Pasar Atas Bukittinggi Dilahap Si Jago Merah

Pasar Atas Bukittinggi Dilahap Si Jago Merah

Kebarakan Pasa Ateh
EkspresNews.com – Setelah beberapa hari sijago merah melalap kedai P&D di kawasan Pasar Banto, nasib malang juga dialami oleh pedagang pusat pertokoan Pasar Atas kawasan blok A, B, dan C, sekitar pukul 06.30 WIB, Senin (30 Oktober 17). Semua pedagang dan warga yang melintas saling membantu menyelamatkan barang untuk diselamatkan.

Yanti, salah seorang pemilik toko hanya bisa menangis melihat tokonya terbakar. “Kami pasrah dan tawakkal, kami tidak tahu berapa banyak toko yang terbakar,” ujar Yanti kepada EkspresNews. Petugas pemadam kebakaran tidak hanya dari Kota Bukittinggi saja, dari Solok dan Pariaman turut membantu.




Sampai saat ini beberapa unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api. Selain itu, untuk mempermudah proses pemadaman, juga didatangkan beberapa unit alat berat. “Kemungkinan ada korsleting listrik yang menjadi penyebab kebakaran,” ujar Yanti. Hingga berita ini disiarkan, petugas Pemadam Kebakaran masih berusaha untuk memadamkan api. (Yasir)

Read more
Pemko Solok Luncurkan Program E-Warong

Pemko Solok Luncurkan Program E-Warong

EkspresNews.com – Walikota Solok,  Zul Elfian. SH. Msi,  membuka secara resmi Peluncuran Layanan Eletronik Warung Gotong royong (E-Warong) Kube Jasa, Jumat 27 Oktober 2017, di Telaga Biruhun, Simpang Rumbio,kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok. Acara yang dikemas oleh Dinas Sosial Kota Solok itu,  turut dihadiri oleh OPD terkait dipemerintahan kota Solok,  perwakilan dari Bank BRI Solok,  serta masyarakat daerah setempat dan sekitarnya.

Disela kegiatan itu,  kepala Dinas Sosial kota Solok, Dra. Rosavela Yohariza, MM, mengatakan,  E-Warong merupakan prodak dari Kementrian Sosial RI yang bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam melakukan transaksi yang berkaitan dengan penggunaan mata uang.




Dalam  melaksanakan prodak yang telah diluncurkan itu Kementrian Sosial RI bekerja sama dengan Himpunan Bank Negara (Himbara) yang terdiri dari Bank BRI, Mandiri,  BNI, dan Bank negara lainnya, dan khususnya  untuk daerah Sumatera Barat,  pelaksanaan program E-Warong  pemerintah daerah  bergandeng tangan dengan Bank BRI setempat.

Jumlah E-Warong Kube Jasa yang akan tersedia di tiap tiap daerah tingkat dua yang ada,  ditentukan lansung oleh Kementria Sosial RI, dan hal tersebut berdasarkan jumlah masyarakat dan kebutuhannya yang disampaikan oleh dinas Sosial setempat.

“Untuk kota Solok Kementrian Sosial RI telah mengalokasi sebanyak 5 E-Warong Kube Jasa, namun sampai saat ini baru 3 E-Warong yang sudah mendapatkan penyaluran dana, dan salah satunya E-Warong Kube Jasa Simpro Sejahtera Kota Solok,” ungkap Kadis Sosial Kota Solok.

Sementara itu dalam kesempatannya disaat membuka peluncuran E-Warong di kota Solok,  Walikota Solok Zul Elfian mengakui, bahwa prodak yang telah diluncurkan oleh Kementrian Sosial RI itu,  merupakan sebuah program yang multi guna, yang wajib dengan segera disosialisasikan  kepada masyarakat.

Diterangkannya,  program ini juga merupakan kerjasama yang melibatkan pemerintah, BUMN,  dan masyarakat daerah setempat sebagai pelaku utamanya. Seperti hal nya,  didalam program yang ada,  pihak BUMN bertanggung jawab sebagai penyalur dana dan penyedia sarana seperti E-KTP Canel.

Sementra itu  kata Wako Zul Elfian. gotong royong yang dimaksud dalam program ini adalah pengelolaan yang dilakukan lansung oleh masyarakat yang bertugas sebagai agen Brilink atau pelayan dalam transaksi yang dilakukan oleh masyarakat lainnya.

