71 Tahun BTN Sebuah Persembahan Manis Di Tengah Badai Krisis

Editors choice
0

oleh : Rahmi Naska

EkspresNews.com – Meminjam slogan bank BTN, “Hidup gak Cuma Tentang Hari Ini”, pandemi telah memberi banyak pelajaran untuk sebuah peradaban baru di masa depan. Tidak hanya merubah suatu tatanan kehidupan, ataupun kebiasaan- kebiasaan baru. Keadaan ini turut pula menggeser cara pandang akan banyak hal berharga dalam hidup. Entah itu kesehatan, keuangan, pendidikan dan lain sebagainya.

Sumber : BTN.co.id

Banyaknya korban dari pandemi ini, menjadi catatan penting arti menjaga kesehatan. Lalu, kondisi ekonomi saat ini turut memberi pelajaran mahal terhadap sebuah perencanaan keuangan yang matang. Hemat dalam mengatur pengeluaran, karena masa depan adalah sebuah ketidakpastian. Sementara itu pendidikan, pandemi membuktikan bahwa sesugguhnya hidup itu sendiri adalah sebuah proses belajar. Orang- orang yang tidak mau belajar dari keadaan, maka ia bersiap untuk ditinggal oleh zaman.

Tidak kalah pentingnya, pandemi juga menggeser cara pandang manusia tentang “rumah” di masa depan. Karena keadaan menuntut manusia untuk bisa hidup di dua alam. Pertama, dunia nyata. Kedua, dunia maya.  

Sebut saja Suci (28 tahun) seorang pegawai BUMN mengakui nyaris satu tahun belakangan ini tidak lagi harus kejar- kejaran dengan waktu. Berpindah dari satu stasiun KRL menuju stasiun lainnya dengan waktu tempuh lebih kurang 2 jam dari rumah menuju kantor.

“Sekarang pekerjaan semua dilakukan dari rumah. Online aja… Plusnya udah ga buru- buru lagi kalau tiap subuh harus keluar rumah biar ga telat. Ga desakkan lagi kalau naik KRL. Minus ya itu, masih penyesuaian ini sama cara kerja begini, ngurus anak juga, pekerjaan rumah juga”.

Lain lagi dengan ibu Riri (54 tahun), sebelum Corona sempat membuka warung mie goreng di sekitaran wilayah kampus. Namun, sekarang terpaksa memindahkan usaha kulinernya ke rumah.

“Wah, sejak mahasiswa sudah daring. Kampus sepi, Ibuk jualan dari rumah saja lagi. Masukin lewat aplikasi ojol. Nanti, tunggu deh orderan masuk.”

Setali tiga uang Suci dan Bu Riri, Ibu Elin (40 tahun) yang juga berprofesi sebagai dosen di salah satu PTN di Padang menuturkan bahwa semenjak pemberlakuan PSBB, putrinya lebih cendrung memilih untuk belajar daring meski tatap muka telah dimulai di sekolah.

“Iya, anak ibu bilang maunya daring saja. Karena jam dari sekolah buat tatap muka masih dibatasi. Katanya sekalian saja daring semua, Ma. Soalnya ke sekolah juga cuma sebentar aja.”

Rumah tidak lagi sekedar tempat untuk pulang, melepas penat dan lelah, atau tempat berkumpul keluarga namun juga memiliki bagian penting dalam menggerakkan roda kehidupan. Entah itu rumah untuk belajar, rumah untuk bekerja, rumah untuk usaha, rumah untuk ibadah dan lain sebagainya.

Dalam sebuah studi European Journal of Social Phsychology oleh Phillipa Lally dan UCL (University College London) yang dilakukan pada tahun 2009, menyimpulkan bahwa setidaknya perlu waktu 66 hari untuk membentuk sebuah kebiasaan baru.

Memasuki tahun kedua pandemi, kita agaknya sudah mulai terbiasa dengan konsep stay at home. Di rumah aja telah menjadi suatu gaya hidup yang dipilih oleh sebagian besar masyarakat selama masa pandemi.

