Prolindo Cipta Nusantara (PCN) bermaksud untuk memperoleh IUP OP milik PT Bangun Karya Pratama Lestari (BKPL) seluas 370 hektare yang berlokasi di Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu.

Agar proses pengajuan peralihan IUP OP bisa segera mendapatkan persetujuan Mardani, Henry Soetio diduga juga melakukan pendekatan dan meminta bantuan pada Mardani agar dapat memperlancar proses peralihan IUP OP dari PT BKPL ke PT PCN.

KPK menduga, Mardani menerima uang dalam bentuk tunai maupun transfer rekening dengan jumlah sekitar RP104,3 miliar, dalam kurun waktu 2014-2020.

Sementara itu, mantan Bupati Tanah Bumbu itu mengaku proses peralihan tersebut sudah sesuai prosedur.

“Masalah IUP itu sudah berjalan dan ada paraf kadis sebagai penanggung jawab, dan itu sudah disidangkan di Pengadilan Banjarmasin,” ungkap Mardani di Gedung KPK, Jakarta, Kamis 28 Juli lalu.

Dia juga menyatakan, bahwa kasus yang menjeratnya itu murni masalah urusan bisnis.

“Kedua yang dinyatakan gratifikasi itu murni masalah ‘business to business’. Tidak mungkin saya sebodoh itu melakukan gratifikasi melalui transfer, bayar pajak, dan sekarang itu dalam PKPU (penundaan kewajiban pembayaran utang), pengadilan utang piutang. Murni ‘business to business’,” tambah dia.

(Anugrah)