Zul Elfian menyampaikan, E-Warong juga akan dipergunakan untuk menyalurkan setiap bantuan kemasyarakatan yang diberikan oleh pemerintah, dan dalam penyaluran itu tidak akan ada pemotongan apapun, dan selain itu di E-Warong Kube Jasa juga bisa melakukan transaksi tunai atau penarikan tunai.




“Dengan harapan asyarakat yang lanjut usia,  kurang mampu mayaoritas perempuan,  tujuan agar trabsaksi tercatat dan lansung berfungsi sebagai agen brilink, selain bisa transaksi tinainutk kebutuhan harian bisa untuk trannsfre tunai dan tarik tunai,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, walikota Solok juga menyumbangkan satu unit kendaraan roda dua untuk kendaraan operasional agen Brilink E-Warong Kube Jasa Simpro Sejahtera,  dan untuk E-Warong lainnya akan menyusul bantuan serupa yang akan diberikan oleh pihak BUMN setempat. (Roni)

Read more
Ka BPJS Rizka Adhiati : Realisasi Program Kesehatan di Solok Meningkat

Ka BPJS Rizka Adhiati : Realisasi Program Kesehatan di Solok Meningkat

P_20171027_102639

EkspresNews.com – Dengan bergulirnya program jaminan kesehatan Nasional-kartu Indonesia sehat (JKN-KIS), sangat berdampak baik terhadap pelayanan kesehatan masyarakat di seluruh Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena program JKN-KIS tekah membuka akses besar kepada masyarakat, untuk mendapatkan jaminan pelayanan kesehatan.

Seiring berjalanya waktu, program JKN-KIS terus berkembang bergerak maju menuju cakupan semata. Maka sampai dengan saat ini, secara Nasional jumlah masyarakat yang telah mengikuti program JKN-KIS mencapai 180 juta jiwa, atau lebih dari 70% atau lebih dari proyeksi jumlah penduduk Indonesia di tahun 2017.




Demikian diungkapkan Rizka Adhiati, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Solok. Saat kegiatan Media Gathering Jumat, (27/10) di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Solok. Hadir dalam acara itu, Kepala Kabupaten BPJS Solok Selatan, Kabupaten Solok, dan Kota Sawahlunto, serta media media cetak, elektronik dan media online.

Rizka Adhiati menuturkan, hingga Oktober 2017, pencapaian kinerja program JKN-KIS untuk BPJS Kesehatan Cabang Solok. Mencakub Kota Solok, Kabupaten Solok, Kabupaten Solok Selatan, Kota Sawahlunto, Kabupaten Sijunjung, dan Kabupaten Dhamasraya. Dari perjalanan waktu, terus mengalami perkembangan dan peningkatan, maka sampai Oktober 2017 ini jumlah peserta BPJS Kesehatan Cabang Solok mencapai 716.097 jiwa.

Lebih lanjut disampaikan Rizka, pertumbuhan jumlah peserta JKN-KIS di Wilayah Cabang Solok. Sangat diiringi dengan jumlah fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan Cabang Solok sampai sekarang ini.

“Sampai Oktober 2017 ini, Kantor Cabang BPJS Solok telah bermitra dengan 121 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Yang terdiri atas 61 Puskesmas, 33 Dokter Praktik Perorangan, 13 Dokter gigi Perorangan, 6 Klinik Pratama, dan 8 Klinik TNI/Polri,” jelas Rizka.

Selanjutnya disampaikan Rizka Adhiati, sampai tahun 2017 ini, BPJS Kesehatan Cabang Solok juga telah bekerja sama dengan 28 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) yang terdiri dari 8 Rumah Sakit, 7 Apotek, serta 13 Optik.

Rizka bertekat, Guna meningkatkan pelayanan kepada peserta JKN-KIS, BPJS Kesehatan Cabang Solok berkomitmen melakukan berbagai inovasi. Membina kerja sama hubungan yang baik dengan meningkatkan pelayanan kepada peserta JKN-KIS.




Agar pelayanan kepada masyarakat, BPJS Kesehatan Cabang Solok secara berjadwal membuka stand pendaftaran di berbagai titik di Kota dan Kabupaten wilayah kerja. ” Hal itu kita lakukan bukan saja untuk mendaftar bagi peserta baru. Akan tetapi juga peserta yang sudah terdaftar dan ingin melakukan pembayaran iyuran juga bisa melalui stand tersebut,” papar Kepala BPJS Kes Cab. Solok Itu.

