Dari Sampah Menjadi Penguatan Ekonomi Masyarakat

Editors choice
0

Oleh: Agriqisthi

EKSPRESNEWS.COM – Krisis yang diakibatkan covid-19 telah menjarah keseluruh sektor perekonomian, tidak heran banyak masyarakat yang menjerit akibatnya. Semakin lama, krisis ini ditakutkan akan menghisab habis darah masyarakat yang tunggang langgang menghidupi diri ataupun keluargannya. Mirisnya lagi, banyak polemik yang beredar di masyarakat tentang ketidakpastian krisis ini akan berakhir menambah beban yang harus dipikul.

Namun dibalik parahnya kondisi ini, ada titik terang yang diinisiasi oleh masyarakat untuk dapat memajukan perekonomian. Salah satunya dengan membuat kelompok usaha dengan memberdayakan masyarakat sehingga keikutsertaannya ini dapat diberikan umpan balik berupa bagi hasil ataupun insentif. Hal positif ini mendapat sorotan dari banyak pihak, salah satunya dari pemerintah melalui dukungan kebijakan yang memudahkan industri ini berkembang. Tak jarang pula bentuk bisnis ini “kekinian” dan berazaskan masalah masyarakat sehigga peluang bisnis ini untuk berkelanjutkan akan semakin besar. Gagasan ini dapat didapatkan dari mana saja, bisa jadi anak muda disuatu daerah yang memiliki ide cemerlang dalam penyelesaian masalah perekonomian masyarakat. Peran serta seluruh elemen masyarakat dalam menangkap peluang-peluang dengan merangkul masyarkat yang visioner ini sangat penting, agar cepat terealisasikan  dan dapat diadopsi oleh masyarakat.

Uniknya lagi, material dari kegiatan ini terkadang luput dari pandangan kebanyakan orang, ataupun dianggap tidak bernilai lagi. Seperti sampah limbah rumah tangga, yang biasa dibuang ke tempat sampah sementara ataupun di pungut oleh petugas TPU setempat. Yang luput adalah, sampah yang masih dapat diolah kembali ikut terbuang dan menjadi tumpukkan masalah lagi bagi pemerintah. Bahan baku ini dapat diolah kembali menjadi produk yang bernilai ekonomis, bahkan sebagian komunitas masyarakat menggemari produk daur ulang ini dengan label “go-green”. Tidak hanya itu, sebagian besar perusahaan telah sadar juga akan hal ini, tampak melalui kampanye-kampanye “safe your world” atau slogan “go-green”. Maka secara secara eksplisit, produk daur ulang sampah ini selain dapat menyelesaikan masalah akibat sampah, dapat juga mendatangkan bentuk mata pencaharian baru bagi sebagian masyarakat yang kesulitan ekonomi saat pandemic covid-19.

Maka dari itu perlu ditentukan bagaimana alur kegiatan dari pengolahan sampah ini. Pemerintah melalui programnya telah mewadahi kegiatan ini dengan program pembentukkan bank sampah, yang dikelola oleh masyarakat. Sehingga masyarakat diberikan tanggung jawab dalam mengelola dan mengembangkan bank sampah ini. Pengelolaan bank sampah telah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, Peraturan Menteri nomor 13 tahun 2012 tentang pedoman pelaksanaan reduce, reuse, dan recyle melaui bank sampah, serta baru-baru ini terbit Peraturan Menteri LHK No 14 tahun 2021 tentang pengelolaan sampah pada bank sampah yang menitik beratkan kepada peran serta masyarakat dan seluruh elemen masyarakat dalam pengembangan bank sampah. Melalui pengelolaan bank sampah, masyarakat dapat diberdayakan pada banyak kegiatan, seperti proses penjemputan sampah ke rumah warga, proses pemungutan dan pemilihan sampah, proses pendaur ulangan sampah, proses daur ulang sampah menjadi berbagai macam produk kerajinan, atau bahkan industri pupuk juga dapat dibentuk dari pengelolaan sampah ini. Nantinya bank sampah akan memberikan umpan balik terhadap perannya terhadap kegiatan yang dilakukan. Tidak hanya itu, pada saat pemungutan sampah masyarakat yang menabung sampah disebut sebagai nasabah akan diberikan bagi hasil dari banyaknya setoran sampah.

