Hidup Hendro Berubah Setelah Ikut Pelatihan Membatik

0

PADANG PANJANG, EKSPRESNEWS.COM – Hidup saya berubah setelah ikuti pelatihan membatik.” Begitu kalimat pembuka yang disampaikan Hendro saat bincang-bincang dengan Kominfo, Sabtu (25/9). Dia adalah salah satu dari alumni peserta diklat yang diselenggarakan Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Disperdakop UKM) Kota Padang Panjang bersama Kementerian Perindustrian melalui Diklat Tri In One yang diadakan beberapa waktu

Hendro mengakui sebelum mengikuti pelatihan membatik, ia tidak pernah tahu setiap proses pembuatannya. Bahkan tidak pernah terbayang bagi dirinya untuk membatik. “Awal-awal masuk untuk diklat itu, memang ingin tahu dan memang lagi tidak ada pekerjaan. Saya dari nol mempelajari batik ini,” sebutnya. Setelah menerima ilmu dari diklat ini kurang lebih 21 hari, sebutnya, ternyata membatik ini mudah-mudah sulit. Tergantung dari niat dan keinginan saja.

Usai pelatihan Disperdakop mewadahinya melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB) Batik Rang Minang untuk melanjutkan pelatihan tersebut. Hingga saat ini dirinya bertahan membatik, dan bahkan banjir orderan.

Hendro tidak sendiri. Dia beserta timnya yang diketuai Mike Monalisa memulai membatik ini dari hasil uang pelatihan ditambah dengan kas timnya. Berkat keyakinan dan kegigihan mereka, akhirnya mereka banyak dapat orderan.

Salah satu yang membeli batik mereka adalah Ketua Dekranasda, dr. Dian Puspita Fadly Amran, Sp.Jp yang tertarik dan bangga dengan hasil KUB Batik Rang Minang ini. “Saya sangat bangga dan apresiasi sekali untuk anggota KUB Batik Rang Minang yang tekun dalam mempelajari batik khas Padang Panjang,” katanya.

Dokter Dian mengetahui mereka memang benar-benar belajar dari nol. “Alhamdulillah ada manfaat dari diklat Tri In One yang mereka ikuti. Hasilnya pun sangat berkualitas,” ucapnya. Dian mengaku dirinya sudah mengorder batik ke kelompok ini. “Baru berapa hari sudah disiapkan dengan baik. Hasilnya bagus. Warnanya bagus. Motifnya luar biasa. Pokoknya sesuai dengan permintaan kita,” tuturnya seraya mengimbau warga kota untuk menggunakan batik lokal karya Padang Panjang ini.

Sementara itu Kasi Promosi Disperdakop UKM, Azani Mizwar, M.I.Kom menjelaskan, lahirnya KUB Batik Rang Minang bermula dari diklat yang diadakan pihaknya itu. Dari 60 peserta, seusai pelatihan dibentuklah dua KUB, salah satu KUB Batik Rang Minang.

“Semua peserta saat itu diajarkan pelatihan batik tulis dan batik cat. Mulai dari pemilihan motif, disain, bahan dan pewarnaan. Para peserta ini benar-benar belum tahu sedikitpun tentang batik. Selama 21 hari mereka memulai dari nol diajarkan mencanting, memilih motif yang baik, hingga menjadi sebuah bahan batik jadi,” kata Azan.

Batik Rang Minang ini, kata Azan, sudah banyak orderan. Baik dari dalam kota maupun dari luar seperti Padang Pariaman dan Agam. Untuk bahan dan sebagainya, tambah Azan, tim KUB mengumpulkan uang sendiri untuk membelinya. Sistemnya mereka akan bagi hasil. Pemerintah hanya menyediakan wadah untuk mereka bekerja seperti alat dan tempat.

“Namun untuk promosi, kita juga bantu-bantu lewat media sosial,” imbuhnya. Ke depan, Azani berharap agar KUB ini dapat membuat sebuah batik khas Padang Panjang yang motifnya diambil dari Masjid Asasi. (Dian)

Editor : Abdi