Kemudian kta Rizka, kedepan kuta dari BPJS Kesehatan Cabang Solok berkomitmen memberikan pelayanan yang baik kepada seluruh peserta JKN-KIS yang ada di wilayah kerja BPJS Cabang Solkk. Dan juga akan melakukan berbagai upaya memberikan penyuluhan kepada masyarakat banyak, terhadap pentingnya program JKM-KIS tersebut. (Roni)

Read more
Biksu Lim U Tek Membangun Adanya Peradaban Agama Budha di Pontianak

Biksu Lim U Tek Membangun Adanya Peradaban Agama Budha di Pontianak

EkspresNews.com – Klenteng atau kelenteng (bahasa Hokkian, bio) yang umumnya biasa kita kenal adalah sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa yang ada di Indonesia. Di Indonesia, penganut kepercayaan tradisional Tionghoa ini sering disamakan sebagai penganut agama kepercayaan yang kita sebut Konghucu, dan klenteng dengan sendirinya sering dianggap sama sebagai tempat ibadah agama Konghucu.

Berbagai daerah yang ada di Indonesia, klenteng juga disebut dengan istilah tokong. Istilah ini diambil dari bunyi suara lonceng yang dibunyikan pada saat menyelenggarakan upacara.

Kelenteng yang bernuansa arsitektur Tionghoa ini hanya dikenal di pulau Jawa dan tidak dikenal di wilayah Indonesia lainnya.Untuk Tionghoa dii Sumatera mereka menyebutnya bio, dan di Sumatera Timur khususnya mereka menyebutnya Am (dibaca am) dan bahkan penduduk setempat menyebutnya dengan kata pekong atau bio.




Lain halnya di Kalimantan di orang Hakka menyebut kelenteng dengan istilah thai Pakkung, dan bisa juga pakkung miau atau shinmiau. Penyebaran dan pertumbuhan Adanya Ajaran Budha cepat meluas di Indonesia dan istilah kata ‘kelenteng’ menjadi umum dan mulai meluas mamfaat penggunaannya.

Bagi masyarakat Tionghoa keberadaan Kelenteng khususnya bukan saja berarti sebagai tempat ibadah saja, Selain Gong-guan (Kongkuan), Klenteng mempunyai peran yang sangat besar dalam tumbuhnya adanya kehidupan komunitas Tionghoa dimasa lampau.

Klenteng untuk pertama kali dibangun yakni pada tahun 1650 oleh Letnan Kwee Hoen dan dinamakan Kwan Im Teng .Keberadaan Klenteng ini ditujukan sebagai persembahan dan diberikan kepada Kwan Im (Dewi Pewelas Asih), Kwan Im atau Avalokitesvara bodhisatva Dari kata Kwan Im Teng inilah orang Indonesia akhirnya lebih mengenal kata Klenteng daripada Vihara, yang kemudian melafalkannya sebagai Klenteng hingga saat ini sebagai bio yang merupakan dialek Hokkian dari karakter (miao), Ini adalah sebutan umum bagi klenteng di Republik Rakyat Tiongkok.

Klenteng sebagai tempat suci dan sebagai tempat penghormatan untuk leluhur “Ci” (rumah abu) atau dewa, dan masing-masing marga membuat “Ci” untuk menghormati para leluhur mereka sebagai rumah abu. Para dewa-dewi yang dihormati tentunya berasal dari suatu marga tertentu yang pada awalnya dihormati oleh marga mereka.

Perkembangan yang terus meluas sepanjang waktu dan zaman, penghormatan kepada dewa-dewi lalu dibuatkan ruangan khusus yang dikenal sebagai klenteng yang dapat dihormati oleh berbagai macam-macam marga atau suku. Di dalam klenteng sendiri bisa ditemukan (bagian samping atau belakang) dikhususkan untuk abuh leluhur yang masih tetap dihormati oleh para sanak keluarga masing-masing.

Klenteng juga menyediakan tempat untuk mempelajari ajaran-ajaran atau agama leluhur seperti ajaran-ajaran Konghucu, Taoisme, dan bahkan ada pula yang mempelajari ajaran Buddha. Klenteng selain sebagai tempat penghormatan para leluhur, para dewa-dewi, dan tempat mempelajari berbagai ajaran, juga digunakan sebagai tempat yang damai untuk semua golongan tidak memandang dari suku dan agama apapun.

Adanya Perjalanan Biksu Lim U Tek Di Pontianak

Keberadaan Ajaran Budha di Pontianak juga tidak terlepas dari adanya Biksu Lim U Tek yang mengembangkan ajaran-ajaran kedamaian dan sosial yang dimulai sejak Abad XIX(sembilan belas) telah berkembangnya ajaran Budha di Kalimantan, khususnya di Pontianak.

