Beban Etika Moral Jadi Wakil Rakyat 5 Tahun Mendatang, Punya Uang Belum Tentu “Menang”

EKSPRESNEWS.COM – Menjadi wakil rakyat adalah sebuah amanah mutlak yang diberikan oleh sang pemilik alam semesta. Agaknya hal ini patut dipahami oleh para calon anggota legislatif dengan perolehan suara tinggi. Hingga kemudian bisa duduk di kursi ratusan bahkan ribuan rakyat.

Perhitungan real dari KPU terus bergulir. Beberapa kandidat dewan terhormat yang akan duduk di gedung rakyat sudah jumawa bersuka ria. Percaya diri yang berkelebihan membuat banyak pihak berkomentar lirih.

“Jika uang yang bermain dalam pertarungan politik, ya seperti ini. Seharusnya tunggu dulu real count KPU dan pastikan suara masing-masing memang menang. Baru rayakan, tapi kalau sekarang sudah seperti perayaan dari hasil ‘transaksi’ dengan rakyat,” ujar Herman S Tanjung seorang pengamat politik dalam perbincangan dikawasan GOR H Agus Salim Padang, Sabtu 25 Februari 2024.

Menurutnya para anggota legislatif tidak perlu malu jika sudah mengeluarkan uang banyak untuk meraup suara dalam pertarungan politik. Bahkan, dikatakannya lebih jauh, tidak semua politisi seperti Komeng yang mendapatkan suara lebih banyak tanpa mengeluarkan mahar politik.

“Komeng sudah keluar biaya lebih dulu, yaitu popularitasnya. Lantas bagaimana dengan anak-anak kemaren sore yang notabene generasi milenial ikut dalam kontestasi politik. Sudah barang tentu pakai uamg bapaknya, toh tidak semua yang benar-benar punya uang demi biaya politik, ya kan,” ungkapnya.

Alkisah, sesosok anak muda itu maju dalam pertarungan anggota dewan hingga hitung cepat berhasil meraup suara yang cukup signifikan untuk duduk sebagai wakil rakyat. “Tapi rekam jejak moral dan etika sepertinya perlu jadi perhatiannya sebagai wakil rakyat, sebab dia masih berurusan dengan rakyat yang jadi konstituennya,” kelakar Herman menyikapi video saat sang pemilik mata indah itu disidang oleh masyarakat tatkala nyaris mencabut nyawa orang.

Dikatakan Herman, banyak politisi yang punya masa lalu kelam namun bersinar sebagai wakil rakyat dan benar-benar menjadi panutan rakyat dikemudian hari karena berdamai dengan hati nuraninya. Kebanyakan dari mereka mau menerima kesalahan dan benar-benar berubah demi kebaikan dimasa depan. “Tobat dan meminta maaf walau pernah hampir mencelakai orang. Itu sudah paling gampang. Sifat Tuhan Yang Maha Kuasa adalah Pemurah dan Pemaaf, manusia juga harus pemaaf dan saling memaafkan,” tambahnya mengurai persoalan.

Last But Not Lease, kemenangan wakil rakyat duduk di kursi legislatif bukan saat ketuk palu KPU nanti melainkan saat mereka bisa mengambil hati masyarakat dan bersimpati terhadap semua persoalan rakyat. Jikalau masyarakat konstituennya “manggarutu” sudah jelas amanah dari rakyat sejatinya bukan untuk dia.

“Yang pasti, siapapun anggota legislatifnya, cobalah merenung untuk memperbaiki diri dengan bercermin lalu mereflaksi kejadian dan peristiwa dimasa lalu. Cela bukan untuk hal buruk, melainkan demi 5 tahun mendatang yang lebih baik. Moral dan beban etika menjadi wakil rakyat tidaklah mudah namun akan menjadi gampang saat semua dibicarakan dan saling bermaaf-maafan,” tuturnya.

(Red)