Bank sampah yang masih aktif di Provinsi Sumatera Barat sendiri berjumlah 15 buah, yang tersebar pada beberapa kota. Salah satunya Kota Padang, dimana terdapat 4 bank sampah yang masih aktif hingga kini. Mereka adalah bank sampah Pancadaya, Baroah As-Salam, Hidayah dan Sakinah. Bank sampah ini dapat menampung hingga 300kg sampah per minggu dengan jenis sampah yang dapat ditampun adalah sampah kertas, karton/kardus, plastik (bungkus makanan dan botol minuman). Pada dasarnya sampah tersebut akan diberikan penilaian setiap kilogramnya, seperti sampah kertas dinilai Rp 2.500/kg, kardus Rp 1.500/kg, plastik bungkus makanan Rp 6.000/kg dan plastik kemasan minuman Rp 3.000/kg. Sampah yang diterima nantinya akan dipilah oleh petugas bank sampah dengan mempertimbangkan apakah masih dapat diolah kembali.

Fasilitas yang dimiliki oleh setiap bank sampah biasanya bagi hasil kepada nasabah, pembayaran gaji karyawan, dan peminjaman uang. Sedangkan bank sampah dapat pembagian dari interaksinya kepada pengepul sampah ataupun penjualan produk daur ulang. Bank sampah juga mendapatkan subsidi dari pemerintah berupa kendaraan ataupun bantuan dana untuk operasional diawal-awal terbentuknya. Bagusnya lagi, pembentukkan bank sampah kebanyakan digagas oleh kelompok masyarakat seperti PKK, karang taruna, dan lainnya. Luas cakupan bank sampah sedapat mungkin seminimalnya masyarakat di sekitar bank sampah ini beroperasi. Namun tidak tertutup kemungkinan masyarakat lebih luas ikut menjadi nasabah.

“Seperti bank pada umunya, ada tabungan dan ada pinjaman. Namun ini sampah, dari sebuah masalah menjadi solusi dan dapat mendatangkan rupiah. Masyarakat harusnya peduli dengan keberadaan bank sampah ini, dan dengan senang hati menyalurkan sampahnya melalui bank sampah ini”. Kata Eri Besra yang merupakan dosen di Jurusan Manajemen, Universitas Andalas.

Dalam penelitian yang penulis lakukan bersama tim menemukan bahwa sebagian besar bank sampah tidak memiliki kemampuan operasional yang kuat, sehingga ada beberapa fasilitas yang belum mampu untuk dilakukan seperti peminjaman uang, dan merekrut karyawan. Padahal potensi tumbuh kembang usaha ini besar, namun tidak sesuai dengan kenyataannya. Rendahnya peran masyarakat dalam memajuka bentuk usaha ini menjadi sorotan utama, selanjutnya kelembagaan dari bank sampah sendiri dalam hal standar operasional bank sampah. Bank sampah dapat menggunakan Permen LHK Nomor 14 tahun 2021 sebagai landasan dalam mengelola bank sampah.

Temuan dari penelitian yang dilakukan kepada bank sampah di Kota Padang selanjutnya menjadi bahan untuk rekomendasi perbaikan bank sampah. Selain itu kajian tentang bank sampah dapat menjadi literatur bagi penelitian ataupun pemerintah dalam menentukan kebijakan tentang kelangsungan bank sampah di Kota Padang. Perbaikan yang penting dilakukan pada internal bnak sampah adalah perihal kelembagannya, merujuk kepada regulasi yang mengatur tentang pengelolaan bank sampah. Selanjutnya adalah peran serta keterlibatan masyarakat dalam memajukan penyaluran sampah, kemudian inovasi dan kreatifitas dalam menlolah sampah menjadi produk kerajinan yang menarik. Produk olahan tersebut selanjutya dapat ditawarkan kepada konsumen, ataupun diletakkan kepada gerai offline dan online. (***)

About author

redaksi

Dalam perkembangannya, selain melakukan penyuntingan, secara umum redaktur juga bertugas memberikan pengarahan kepada reporter ketika peliputan ke tempat tertentu atau terhadap isu tertentu yang sedang hangat.