Adanya keberadaan kelenteng tua yang bernama Meng Siang Theng yang tepatnya berada dijalan Tjemara pontianak No.9 yang sekarang dikenal dengan nama jalan Gusti Sulung lelanang pontianak merupakan salah satu Kelenteng yang dibangun dan didirikan Biksu Lim U tek.




Kelenteng dari peninggalan Lim U Tek yang dapat dijumpai saat ini yakni Klenteng Meng Siang Theng . Ahli waris ataupun cucu dari Biksu Lim U Tek ternyata masih dapat kita temukan di tempat itu.

Pria separuh baya yang kami temui itu dikenal dengan nama Lim Seng Hak, alias Subroto dan menceritakan banyak tentang perjalanan kakeknya (Lim U Tek) hingga saat ini tetap menjadi sejarah adanya perkembamngan ajaran Budha di Pontianak.

Biksu Lim U Tek alias Ling Tek Eng lahir di Kekjo Tiongkok pada tanggal 3 Juli 1915 , datang ke pontianak sekitar tahun 1938. “Lim U Tek dengan penuh keyakinan untuk membantu sesama yang membutuhkan”, kata Lim Seng Hak. Lim U Tek lanjutnya menjelaskan selain dalam menyebarkan ajaran agama Budha di wilayah Pontianak juga mendirikan pabrik roti yang bernama “Meng Kie” dengan tujuan membatu roda perekonomian sekitar, katanya kepada media.

“Selama berdiam di pontianak Lim U Tek telah banyak melakukan kegiatan kegiatan sosial terutama ketika pada zaman pendudukan jepang”.Tegas Lim Seng Hak.

Saat itu banyak penduduk disekitar kelenteng pada zaman itu yang kelaparan, tertembak ataupun luka lalu dibawa ketempat kediaman Lim U Tek untuk diobati dan tinggal untuk semetara ditempat Lim U Tek, tambahnya lagi kepada media yang sedang mengunjungi perjalanan dan peninggalan sejarah Budha di Pontianak.

Bagaimana seorang Biksu memiliki cucu bila Biksu Lim U Tek Tidak menikah, Tanya awak Media Kepada Bapak yang merngaku Cucu dari Biksu Lim U Tek ini kepada kami( media-red).

Lim Seng Hak alias Subroto mengakui bahwa, Lim U Tek adalah seorang biksu yang tidak menikah, sehingga saat itu Lim U Tek mengangkat anak yaitu :

1.(satu) Tjiang Seng. 2(Dua) Lim A Sai (Saiman Ngabianto). 3(Tiga) Lie Song Kia (Subroto Ali). Kebenaran sebagai anak angkat tersebut dibuktikan dengan adanya lampiran dari Kelurahan Benua Melayu Darat, Pontianak Selatan.

Setelah mengangkat anak angkat Lim U Tek mengajak anak-anaknya tinggal bersama Lim U Tek yang terletak dijalan Tjemara Pontianak dan bekerja dengan Lim U Tek pada pabrik roti tersebut, serta membantu juga mempersiapkan segala sesuatu terkait upacara sembayang di Kelentang Budha Meng Siang Teng seperti mempersiapkan Hio, Lilin, dan persiapan alat sembayang lainnya.




Biksu Lim U Tek Akhirnya pada Tahun 1969 mendirikan yayasan Kelenteng Budha Meng Siang Theng, dengan pengurus saat itu yakni : Pakoesoe Halim sebagai ketua , Subroto Ali(Lie Song Kia) sebagai seketaris, dan Lim U Tek sendiri sebagai bendahara. (Eva Andryani)

Sumber  : Bidik Fakta

Read more
Polres Solok Kota Dony Setiawan : Ekspos Pengungkapan 4 Kasus Menonjol

Polres Solok Kota Dony Setiawan : Ekspos Pengungkapan 4 Kasus Menonjol

IMG-20171023-WA0022

EkspresNews.com – Kepolisian Resor (Polres) Solok Kota menggelar Press Release terkait pengungkapan empat kasus menonjol yang terjadi dijajaran Wilayah Hukum di Mapolres Solok Kota, sejak beberapa bulan ini. Acara tersebut dilaksanakan, Sabtu (21/10).

Keempat kasus yang diekspos Polres Solok Kota tersebut adalah, kasus jambret handphone di atas motor, perampokan dengan menggunakan senjata api (senpi). Pencurian dengan pemberatan (curat) dan penyelundupan narkoba ke Lapas Kelas II.B Laing Solok oleh warga yang tinggal di samping Lapas.




