Dampak Covid-19 Terhadap Penikmat Kopi di Sumatera Barat

Editors choice
0

Oleh: Agriqisthi

EKSPRESNEWS.COM – Negara Indonesia kembali melakukan pembatasan aktivitas masyarakat terhitung tanggal 11 hingga 25 januari 2021(Mudassir, 2021). Satuan Tugas Penanganan Covid-19 telah membuat Keputusan Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 No 6 Tahun 2021 tentang mekanisme perjanalan baik dalam negeri maupun luar negeri. Namun, untuk mekanisme pelaksanaan pembatasan aktivitas masyarakat tersebut mengacu kepada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Bersekala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Pandemi covid-19 membuat mobilitas keluar rumah dibatasi. Hal tersebut akan membuat sebagian masyarakat merasa bosan beraktifitas dirumah saja. Apalagi dengan diberlakukannya kehidupan kenormalan baru, masyarakat mencoba untuk menyesuaikan pola kehidupannya dengan kenormalan baru tersebut. Seperti yang terjadi pada masyarakat Sumatera Barat, dimana aktifitas diluar rumah yang tidak bisa dielakkan sehingga membuat mobilitas tetap dilaksanakan namun menggunakan protokol kesehatan covid-19 agar penyebaran virus corona dapat di tekan.

Perubahan pola konsumsi masyarakat pada masa pandemi covid-19 masih terbatas yang menelitinya, sehingga penelitian ini perlu dilakukan untuk menganalisa pola konsumsi masyarakat terhadap coffee shop secara offline di Sumatera Barat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan teori yang diperkenalkan oleh Icek Ajzen (1991), bahwa perilaku diartikan sebagai tindakan seseorang terhadap sesuatu, sedangkan tindakan akan dipengaruhi oleh berbagai faktor lain sehingga menjadikan teori perilaku yang direncanakan (Theory of Planned Behavior) atau lebih familiar dikenal dengan istilah TPB.

Di wilayah administrasi Sumatera Barat terdapat jumlah coffee shop sebanyak 472. Coffee shop merupakan salah satu pendukung Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sumatera Barat (Sumatera Barat Dalam Angka, 2020).  Keberadaan coffee shop juga memberdayakan angkatan kerja di Sumatera Barat. Coffee shop di Sumatera Barat menyuguhkan aneka cita rasa biji kopi nusantara maupun biji kopi internasional dengan variasi cara pengolahan yang berbeda-beda. Namun, pada kondisi pandemi covid-19 menyebabkan omset coffee shop rata-rata menurun, sekretaris kementerian koperasi menuturkan bahwa selama pandemi ada banyak usaha kecil yang gulung tikar, sekitar 30% usahanya terganggu.

Fenomena yang terjadi adalah masyarakat merasa jenuh, dan stress beraktifitas dirumah, sehingga mereka keluar rumah dan berkunjung ke coffee shop. Coffee shop dalam mengoperasikan bisnisnya pada masa pandemic covid19 telah menjalankan protokol kesehata. Dengan demikian masyarakat yang berkunjung harus menaati protokol kesehatn tersebut. Walaupun demikian, masih terdapat pengunjung coffee shop yang tidak menjalankan protokol kesehatan, bahkan bersikap apatis terhadap apa yang mengancamnya. Dimana apatis merupakan kurangnya motivasi, minat dan emosi seseorang, bahkan ketika mereka mengetahui suatu peraturan, perubahan terhadap lingkungan akan tetapi tidak tertarik untuk berkontribusi atau berperan aktif(Foltz, Newkirk, & Schwager, 2016).

Pada teori perilaku yang direncanakan menyebutkan bahwa sikap terhadap perilaku menangkap persepsi positif atau negatif individu dalam melakukan perilaku tersebut. Sikap adalah disposisi untuk merespon secara baik atau tidak baik suatu objek, orang, lembaga atau kondisi(Foltz et al., 2016). Berbagai hal yang akan mempengaruhi sikap seseorang dalam bertindak. Misalnya pada kondisi pandemi covid-19, seseorang akan tertarik terhadap fitur yang ditawarkan sebuah coffee shop yang memiliki protokol kesehatan yang baik. Sehingga dengan demikian mereka tidak ragu untuk berkunjung pada coffee shop tersebut.

Penelitian yang dilakukan terhadap penikmat kopi di Sumatera Barat menemukan bahwa pola pembentukkan perilaku dalam berkunjung kekedai kopi ternyara telah beberapa kali terjadi perubahan. Akibat pandemi sehingga terbatasnya ruang gerak untuk mengunjungi kedai kopi. Akibatnya pada awal pandemi beralihkan perilau pembelian kepada pembelian take away, namun sekarang bagaimana?. Semenjak diberlakukannya pola tatan kehidupan baru, berkunjung ke kedai kopi sudah dapat dilakukan namun menggunakan protokol kesehatan yang ketat. Tentu bagi sebagian masyarakat hal ini menjadi tidak nyaman, tapi ketika dilakukannya observasi dilapangan realitasnya menunjukkan hal yang lain. Penikmat kopi tetap mengunjungi kedai kopi kesukaannya walaupun menaati peraturan protokol kesehatan yang ketat. Namun, menurunkan kesadaran akan kesehatan ini harusnya tetap memiliki kewaspadaan terhadap penyebaran Virus ini.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, perilaku yang apatis terhadap keadaan sekarang ternyata dapat mempengaruhi sikap seseorang dalam berperilaku. Artinya adalah sebagian masyarakat yang tidak peduli akan lingkungan maka akan membentuk sikapnya dalam bertindak, seperti ketidakpedulian akan sekitar atau penyebaran covid-19. Harusnya dalam hal ini selain kesadaran akan tetapi pemilik kedai kopi juga memberikan dan menekankan peraturan bagi pengunjung yang melakukan pembelian secara offline ini. Namun tidak bisa seluruhnya menjadi kesalahan para pengunjung, keapatisan ini ternyata didasari oleh ketidak tahuan akan bahaya covid-19, sebab belum ada pengalamannya atau lingkungan sekitar yang terkena wabah ini.

Pola perilaku pembelian secara langsung ini juga dilator belakangi oleh alasan yang cukup masuk akal, seperti kebosanan dirumah saja, ingin berkumpul bersama teman, atau ingin mencoba pengalaman bekerja diluar rumah. Kita tahu bahwa sudah setahun lebih orang-orang melakukan aktifitas dirumah saja, nah! Ini yang membuat sebagian besar orang bosan dan berupaya untuk menghilangkan rasa kebosanan ini dengan mengunjungi kedai kopi.

Saran yang dapat diberikan kepada penikmat kopi yang melakukan kunjungan secara langsung pada masa pandemi covid-19 adalah tetap waspada dan tidak terlalu euphoria dengan menurunkan kewaspadaan akan kesehatan. Saran bagi pengelola kedai kopi adalah dengan membuat peraturan dan penekanan kepada pengunjung untuk mematuhinya. Kedai kopi dapat memanfaatkan keadaan ini dengan tetap beroperasi melayani pembelian secara langsung, namun dengan penerapan adaptasi terhadap protokol kesehatan. Kedai kopi sudah bisa mengoptimalkan penjualan secara langsung karena masyarakat sudah mulai menginginkan berkunjung secara langsung. (***)

About author

redaksi

Dalam perkembangannya, selain melakukan penyuntingan, secara umum redaktur juga bertugas memberikan pengarahan kepada reporter ketika peliputan ke tempat tertentu atau terhadap isu tertentu yang sedang hangat.