Dilansir dari Kompas.com, Rabu (6/01/2021) pasca pandemi, akan banyak perusahaan yang menerapkan pola hybrid working (model kerja yang memadukan bekerja dari kantor dan rumah secara remote), sehingga perusahaan lebih efektif dan efisien dalam mengelola anggaran pengeluaran.

Richa (30 tahun) seorang ibu muda. Dengan rutinitas menerima jahitan secara online dari rumah, turut menaruh harapan besar untuk segera memiliki rumah impian memasuki tahun ke dua pernikahan. Rumah KPR subsidi menjadi target jangka pendek keluarga kecil mereka. Memiliki sebuah galeri jahit kecil- kecilan di rumah, adalah impian ibu dua anak ini.

 “Mumpung anak masih kecil, belum ada pengeluaran untuk sekolah. Kita lagi usahakan segera punya rumah.” Ungkap Richa menaruh harap.

Saat rumah menjadi poros kehidupan, agaknya ada yang perlu kita syukuri. Pandemi ini terjadi disaat dunia tengah memasuki revolusi industry 4.0. Satu sisi meski keadaan ini telah mereduksi tatanan kehidupan, dilain hal pula kita “terselematkan” dengan adanya era internet.

Internet of things, bukan lagi sebuah “isu” dunia masa depan yang akan kita huni. Melainkan sebuah keadaan dimasa kini yang sedang kita jalani tanpa kita sadari. Dan pandemi Covid 19 telah menjadi sebuah titik eskalasi untuk itu semua.  

Membangun Optimisme di tengah Kontraksi Ekonomi

Jum`at, (5/02/2021) BPS telah merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia secara menyeluruh terkontraksi sebesar 2.07 %. Untuk pertama kalinya pertumbuhan Indonesia kembali mengalami kontraksi sejak krisis 1998.

  Lebih lanjut Heriyanto selaku kepala BPS menjelaskan bahwa perlambatan ekonomi akibat badai pandemi ini, tidak hanya terjadi di Indonesia namun juga dunia. Melalui situs resmi masing- masing Negara, diinformasikan pertumbuhan ekonomi AS minus sebesar 3.5 %, Singapura – 5.8 %, Korea Selatan – 1.0 %, disusul Hongkong -6.1 % serta Negara Uni Eropa -6.4%. Pengecualian terjadi China dan Vietnam yang memiliki trend positif.

Walau secara menyeluruh mengalami kontraksi, pertumbuhan ekonomi masih bisa dirasakan untuk beberapa sektor, antara lain: sektor real estate, pertanian, jasa keuangan dan asuransi, pendidikan, informasi dan komunikasi serta jasa kesehatan.

Meski sektor property tergolong jenis pengeluaran jangka panjang bagi masyarakat, sektor ini memiliki nilai yang cukup berarti karena terkait kebutuhan primer manusia. Artinya sebuah kebutuhan yang menyangkut keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. Sama halnya dengan makan. Bila seorang lapar, makan adalah satu- satunya solusi. Demikian pula dengan rumah sebagai tempat tinggal.

Bahkan tugas untuk menyediakan hunian yang layak untuk warganya telah diatur negara dalam UU N0. 1 tahun 2011 tentang perumahan dan kawasan permukiman. Di tahun 2015, melalui Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Presiden Joko Widodo mencanangkan program sejuta rumah layak huni bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).  

Dalam hal ini, bank BTN memiliki peranan penting. Sebagai bank milik Negara, BTN berfokus untuk mengelola pembiayaan sektor perumahan, menjadi intermediasi keuangan diantara pihak- pihak terkait. Pemerintah, masyarakat, pengembang dan juga lembaga pembiayaan lainnya.

BTN sendiri market leader untuk sektor property, khususnya pada perumahan subsidi. Sehingga, tidak salah kiranya keberhasilan BTN menjadi salah satu tolak ukur untuk melihat geliat ekonomi industri maupun masyarakat Indonesia kedepan.

“Sektor perumahan sendiri angka multiplyer-nya sangat tinggi. Sektor ini bisa menarik sekitar 170 sektor turunan lainnya. Seperti sektor konstruksi, tenaga kerja, pertambangan dan lain sebagainya. Ini turut menjadi fokus pemerintah saat ini.” Ujar Suarhasil Nazara selaku Wakil Menteri Keuangan di sela Virtual Meeting, pada Senin (29/ 06/2020).

