Faktor Penentu Kesediaan Untuk Melakukan Vaksinasi Covid-19

Editors choice
0

EKSPRESNEWS.COM – Pandemi covid-19 yang melanda dunia sudah memasuki bulan yang ke 20  atau hampir 2 tahun dunia dijangkiti oleh virus ini termasuk Indonesia dan Malaysia dimana sampai saat ini sudah terjadi mutasi terbaru dari virus ini. Seluruh negara di dunia masih berusaha keras dalam mengatasi pandemi covid-19 dengan berbagai upaya baik secara preventif maupun korektif yang tentu sangat diperlukan untuk mengatasi penyebaran covid-19 ini.

Tindakan preventif yang dilakukan diantaranya adalah pemberian vaksin kepada masyarakat untuk menciptakan kekebalan tubuh dalam menghadapi covid 19 yang saat ini sedang giat-giatnya dilakukan diseluruh dunia. Indonesia dan Malaysia sebagai negara yang terjangkit oleh virus ini juga sedang intensif melakukan gerakan pemberian vaksin kepada seluruh lapisan masyarakat agar angka penyebaran virus dapat ditekan dan masyarakat memiliki imunitas tubuh dalam menghadapi serangan dari covid 19.

Berbagai upaya dilakukan untuk memberikan informasi dan kesadaran kepada masyarakat untuk melakukan vaksinasi diantaranya melalui iklan, sosialisasi, menggunakan artis atau tokoh masyarakat demi memberikan informasi tentang pentingnya dilakukan vaksinasi.

Sampai saat tindakan korektif yang paling banyak dilakukan oleh pemerintah disetiap negara adalah dengan menyediakan fasilitas pengobatan dan memberikan pelayanan yang maksimal bagi masyarakat yang positif terinfeksi covid-19. Rata-rata peningkatan terjadi pada masyarakat yang terkonfirmasi positif menyebabkan pemerintah harus menyediakan fasilitas pengobatan yang semakin banyak serta memberikan pelayanan yang semakin luas kepada masyarakat dalam proses pengobatan mulai dari penjemputan sampai isolasi mandiri di rumah sakit.

Kendati demikian, negara-negara di dunia saat ini lebih fokus terhadap tindakan preventif yang diharapkan mampu menekan penyebaran virus covid-19 melalui pemberian vaksin secara massal kepada masyarakat. Vaksin covid-19 sendiri masih dalam tahap pengembangan walaupun sudah ada juga negara yang membuat dan menyatakan telah menciptakan vaksin yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh manusia agar terhindar dari covid-19.

Berbagai merek vaksin yang saat ini telah digunakan oleh negara- negara diseluruh dunia diantaranya adalah Sinovac, AstraZeca, Moderna, Pfizer dan lain-lain yang memang sampai saat ini ada masih menjadi kontroversi ditengah masyarakat.

Vaksinasi yang dilakukan oleh pemerintah diseluruh negara di dunia termasuk di Indonesia meliputi seluruh masyarakat yang meliputi semua kelompok, usia, lokasi geografis dimanapun masyarakat tersebut berada. Termasuk di Indonesia dan Malaysia, mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat juga diberikan vaksinasi dalam upaya untuk menciptakan imunitas tubuh kepada seluruh mahasiswa. Adanya rencana pemerintah untuk melakukan kuliah offine dalam waktu dekat tentunya menuntut kesiapan dari civitas akademika menghadapi kuliah dengan memperhatikan aspek kesehatan terutama yang berkaitan dengan antisipasi terhadap covid-19.

Indonesia dan Malaysia menghadapi kondisi yang sama, dimana tentunya belum semua lapisan masyarakat termasuk mahasiswa memiliki pemahaman dan kemauan yang sama dalam melakukan vaksinasi. Banyak faktor yang memengaruhi masyarakat, termasuk mahasiswa untuk bersedia melakukan vaksinasi agar rencana kuliah secara tatap muka atau offline bisa dilakukan.

Secara umum ini diperkuat oleh kontroversi yang berkembang ditengah masyarakat tentang berbagai hal berkaitan dengan pentingnya vaksinasi itu sendiri. Mulai dari kontroversi keakuratan vaksin yang digunakan, efek dari vaksinasi, kehalalan dari vaksin dan lain sebagainya yang mempengaruhi keinginan dari segi perilaku masyarakat untuk mau melakukan vaksinasi.

Survei awal yang dilakukan khusus kepada mahasiswa perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia dan Malaysia menunjukkan bahwa sebagai besar dari mahasiswa bersedia untuk diberikan vaksinasi dengan berbagai alasan yang tentunya merupakan pertimbangan tersendiri yang berdampak kepada keinginan untuk melakukan vaksinasi.

Data yang diperoleh dari pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan (kemkes.go.id) menunjukkan bahwa 10.706.184 orang telah mendapatkan vaksin Covid-19 dosis pertama. Dari total tersebut, 1.464.150 di antaranya merupakan tenaga kesehatan, 7.063.372 petugas pelayanan publik dan 2.177.923 lansia di atas 60 tahun. Sementara penerima vaksin Covid-19 dosis kedua adalah 5.819.946 orang. Rincian penerima vaksin Covid-19 dosis kedua yakni 1.322.930 tenaga kesehatan, 3.599.727 petugas pelayanan publik dan 897.289 lansia. Vaksinasi covid-19 di Indonesia dibagi menjadi empat tahap. Tahap pertama untuk petugas kesehatan, targetnya mencapai 1.468.764 orang.

Tahap kedua untuk petugas pelayanan publik dan lansia dengan target sasaran masing-masing 17.327.167 dan 21.553.118 orang. Sementara tahap ketiga untuk masyarakat rentan di daerah dengan risiko penularan tinggi, targetnya menjangkau 63,9 juta orang. Tahap terakhir untuk masyarakat umum dengan pendekatan klaster, total target 77,7 juta orang.

Hasil dari penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa mahasiswa di Indonesia dan Malaysia memiliki faktor penentu yang sama untuk mendorong kesediaan melakukan vaksinasi yaitu sikap dan pegangan agama sedangkan faktor-faktor lain seperti kepercayaan dan media sosial seperti twitter dan lain-lain tidak memengaruhi kesediaan mahasiswa untuk melakukan vaksinasi.

Penggunaan media sosial dalam rangka mendorong kesediaan mahasiswa untuk melakukan vaksinasi tidak berpengaruh baik melalui berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka disarankan kepada pemangku kepentingan untuk meningkatkan penilaian mahasiswa terhadap pentingnya melakukan vaksinasi dalam upaya mengatasi penyebaran wabah Covid 19 dan lebih gencar melakukan sosialisasi melalui pendekatan keagamaan perlu dilakukan untuk lebih meningkatkan kesediaan mahasiswa untuk melakukan vaksinasi. (***)

Penulis : Hendra Lukito, M.M. Ph.D.

About author

redaksi

Dalam perkembangannya, selain melakukan penyuntingan, secara umum redaktur juga bertugas memberikan pengarahan kepada reporter ketika peliputan ke tempat tertentu atau terhadap isu tertentu yang sedang hangat.