Fokus  

Alumni Desak Pembina Dan Pengurus YSO Adabiah Mengundurkan Diri

Surat terbuka mantan Ketua Pengawas Yayasan Syarikat Oesaha (YSO) Adabiah Padang yang diberitakan Tabloid Indonesia Raya mendapat perhatian dari para alumni Adabiah lintas angkatan dan lintas tingkatan. Diabaikannya laporan temuan dan penyimpangan hasil pemeriksaan oleh Ketua Pembina Dr. Bachtiar Chamsyah, memantik beragam komentar para alumni. Marwah yayasan yang telah berusia 108 tahun ini dipertaruhkan ditengah publik, nostalgia kejayaan masa lalu jadi pembanding. Alumni meminta Kepengurusan di Yayasan untuk mengundurkan diri apalagi mereka bukan alumni Adabiah.

EKSPRESNEWS.COM – Setelah hampir 1 bulan surat terbuka dikirimkan kepada Ketua Pembina YSO Adabiah Dr Bachtiar Chamsyah, tidak ditanggapinya beberapa almuni Adabiah turut berkomentar lirih. Mereka rata-rata menyayangkan adanya perseteruan dan krumuk-krumuk didalam tubuh yayasan. Hingga alumni meminta dan menantang pembina dan pengurus yayasan untuk terbuka serta mundur karena dianggap tidak mampu mengelola yayasan milik publik itu.

“Secara garis besar saya sudah membaca surat terbuka tersebut. Sebagai alumni yang pernah mendapatkan pembelajaran di SMP Adabiah, memang merasa prihatin atas kejadian di Yayasan,” ujar salah seorang alumni, Zul Akhyar kepada Indonesia Raya (Afiliasi EkspresNews.com), Rabu 3 Juli 2024 dalam pesan WA yang dikirimkannya.

Zul memberikan saran kepada pengurus dan pembina agar hal-hal yang merugikan YSO, baik berupa materi maupun nama baik seharusnya tidak perlu terjadi. “Masing-masing kita dapat saling mengingatkan tentang hal-hal yang dapat merugikan nama baik sekolah kita ini,” tuturnya.

Amsir salah seorang alumni Adabiah mengaku kaget dan malu melihat kisruh yang terjadi di YSO sebagai pengelola perguruan tempat dirinya menuntut ilmu selama 9 tahun, SD hingga SMP. “Setelah membaca berita ini tersirat bagi saya bahwa Bachtiar Chamsyah tidak menjalankan fungsinya sebagai Ketua Dewan Pembina secara aktif sehingga Pengurus YSO berjalan sendiri yang mungkin juga tanpa melibatkan Dewan Pengawas,” ujarnya, Rabu 3 Juli 2024 kepada Indonesia Raya.

Dirinya berpendapat, hal tersebut menyebabkan Pengurus YSO berada dalam posisi kurang terkontrol. Mungkin saja ada beberapa orang Pengurus ataupun Dewan Pengawas aktif dalam melakukan kontrol tapi mendapat respon yang kurang memadai dan mungkin juga tidak direspon sama sekali sehingga Pengurus jalan sendiri yang menjadikan YSO rentan dengan penyimpangan.

“Kurang terkontrol karena peran pembina tidak berjalan sebagaimana mestinya, apalagi Bachtiar Chamsyah itu berdomisili di Jakarta. Koordinasi seperti apa, online ? tidak bisa. Mengurus yayasan ini, perlu wujudnya hadir menjalankan tugas kepembinaan di YSO. Itu penyebabnya pengurus jalan sendiri dan rentan terjadinya penyimpangan,” tuturnya.

Perlu diingat, kata Amsir, bahwa Adabiah adalah yayasan milik publik bukan milik pribadi dan utamakanlah ADAB sesuai dengan nama Perguruan ini ADABIAH. Indikasi ini terlihat dalam memilih kepengurusan yang baru.

“Terlihat beberapa orang dari pengurus dan pengawas tidak dipakai lagi dan tidak diajak musyawarah dalam memilih kepengurusan YSO yang baru menggantikan Kepengurusan lama yang habis masa jabatan,” ungkapnya.

Lebih jauh, dikatakan Amsir, hendaknya hilangkanlah faktor SUKA atau TIDAK SUKA dan pilihlah mereka yang mengerti atau paham dengan sejarah Adabiah serta mau bekerja. Utamakan musyawarah antara Dewan Pembina, Pengurus dan Dewan Pengawas. “Ketiga unsur ini jalankan fungsi sesuai aturan Yayasan sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Yayasan Republik Indonesia dan Anggaran Dasar YSO,” katanya.

Sementara itu, Imam Santosa turut memberikan catatan terkait kisruh di YSO Adabiah. Secara pribadi ia menilai bahwa pembina saat ini Bachtiar Chamsyah bukanlah alumni Adabiah melainkan alumni dari Medan, Sumatera Utara. “Jadi pembina itu bukan alumni Adabiah, beliau dari Medan, alumni USU, sehingga banyak alumni yang tidak setuju Bachtiar Chamsyah ini menjadi ketua Pembina YSO,” ujarnya.