Blacklog sebelum pandemi kurang lebih 11 juta. Meski terjadi perlambatan, semoga bisa dikejar.  Melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pemerintah memberikan instrument penempatan dana di perbankan, yang diharapkan dapat meningkatkan sektor property ”. imbuhnya lagi.

Dana PEN diberikan kepada sejumlah bank milik Negara (HIMBARA), antara lain Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Tabungan Negara (BTN). Selama tahun 2020 BTN sendiri mendapatkan kepercayaan penempatan dana PEN dari pemerintah sebesar 10 T, yang diberikan dalam dua tahapan. Tahap 1 dikucurkan pada 25 Juni 2020, sebesar Rp 5 T untuk tenor 3 bulan dengan tingkat suku bunga pengembalian 3.42 %. Sedangkan tahap 2 diberikan pada bulan September 2020, dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah sebesar 2.8 %.

N. Mansury, Pahala ”Alasan Sektor Properti Tetap Tumbuh Saat Pandemi” Youtube, diunggah oleh lppi_id, 8, Desember 2020, https://www.youtube.com/watch?v=Mwa1WdU6eDw

Dalam sesi diskusi yang diadakan pada Selasa, (8/12/2020) oleh Lembaga Pengembang Perbankan Indonesia (LPPI) secara virtual. Pahala Nugraha Mansury memegang amanat sebagai Direktur Utama Bank BTN saat itu, menjelaskan distribusi dana PEN tersebar ke 33 provinsi di Indonesia. Dimana komposisi  penyaluran kredit sebesar 86 % pada sektor perumahan dengan nilai sebesar 25.6 T terhadap 83 ribu debitur, dengan tingkat suku bunga rata- rata yang lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar 8.38 % . Penerima bantuan dana PEN paling banyak untuk KPR Subsidi, jumlah debitur sebanyak 59.505 orang dengan nilai 8.40 T.   

Untuk kredit subsidi, BTN sendiri membidik sektor kredit low risk. Artinya, mereka yang telah memiliki penghasilan tetap, dengan syarat besaran penghasilan tidak lebih dari empat juta rupiah. Seperti  Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI, Polri, karyawan/ karyawati BUMN/ BUMD yang menggunakan pembayaran kolektif atau pay roll.

Pada segmen KPR non subsidi, ada beberapa paket yang telah disiapkan bank BTN. Antara lain, KPR from home, KPR Harapan, KPR Gaeesss For Millenials serta rumah murah BTN.

KPR from home adalah KPR yang sengaja diformulasikan untuk business new normal. Betapa tidak, melalui situs btnproperti.co.id atau dengan mengunduh aplikasi BTN property mobile baking, calonaplikan dapat melihat jenis rumah yang dinginkan, kemudian mengajukan aplikasi kredit melalui smartphone dengan tekonologi 360 derajat.

Dilansir dari harian Kontan.co.id Rabu (29/07/2020) Suryanti Agustinar, selaku Executive Vice President Nonsubsidized Mortgage & Personal Lending Division Bank BTN menegaskan bahwa, “melalui KPR From Home The New Normal memberikan banyak keringanan kredit bagi nasabah. Antara lain, bebas biaya provisi, bebas biaya administrasi, bebas biaya appraisal serta bunga angsuran yang cukup ringan, mulai dari 3 persen fixed selama 1 tahun merupakan hasil kolaborasi dengan pengembang pilihan.”

KPR Harapan disiapkan adalah program khusus yang disiapkan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) agar mendapat suku bunga yang rendah. KPR ini dapat dinikmati baik bagi masyarakat yang bekerja sektor formal maupun non formal dengan tenor pinjaman higga 25 tahun. Dengan catatan, nilai jual maksimal rumah sebesar 300 juta rupiah.

Ada lagi program rumah murah BTN, program yang secara khusus memasarkan rumah yang bermasalah alias masuk proses lelang. Debitur akan mendapat rumah impian, dengan harga yang miring. Kelebihan lainnya, selain dapat dimiliki secara kredit tentu saja legalitas telah dijamin aman oleh pihak bank.

