Bus Trans Padang Harus Maju

EKSPRESNEWS.COM –¬†Senin 16/1/2023 pagi saya ada rapat, bertempat di Fakultas Hukum Unand Limau Manih. Saya putuskan naik Bus Trans Padang menuju lokasi, ketimbang kendaraan pribadi. Hitung-hitung coba menjajal Koridor 6 yang belum lama diresmikan oleh Walikota Padang Hendri Septa itu.

Perjalanan dimulai dari halte atau tempat pemberhentian bus (bus stop) Sari Anggrek, tepat pukul 08.24 WIB. Kartu Brizzi sudah saya siapkan. Saya beli seharga Rp. 35.000. Isi kartu saya tersedot Rp. 3.500 untuk sekali jalan setelah pramugara menempelkan kartu saya pada alat yang dipegangnya. Terbilang murah untuk jarak tempuh 13 kilometer. Pelajar lebih murah lagi, hanya Rp. 1.500 sekali jalan. Sayangnya, harga fisik kartu terlalu mahal: Rp. 20.000. Isi kartu yang bisa digunakan Rp. 10.000 saja, sebab Rp. 5.000 jadi haknya agen Brizzi yang memasarkan kartu.

Busnya bagus, sangat bersih dan nyaman. Menggunakan pendingin udara. Tempat duduk yang tersedia 16 kursi. 8 kursi di sisi kiri, 8 lainnya di kanan. Ada juga kursi khusus untuk penyandang disabilitas. Tidak ada musik berdentum-dentum di dalamnya serupa bis kota masa lampau.

Bus Koridor 6 ini keluaran terbaru. Tangga naik dan turunnya dirancang rendah, tidak serupa bus lama jurusan Pasar Raya – Batas Kota dan Terminal Anak Air – Teluk Bayur. Konon kabarnya, tangga Bus bagian belakang bisa diakses penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda. Soal tangga rendah ini memang jadi salah satu bahan diskusi saya dengan mantan direktur utama Perumda Padang Sejahtera Mandiri Poppy Irawan. Waktu itu saya menjabat ketua dewan pengawas perusahaan. Kami sepakat, tangga bus tidak perlu tinggi serupa yang lama asal sopirnya bisa dikontrol dengan baik.

Bus terus bergerak dari satu pemberhentian ke pemberhentian lainnya. Bus tidak berhenti di semua bus stop. Berhenti jika di sekitar tanda bus stop berdiri calon penumpang atau ada penumpang yang hendak turun.

Pukul 08.54 bus sudah masuk gerbang Unand. Jam 09.04 bus berhenti di depan Politeknik Negeri Padang. Karena tujuan saya fakultas hukum, saya diminta pindah ke bus yang lain yang sudah menunggu. Transit. Begitu saya duduk, bus langsung berjalan. Bus kedua ini pakai musik. Tapi tidak berdentum.

Tepat pukul 09.07 saya sampai di gedung Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) bagian belakang. Di sebelahnya berdiri gedung fakultas hukum yang saya tuju. Berarti saya menghabiskan waktu 31 menit dari pusat kota ke kampus Limau Manih.

Dari bus stop ke ruang pertemuan termakan waktu 3 menit. Pas pukul 09.10 saya sampai di ruang pertemuan. Saya telat 10 menit.

Secara keseluruhan, naik Trans Padang sangat menyenangkan. Ada beberapa yang perlu diperbaiki. Pertama, bus mesti berhenti di setiap pemberhentian yang sudah ditentukan. Ada atau tidak ada calon penumpang yang mau naik atau penumpang yang hendak turun. Tiga sampai lima detik saja jadilah. Ketika berhenti, sopir dan pramugara meliarkan matanya ke kiri dan ke kanan. Pengalaman saya Senin itu, saya sudah melambai-lambaikan tangan dari seberang bus stop FISIP ketika saya mau jalan pulang ke Permindo. Sopir bus dan pramugaranya tidak melihat. Saya terpaksa kehilangan 1 bus.

Kedua, musik dalam bus sebaiknya ditiadakan saja. Tidak semua orang suka musik. Tidak semua orang pula suka semua jenis musik. Musik dapat menganggu penumpang yang bercakap-cakap sesamanya. Lagian, membolehkan sopir memutar musik sama halnya memberikan peluang sopir, suatu saat, menyetel musik yang tidak-tidak. Jika itu terjadi, hancur mina. Bus Trans Padang menjadi diskotik berjalan lagi.

Ketiga, pengumuman nama-nama tempat pemberhentian dari mesin pintar di atas bus mesti dihidupkan. Biar penumpang tahu berapa bus stop lagi yang harus mereka lewati untuk sampai di bus stop tujuan. Menghidupan mesin pengumuman juga mengurangi teriakan-teriakan pramugara di setiap bus stop.

Keempat, di tiang bus stop mesti dituliskan nama bus stop-nya. Ini penting untuk menjawab jika ada penumpang yang ragu apakah mereka memang sudah turun di bus stop yang mereka inginkan atau tidak.

Kelima, estimasi kedatangan bus sebaiknya dituliskan di tiang bus stop. Juga estimasi jadwal bus terakhir. Ini berguna untuk memberikan kepastian kepada calon penumpang yang ingin berpergian.

Meski sudah agak terlambat, kebijakan angkutan massal yang aman, nyaman, bersih dan berbiaya murah harus didukung penuh. Manfaatnya banyak: polusi udara bisa berkurang, jalanan tidak semakin sesak dan kehidupan warga lebih teratur. Kualitas angkutan massal suatu kota juga salah satu ukuran tinggi rendahnya peradaban sebuah kota.

Khusus untuk dosen dan petinggi Unand, peluang memajukan angkutan massal Trans Padang sedang ada di tangan mereka. Saatnya dosen dan petinggi universitas tertua dan terbesar di pulau Sumatera itu menunjukkan kepada masyarakat bahwa soal angkutan massal mereka tidak hanya lincah menyusun kata-kata dalam kertas-kertas penelitian saja, tapi juga menjadi tauladan dalam menggunakan dan/atau memajukan Trans Padang.

Kalimat sederhananya begini: dosen dan petinggi Unand ke kampus tidak lagi mengunakan kendaraan pribadi, tapi beralih ke Trans Padang. (*)

Oleh : Miko Kamal

Pengamat Tata Kelola Kota