Sedangkan, Azirwan Yasin alumni Adabiah yang telah belajar disana selama 12 tahun, merasa sedih. Dirinya meminta YSO Adabiah diperbaiki dan diisi oleh orang-orang yang berkompeten dalam bidang pendidikan. “Yang harus punya keinginan menjadikan Adabiah sebagai sekolah terbaik di Sumatera Barat. Adabiah sudah berumur 1 abad lebih, tapi belum mampu menjadi top 3 sekolah terbaik di Sumatera Barat,” ujarnya yang merupakan alumni SD, SMP, dan SMA Adabiah.

Tanggapan yang lebih serius diberikan oleh alumni Adabiah, David, kepada Indonesia Raya, Sabtu 6 Juli 2024 dikawasan Padang Barat mengatakan jika nanti ada pergerakan dari alumni untuk meminta pertanggungjawaban pembina pengurus serta pengawas yayasan, dirinya akan siap maju untuk menjadikan YSO Adabiah kembali berjalan pada koridornya.

“Bukti dan kesaksian dari pengawas yang tidak dipakai lagi adalah pintu masuk untuk meminta pembina bertanggungjawab, seperti yang tertulis didalam surat terbukanya itu,” ujar David.

Lebih jauh, David mempertanyakan sikap pembina yang terlihat abai atas laporan-laporan terutama dari hasil temuan pengawas. Hal ini tentu, dikatakannya adalah sikap yang tidak pantas baik itu pembina maupun pengurus yang seharusnya menindaklanjuti temuan-temuan tersebut.

“Bahkan pernah satu ketika, ketua pembina itu didalam forum mengatakan bahwa pembina itu adalah pemilik yayasan. Seolah-olah ia merasa bahwa YSO Adabiah itu adalah milik dia, milik Bachtiar Chamsyah. Pernyataan ini bisa saya pertanggungjawabkan, sebab yayasan itu milik publik, bukan milik pribadi, terutama yang pasti bukan milik pembina itu,” tuturnya.

Berita Indonesia Raya edisi 504 dalam liputan berjudul “Pesan Moral Untuk Dr Bachtiar Chamsyah: YSO Adabiah Milik Publik, Jika tidak Mampu Silakan Mundur” turut menyita perhatian publik.

Salah seorang masyarakat Sita Wardani kepada Indonesia Raya menyebutkan bahwa penilaian masyarakat bahwa sekolah Adabiah itu memiliki dana abadi yang cukup banyak sehingga kisruh itu tidak seharusnya terjadi. “Itu yang saya ketahui dan orang-orang diluar Adabiah juga memiliki pengetahuan yang sama. Adabiah itu sekolah yang luar biasa, sudah 100 tahun lebih. Jadi wajar semua orang memiliki pandangan punya dana abadi yang cukup banyak, tapi tetap ribut,” ujarnya saat ditemui dikawasan seputaran Adabiah Padang.

Saat ditanyai persoalan legalitas orang-orang yang menjadi pengurus yayasan, Sita yang dulu menyekolahkan anaknya di Adabiah ini mengatakan bahwa seharusnya alumni turut terlibat didalam kepengurusan yayasan.

“Alumni itu sepengetahuan saya punya rasa memiliki yang kuat terhadap almamaternya dibandingkan dengan orang yang tidak pernah sekolah disana. Jadi sudah sepatutnya ada peran alumni di kepengurusan, minimal separuh dari dewan pembina dan pengurus dari alumni. Apalagi ada organisasi alumni, PAA yang memiliki kewajiban untuk kemajuan Adabiah,” tuturnya.

Konfirmasi Pengurus YSO Adabiah

Sementara itu, ketua pengurus YSO Adabiah Aristo Munandar kepada Indonesia Raya menyebutkan bahwa kisruh dan perbedaan pendapat di Adabiah sebenarnya sudah diselesaikan secara perlahan. “Menyelesaikan persoalan demi persoalan itukan tidak mudah, tidak pula bisa cepat, ada prosesnya. Tapi pelan-pelan sudah kita benahi,” ujarnya saat ditemui di kawasan GOR Agus Salim Padang, Kamis 4 Juli 2024.

Aristo yang juga ketua PMI Sumatera Barat mengatakan bahwa pintu Adabiah selalu terbuka untuk siapa saja, termasuk alumni. Ia berharap dapat menjalin komunikasi dan koordinasi dengan seluruh alumni, baik yang terhimpun di PAA maupun yang belum.

“Pintu Adabiah itu selalu terbuka untuk alumni dan siapa saja yang ingin memberikan masukan serta saran, terutama untuk kemajuan Adabiah kedepan. Kami sebagai pengurus tentu hanya bisa bertindak sebatas kepengurusan saja, akan tetapi untuk tingkatan pembina tentu saya tidak bisa. Diluar batas kewenangan saya sebagai pengurus,” katanya.