N. Mansury, Pahala ”Alasan Sektor Properti Tetap Tumbuh Saat Pandemi” Youtube, diunggah oleh lppi_id, 8, Desember 2020, https://www.youtube.com/watch?v=Mwa1WdU6eDw

Lebih lanjut pada Rabu (8/12/2020), Pahala menjelaskan “Secara menyeluruh Bank BTN mendukung sektor perumahan, dengan tiga prinsip utama yaitu Availability, Accestability dan Affordability. Availability artinya BTN mendorong adanya ketersedian rumah. Bekerja sama dengan lebih dari 5.000 mitra pengembang, dengan fasilitas kredit yang dapat menunjang produktivitas mereka di sektor property. Kemudian, Accestability artinya BTN menyediakan akses pembiayaan yang mudah melalui situs btnproperti.co.id atau rumahmurahbtn.co.id. Terakhir affordability, artinya menyediakan  perumahan dan pembiayaan dengan harga yang terjangkau bagi pengguna.      

Harapan kami di tahun 2021 untuk meningkatkan optimalisasi, agar dana PEN lebih banyak disalurkan pada sektor sektor perumahan untuk mendorong demand dan supply. Karena Indonesia telah memiliki Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) untuk target pembiayaan dari tahun 2020 sampai tahun 2024” Imbuh Pahala

Menurut rencana, tahun 2021 akan dilakukan pembiayaan sebanyak 157.500 unit rumah dalam bentuk FLPP kredit rumah subsidi. Kemudian untuk pembiayaan dengan skema BP2BT (Subsidi Uang Muka) itu adalah sebanyak 68.342, sementara itu penyaluran melalui BPTAPERA 75.000 dan 10.000 melalui SMF.

Apabila RPJMN dijalankan dengan baik, akan memberi pengaruh positif pada sektor lainnya. Melalui sebuah kajian input- output tentang pengaruh sektor pembiayaan perumahan  terhadap sektor lainnya. Sektor properti memiliki koefisien 2.15 rupiah artinya setiap spanding 1 rupiah pada properti akan menciptkaan output total pada perkenomian nasional sebesar 2.15 kali.

 Ini juga memiliki dampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Dari data kami, 1 pembangunan rumah menciptkan lapangan kerja sebanyak 5 kali . Begitu Pahala menerangkan secara menyeluruh.

Dalam hal ini bank BTN berperan sebagai bank penyalur dengan skema pebiayaan FLPP, SSB, dan BP2PT, memiliki harapan yang sangat besar kepada pemerintah sebagai pemberi stimulus.

Pertama dari ketersediaan dana subsidinya sendiri, dimana pada tahun 2021 diharapkan akan ada 157.500  pembangunan unit perumahan yang bisa dilakukan dengan total dana Rp 16, 6 T.

Di luar itu kita juga berharap, masih ada skema- skema pembiayaan lainnya seperti skema subsidi selisih bunga, dan juga subsidi suku bunga. Subsidi suku bunga diharapkan bisa diberikan kepada segmen tidak berpenghailan tetap, wairausaha misalnya. Sementara  skema FLPP dan SSB bisa diberikan kepada segmen masyarakat yang berpendapatan tetap.

Selain itu, fasilitas restruktursisasi kredit turut menjadi perhatian yang tidak kalah pentingnya. Dari sisi supply, semoga pengembang juga diberikan kredit kontruksi sebagai fasilitas pembiayaan untuk kemudahan pembangunan rumah subsidi. Termasuk kepada SMF (Secondary Mortgage Facility) atau SMI (Sarana Multi Infrastruktur) sebagai lembaga pembiayaan dimohonkan agar memberikan penjaminan terhadap sektor- sektor yang masih bertahan dan menanungi banyak jumlah tenaga kerja di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini. Demikian Pahala menyampaikan pemaparannya terkait sustainability sektor properti kedepan.