Press Release tersebut dilakukan langsung Kapolres Solok Kota AKBP Dony Setiawan, didampingi Wakapolres Kompol Sumintak, Kabag Ops Kompol Bresman Simanjuntak, dan Kasat Narkoba AKP Dodi Apendi. Turut dihadirkan delapan tersangka, beserta barang bukti, seperti satu senpi rakitan mirip revolver, senpi import jenis FN buatan Jerman, satu paket ganja, dan BB lainnya.

Dalam momentum acara itu. Kapolres Solok Kota AKBP Dony Setiawan memaparkan, untuk kasus jambret, personel Reserse Polres Solok Kota menangkap pelaku berinisial YS di Deli Serdang, Sumut. Pelaku dalam aksinya menggunakan modus mengambil handphone saat masih berkendara diatas motor. Sementara untuk kasus perampokan bersenjata api.

Lebih lanjut disampaikan Dony Setiawan, dua pelaku berinisial HM dan HS dilakukan di wilayah Jalan Lingkar Utara Kota Solok. Modus yang dilakukan kedua pelaku terbilang berani. Yakni dengan cara mengetuk pintu calon korban dengan alasan akan meminjam uang.

“Modusnya dengan langsung mendatangi rumah calon korban, dengan alasan meminjam uang. Begitu pintu dibuka oleh yang punya rumah, pelaku langsung menembak korban. Dalam kasus tersebut, untung korban memiliki pintu ganda. Sehingga, saat korban ditembak, kedua pelaku tidak bisa masuk, karena ada pintu kedua berupa teralis besi,” jelas Dony.

Disampaikan dia, kedua pelaku diduga terkait jaringan Lampung, karena salah seorang di antaranya berasal dari Lampung dan tercatat berdomisili di Nagari Cupak, Kabupaten Solok. Pelaku adalah warga Nagari Cupak kabupaten Solok. Dalam aksinya pada dinihari tersebut, kedua pelaku menggunakan senpi jenis FN kaliber 99 buatan Jerman dan satu senpi rakitan mirip revolver, serta satu senjata tajam jenis pisau.

Sedangkan kasus menonjol yang ketiga adalah kasus pencurian dengan pemberatan (curat), dengan speaialis handphone dan sepeda motor. Mereka melakukan aksi di Perumahan Villa Damar Blok H-3 Transad, Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. “Awalnya, petugas melakukan penangkapan terhadap dua pelaku berinisial RH dan AS. Hasil dari interogasi keduanya, petugas kemudian menangkap dua pelaku lainnya, yang juga merupakan teman dua Pelaku,” paparnya.

Di ungkapkan Dony, penangkapan RH dan AS dibekuk personel Satreskrim dalam pengejaran di daerah Muara Labuh, Solok Selatan. Dua pelaku lainnya, OT dan ASP, dibekuk dari pengembangan. Keduanya ditangkap di rumahnya, di Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang. Kita berterima kasih pada Polsek Lubeg yang ikut membantu Penangkapan.

Sementara Kata Dony, kasus keempat yang berhasil diungkap personel Polres Solok Kota adalah penyeludupan narkoba jenis ganja ke dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II B Laing Solok. Pelaku yang berinisial DF merupakan warga Kampung Jawa, Kota Solok. DF tinggal di dekat Lapas Kelas II.B Laing Solok.




“Dalam aksinya, DF melemparkan satu paket ganja ukuran sedang dari balik pagar Lapas. Namun, paket yang dibungkus kantong kresek berwarna hitam dan dilakban tersebut, justru menyangkut di kawat berduri pagar Lapas,” tutur Dony.

Dijelaskan dia, adapun paket ganja yang tersangkut itu diketahui oleh salah seorang petugas Lapas. Setelah dilaporkan ke Polres Solok Kota, petugas Satres Narkoba langsung melakukan pengembangan. Akhirnya bisa menangkap tersangka saat masih berkendara di jalan sekitar Lapas. Saat digeledah, petugas menemukan ranting ganja di dalam jok motor tersangka. Saat interogasi, tersangka mengakui barang haram itu adalah miliknya, dan ranting ganja yang tertinggal di jok motor, merupakan sisa dari paket yang tersangkut di kawat berduri pagar Lapas.

” dengan digap petugas Lapas mengejar tersangka. Dan kemudian ketiga petugas lapas yang ikut membantu pengungkapan kasus itu. Atas kinerja yang sangat baik, ketganya mendapatkan penghargaan dari Polres Solok Kota, Sabtu (21/10), dalam acara upacara resmi di Halaman Mapolres Solok Kota. (Roni)

Read more