Lebih lanjut, Aristo mengatakan untuk hal-hal yang diluar wewenang pengurus sudah ia komunikasikan kepada Bachtiar Chamsyah selaku ketua pembina. “Saya baru pulang dari Jakarta untuk melakukan koordinasi dengan pembina-pembina yang ada disana, tentu untuk keberlangsungan Adabiah kedepan. 4 bulan kepengurusan saya saat ini berjalan, kami sedang proses untuk pembenahan di SD, SMP, dan SMA. Setelah ini kami juga akan membenahi STIA,” tutur Aristo mengakhiri.

Diberitakan sebelumnya bahwa Ketua Pengawas YSO Adabiah periode 2022-2024 Erwin Bustamam mendapatkan temuan yang cukup mencengangkan terjadi di perguruan Adabiah semasa periode baktinya. Dirinya sudah melakukan koordinasi dengan ketua pengurus yayasan dan ketua pembina namun tidak mendapatkan respon.

“Dalam menjalankan tugas yang dilaksanakan selaku pengawas, kami mempedomani AD ART (Anggaran Dasar & Anggaran Rumah Tangga) YSO Adabiah No. 05 Tanggal 4 Februari 2010, pasal 15 AD YSO Adabiah menyatakan bahwa pengawas wajib dengan itikad baik dan penuh rasa tanggungjawab untuk kepentingan yayasan dan berwenang memasuki gedung Adabiah, memeriksa dokumen, pembukuan, dan mengawasi segala tindakan pengurus serta memberikan peringatan kepada pengurus yayasan,” ujar Erwin Bustamam saat ditemui Indonesia Raya di kawasan Padang Barat, Selasa 25 Juni 2024.

Erwin yang didampingi Syofia Hariani selaku sekretaris yayasan mengemukakan adanya ketimpangan uang kas pada tutup buku tahun 2021 sebesar 800 juta. Akan tetapi, katanya, saat dirinya dikukuhkan pada 18 Februari 2022 ternyata kas yang ada hanya sebesar 140 juta.

Lebih lanjut, pengawas mendapati temuan pemborosan terhadap uang lembur pengurus yayasan yang sejatinya tidak diperlukan. Didalam buku bendahara YSO Adabiah ada sejumlah pengeluaran yang juga tidak semestinya.

Selain itu, saat memeriksa pengadaan pakaian seragam untuk guru, dosen dan karyawan YSO Adabiah, pengawas juga menemukan indikasi dugaan penyelewengan. “Pengadaan pakaian seragam untuk guru dosen hingga karyawan itu seharusnya dikerjakan oleh bagian Sekretariat, akan tetapi pada saat itu dikerjakan oleh Wakil Ketua Bidang Pendidikan bersama Bendahara,” ungkap Nini yang merupakan alumni dari Adabiah Padang.

Laporan demi laporan dikatakannya sudah disampaikan kepada Ketua Yayasan Aristo Munandar. Akan tetapi laporan tersebut tidak pernah mendapatkan tanggapan dan tindak lanjut yang serius.

Beragam komentar dan tanggapan dari alumni Adabiah mengundang penasaran dari pemerhati hukum sekaligus pengamat pendidikan Muhammad Aidil SH. Ia mempertanyakan seberapa besar yang diterima oleh pembina dan pengurus YSO Adabiah sehingga kemudian sampai hati menikmati fasilitas tanpa adanya bukti kemajuan perguruan Adabiah tersebut.

“Logika berpikirnya begitu, orang-orang yang duduk disana sebagai pembina dan pengurus tentu dapat fasilitas dari YSO dan itu ada. Tapi mereka seperti tidak serius mengelola yayasan. Itu pandangan saya,” ujar Muhammad Aidil, alumni Fakultas Hukum Universitas Surabaya itu.

Dikatakannya, persoalan anggaran bahkan sampai penghematan anggaran dalam sebuah organisasi itu sah saja. Namun penghematan dilakukan lalu setelahnya digunakan juga untuk aktivitas oknum-oknum di Adabiah yang notabe kegiatannya tidak jelas, ya sama saja,” terangnya saat ditemui dikawasan pantai Padang, Jumat 5 Juli 2024.

Menurutnya wajar kemelut seperti yang diungkapkan alumni Adabiah terjadi sehingga sangat wajar pula alumni mendesak pembina dan pengurus mundur secara sportif, minim prestasi, katanya.

“Saya kalau jadi alumni disana sudah saya datangi sekolah dan meminta pembina serta pengurus mundur, lalu dilakukan musyawarah untuk menentukan pembina pengurus yang baru. Fresh organisasi dan tanpa campur tangan orang-orang dengan old school, reformasi YSO Adabiah, begitu kira-kira,” ungkapnya.

Lebih jauh Aidil mengatakan bahwa tentu alumni mengetahui siapa-siapa yang duduk di dewan pembina YSO Adabiah. Secara hukum positif, berdasarkan UU Yayasan, yang mutlak ada adalah ahli waris pendiri. “Lihat sekarang dijajaran dewan pembina yang merepresentasikan pendiri yayasan harusnya adalah ahli waris dari para pendiri, jika tidak, tentu perlu dikaji ulang sebab muasabab mereka berada disana. Kalau pengurus ya sama-sama kita ketahu, adalah pilihan dari dewan pembina,” tambahnya. (Abdi)