N. Mansury, Pahala ”Alasan Sektor Properti Tetap Tumbuh Saat Pandemi” Youtube, diunggah oleh lppi_id, 8, Desember 2020, https://www.youtube.com/watch?v=Mwa1WdU6eDw

Dengan menguasai market share KPR subsidi pada segmen Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) sebesar 89 % serta 39 % pada segmen KPR non subsidi, BTN memiliki peranan startegis  untuk menyelamatkan sektor properti di Indoenesia. Artinya, peran serta keberhasilan BTN turut pula memberi kontribusi untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tengah berjuang melawan Covid 19.

Percepatan Proses Bisnis Dan Digitalisasi

Sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam pemberian stimulus, BTN tentu memerlukan serangkaian langkah strategis yang perlu dijalankan dengan cepat, tepat dan juga tentunya memberikan nilai “daya ungkit” kepada semua pihak yang terlibat.

Baik itu, dari sisi BTN sebagai lembaga penyalur keuangan, para pengembang, masyarakat sebagai end user serta pihak- pihak yang terlibat dalam penyaluran kredit. Untuk itu, perbaikan proses bisnis dan akselarasi digital menjadi jurus jitu BTN dalam menggenjot sektor properti.

Contohnya, dengan melakukan penyederhanaan terhadap dokumen non mandetory yang diajukan oleh debitur. Hanya dengan foto copy KTP, slip gaji, serta rekening koran proses pengajuan kredit telah bisa dilaksanakan.

“Sisanya harus dilengkapi saat akad kredit. Dengan tiga dokumentasi diharapkan sedikit dokumen yang backtrack, yang akan membuat proses menjadi lambat.” Begitu ungkap Pahala N Mansury dalam webinar Strategi Bisnis Properti Menghadapi Covid pada Rabu, (20/05/2020).

Berbicara mengenai percepatan proses bisnis sendiri tidak lepas dari digitalisasi sebagai motor utamanya. Sederhananya, jika tidak lekas bertranformasi perusaahan tersebut akan ditinggalkan. Faktanya, Covid 19 ini telah menyebabkan terjadinya peralihan market, dari semula pertemuan secara fisik yang tidak begitu banyak melibatkan internet ke sebuah ruang jelajah virtual. Suatu dimensi yang dipertemukan oleh teknologi tanpa lagi memerlukan aspek fisik secara menyeluruh.

Beruntungnya pekerjaan rumah ini telah dicicil BTN dari beberapa tahun yang lalu. Tranformasi digital telah dicanangkan pada tahun 2015, kemudian di tahun 2018 secara resmi btnproperti.co.id diluncurkan. Sebuah terobosan baru, dimana pengguna dapat memperoleh infromasi yang lengkap dan menyeluruh terkait rumah yang dicari, jenis KPR yang hendak dipilih, termasuk proses pengajuan aplikasi kredit.

BTN telah menyediakan sebuah ekosistem digital, yang tidak hanya menyediakan informasi akan perumahan, namun juga kebutuhan lainnya seperti arsitek, tukang, komunitas desain interior dan lain sebagainya.  

Selama pandemi, terbukti engagment terhadap layanan online meningkat bahkan untuk transaski dengan nilai yang cukup besar, seperti keputusan pembelian rumah secara online.

Nixon L.P. Napitupulu selaku Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama BTN pada Kamis, (11/02/2021)  menjelaskan pertumbuhan user mobile BTN meningkat kurang lebih 35 – 40  persen. Pada tahun 2020, kami melakukan terobosan baru. Expo property virtual sebanyak dua kali. Kegiatan ini bisa menarik visiters sampai 1 juta. Dimana, hal itu tidak mungkin terjadi jika dilakukan dengan kunjungan biasa.

Masyarakat dari luar DKI juga dapat melihat perumahan lengkap dengan pengembang di seluruh Indoenesia. Hasilnya menarik, dari 1 juta viewers kami berhasil memperoleh tiga sampai empat ribu aplikasi yang disetujui, dengan disvers kredit mencapai kisaran hampir mencapai 1.4 T. Ini sebuah langkah awal yang luar biasa. Dan diyakini akan terus naik grafiknya. Virtual expo semacam ini terbukti efisien dan efektif dalam memangkas proses.

Nixon menambahkan sebagai bocoran, ke depan BTN akan mengembangkan satu platform yang lebih powerfull dan akurat. Diharapkan akan lebih mendorong geliat industri perumahan, khususnya pasar second yang biasa dikelola oleh agen- agen properti. Selain itu, platform ini dirancang juga akan terkoneksi secara paralel  kepada notaris, pihak appraisal bahkan bagian pertanahan. Semoga ini bisa rilis tahun 2021.” Ungkapnya optimis.

71 Tahun BTN Hadir Membersamai

BTN telah bertumbuh selama 7 dekade. Tentu, bukan usia yang bisa dikatakan “muda” lagi untuk sebuah perjalanan dalam dunia perbankan Indonesia, terutamanya sektor properti. Telah banyak peristiwa bersejarah, yang turut memberi gesekan ekonomi telah dilalui oleh BTN. Krisis ekonomi 1998 misalnya. Artinya BTN dibuat kokoh melalui berbagai pengalaman perbankan yang telah dilewati. 

Lalu, memasuki tahun 2020 awal. Badai besar itu kembali datang, sebuah virus yang dinamakan Covid 19 telah menjadi pandemi global dunia, belum bisa diramal kapan akan berakhirnya. Meski tidak bisa dibandingkan secara apple to apple dengan krisis 1998 secara manajemen resiko.

Kondisi ini kembali menguji komitmen BTN untuk terus membersamai masyarakat di tengah situasi yang tidak mudah. Hal demikian juga dirasakan oleh pemerintah, pengembang maupun masyarakat. Ada keputusan manajerial dan perubahan sistem perbankan yang dilakukan ditengah ketidak pastian.

Kerja keras serta kerja cerdas segenap insan BTN sejak awal pandemi membuahkan hasil yang cukup membanggakan bagi BTN sebagai lokomotif properti di Indonesia. Dalam perayaan HUT 71 BTN yang diadakan pada Selasa, (9/02/2021)  Nixon L.P. Napitupulu selaku Plt Dirut BTN mengumumkan pada tahun 2020 BTN berhasil bertumbuh 1.7 persen di perkreditan meski market industri secara keseluruhan minus. KPR subsidi masih tumbuh 7.7 persen.

“Kami berhasil mengakadkan kurang lebih 123 ribu rumah baru untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah walau dalam kondisi yang sulit saat covid. Meski di semester awal terjadi penurunan, bahkan minus untuk bulan April sampai Mei. Keadaan kembali menggeliat memasuki semester dua. Di bulan September kita bisa melalukan akad kerdit persis seperti sebelum covid. Puncaknya di bulan Desember BTN berhasil mencatatkan akad kredit sebanyak 6 T. Dengan masa kerja efektif kurang lebih 9 bulan saja.

Ada aliran likuiditas yang luar biasa besar, sehingga kita bisa mendapatkan likuiditas yang cukup besar di tahun 2020. Di bulan Oktober penah mendapat 83 T secondary reserve dalam satu hari.

 (Loan Deposit Ratio) LDR di bulan oktober pernah 88 persen, di akhir tahun ditutup dengan 93 persen.Jadi kita dapat meyakinkan market, kita bisa tumbuh dengan likuiditas yang dengan pertumbuhan DPK (Dana Pihak Ketiga) 23 % di saat pandemi terjadi. Dengan kerja keras semua pihak, kita bisa capai angka LDR dibawah 100% bahkan 88 %. Untuk angka NPL (Non Performing Loan) kita masih berjuang untuk memperbaiki kualitas kredit. Sempat 4.9 namun di akhir tahun kita tutup menjadi 4.2 persen.

 Coverage Ratio terjadi perbaikan kurang lebih 115 persen, artinya setiap satu rupiah NPL telah kami cadangkan kurang lebih 1.15 rupiah untuk antisipasi jika terjadi perburukan.  Yang lebih membanggakan, kita bisa tumbuh 670 %, dengan peroleh laba kurang lebih 1.6 T di tahun 2020. Tentunya ini tidak terlepas dari dukungan mitra BTN yang terkait.” jelas Nixon mantap.

Semua Berawal dari Rumah

Berdasarkan catatan Industry Mega Shift 2021 After Pandemic yang disusun oleh Yuswohady dan tim. Krisis kesehatan pada tahun 2020 memunculkan sebuah impian baru tentang konsep rumah masa depan. Kedepan, alasan kesehatan turut menjadi pertimbangan dalam memiliki rumah impian.   Rumah dengan lingkungan yang bersih, sehat, aman dan berorientasi lingkungan (Cleaniness- Healthy-Safety-Environment).

Sumber : BTN.co.id

Disain rumah masa depan adalah rumah yang dirancang, untuk memiliki ruangan khusus yang dapat digunakan untuk aktivitas bekerja, belajar atau berusaha. Sehingga, perlu disain yang mendukung, seperti sirkulasi udara, cahaya matahari, juga tata letak yang sangat mendukung untuk wfh.

 Selanjutnya, less crowded. Rumah dimasa depan adalah rumah yang tidak begitu rapat. Kebijakan untuk menghindari kerumanan turut menggeser preferensi konsumen. Rumah tapak (landed house) lebih diminati dari pada hunian bertingkat seperti apartemen. Lalu More localised, adanya sub kota dalam kota. Yang telah memiliki akses lengkap sepert rumah sakit dan tempat belanja. Sehingga, mobilitas dapat ditekan.

Terakhir, smart home. Rumah yang terintegrasi dengan digital, seperti remote ac, remote tivi, saklar lampu yang semula pengaturan secara terpisah dan manual.  Kedepan, akan terintegrasi dengan smartphone sehingga meminimalkan kontak fisik dimana menjadi salah satu penyebab penyebaran virus. Hal ini tentu akan menjadi sebuah peluang bagi pemain sektor properti kedepan untuk menghadirkan solusi perumahan yang aman dan nyaman di masa depan.

Kedua, rumah virtual. Digital banking merupakan salah satu “rumah virtual” yang hampir dimiliki oleh pengguna smart phone saat ini. Bahkan digital banking kini bertransformasi menjadi layanan yang lebih kompleks lagi, sesuai kebutuhan end user.

Bank BTN sendiri telah mengembangkan layanan BTN properti. Sebuah platform digital yang menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya kepada segmen millenial akan suatu informasi seluk beluk hunian yang bisa diakses secara online. Termasuk, proses pengajuan KPR yang bisa dilakukan online.

Sama halnya dengan rumah fisik yang perlu memberikan ketenangan dan rasa nyaman. Rumah virtual juga tidak kalah pentingnya dalam memberikan fleksibilitas dan rasa aman bagi user.

 Pertama, “rumah virtual” harus mampu untuk menjawab kebutuhan pengguna, kedua adanya sistem layanan yang sifatnya one stop sollution. Dalam satu akun, telah terntegrasi secara in line dengan beberapa layanan lainnya. Selanjutnya, kecepatan dan user friendly. Mereka tidak lagi kesulitan untuk setiap aktivitas online entah karena sebab sistem error dan masalah teknis lainnya.

Terakhir, adalah tingkat keamanan merupakan aspek krusial yang sangat penting untuk dijaga. Kasus data bocor dan kejahatan perbankan bukan lagi masalah yang baru dalam dunia digital, tentunya akan ini dapat menimbulkan kerugian bagi end user, sehingga membuat konsumen menjadi tidak lagi percaya (distrust) dengan aplikasi yang mereka gunakan.

Menghadirkan rumah yang aman dan nyaman baik di dunia nyata maupun dunia maya bagi masyarakat Indonesia adalah sebuah harapan besar yang “dititipkan” kepada bank BTN sebagai lokomotif terdepan sektor properti di Indonesia.

Sebuah kalimat yang dikutip dari Yuval Nowah Harari dalam tulisannya yang berjudul, The World After Corona Virus “Badai akan berlalu, umat manusia akan selamat, kebanyakan kita akan tetap hidup- tetapi kita akan menghuni dunia yang berbeda”.  Semoga dunia yang berbeda itu adalah sebuah masa depan yang lebih baik kelak. (*)

Comments

comments

About author

redaksi

Dalam perkembangannya, selain melakukan penyuntingan, secara umum redaktur juga bertugas memberikan pengarahan kepada reporter ketika peliputan ke tempat tertentu atau terhadap isu tertentu yang sedang hangat.