Catatan Ampera Salim : “Namo Baiak”

Catatan Ampera Salim : “Namo Baiak”

EkspresNews.com – Satiok Mak Uniang payi rapek kalua daerah urusan karajo, urang manyuruah baliau jadi imam sumbayang bajamaah. Sakali wukatu di Yogya, shaf mugarik lah panuah nan kajadi imam alun tibo. Ado surang nan basuaro, “Orang Padang siapa, ayo maju jadi imam.” Ba itu bana tuah jadi urang awak di nagari urang.

Sakali wukatu maso Mak Uniang jadi urang surek kaba, di awa tahun sambilanpuluhan, mangecek jo urang Bugih Makasar. Kato baliau di kampuangnyo saisuak, kok ado kamatian, untuak mamandian, mangapani mayik, sampai malapeh jo duwah salamat, imbau sajo urang Padang.

Asa tasabuik urang Padang, kecek kawan dari Makasar ko, pasti urangnyo siak, pandai baugamo. Caro manyarinyo murah sajo. Caliak sajo laki laki manggaleh di pasa nan mamakai kupiyah hitam. Sapo sajolah kok ka batanyo mintak toloang masalah ugamo.

Ruponyo namo baiak urang awak di tanah Sulawesi tu, diukia dek babarapo urang pangulu maso sausuak. Antaronyo Datuak Ripatimang, Datuak Ripari, Datuak Ri Tiro. Baitu urang Bugih Makasar manyabuik tigo urang pangulu nan maanta ugamo Islam ka kampuangnyo.

Manuruik kaba nan dijawek, urang Minang nan payi ka Sulawesi tu, banamo Katik Tungga bagala Datuak Makmur, urang Sulawesi manyabuik Datuk Ribandang. Katik Suluang bagala Datuak Sulaiman disabuik di Sulawesi Datuak Patimang. Ungku Nurdin Ariyani bagala Katik Bungsu disabuiknyo Datuak Ri Tiro.

Satantang Datuak Patimang juwo tasabuik dek urang Bima Nusa Tenggara Barat. Baliau maanta ugamo Islam ka sinan. Ado pulo Abdullah Raqie bagala Datuak Karamah basamo jo Ungku Mangaji. Baliau ka Palu, Bulukumba sampai ka Gorontalo jo Maluku. Datuak Putiah, Kalano Basa sampai ka Sulu jo Philipina.

Namo namo urang awak tu diukia jo tinta ameh dek urang tampatan. Sarupo di Palu ado IAIN Datuk Karamah. Di Bulukumba ado Islamic Center Datuk Tiro. Malah di Manila ibukota Philipina ado Musajik Datuk Putih.

Carito ko disampaian Mak Uniang ka Malanca sudah sumbayang subuah di Musajik Tawakal, pagi tadi.

“Jadi waang nan ka iduik lamo, usahoanlah banamo baik takah baliau baliau tu,” kecek Mak Uniang manasihati Malanca.

“Tantu bagala datuak pulo waden dulu Mak Uniang, supayo hebat takah urang urang tu,” tanyo Malanca.

“Tabaliak waang mah. Jadi urang hebat waang dulu, baru bagala datuak,” baleh Mak Uniang.

Malanca paniang…. (*)

Read more
Antara Karcis Parkir dan Pendapatan Daerah

Antara Karcis Parkir dan Pendapatan Daerah

Catatan Abdi Masa

IMG20180228113513-640x480EkspresNews.com – Persoalan yang banyak jadi pemikiran para pengendara adalah uang parkir. Pernahkah pengendara, baik roda dua maupun roda empat berpikir kalau setiap mereka dimintai uang parkir oleh petugas, turut meminta karcis parkir?

Problema ini juga sempat dibahas didalam sebuah pembicaraan bersama seorang kawan. Ia mengatakan, kewajiban kita membayar parkir. Tapi hak kita untuk mendapatkam tiket parkir. Sebab dengan adanya tiket itu, disinyalir uang parkir tersebut akan mengalir ke kas daerah sebagai retribusi resmi.

Namun, menurut kawan yang saat ini memimpin sebuah perusahaan swasta itu kebanyakan pengendara tidak peduli dengan secarik kertas yang bertitik-titik timbul itu. Seakan-akan kertas kecil itu tidak bernilai guna. Padahal, menurutnya gara-gara secarik kertas bisa menambah retribusi atau pendapatan daerah.

Kalau kita boleh menceritakannya, kata dia, petugas parkir setiap pagi melapor ke instansi terkait untuk mendapatkan tiket, soal banyaknya entah berapa lembar. Namun dalam pencatatan instansi itu, tentunya sebanyak apa kertas itu keluar, sebanyak itulah data yang mereka punya untuk pemasukan resmi daerah dari pungutan parkir tadi. Akan tetapi, di lapangan punya cerita lain.

Ada pengendara yang membayar parkir, tapi tidak meminta karcis. Otomatis uang parkir tersebut tidak ada “kuitansi”. Lantas, tidak menjadi pemasukan daerah. Patut juga kita sayangkan bagaimana pola pikir pengendara yang tidak peduli hal kecil ini. Sudah sepatutnya pengendara peduli dengan meminta karcisnya, terlepas nanti diberikan atau tidak oleh petugas.

Sebab, persoalan parkir di daerah ini sudah sangat parah. Kadang petugas parkir sudah mengarahkan pengendara untuk parkir ditempatnya, namun tetap saja asal parkir. Selain itu, banyak toko, warung atau cafe dimana pengelolanya juga tidak sadar soal perparkiran ini. Contohnya? Banyak kok, cek sajalah di Kota Padang Tercinta Ku Jaga dan Ku Bela ini. (*)

Read more
Ditanya Serius, Pilih Merk Honda atau Yamaha

Ditanya Serius, Pilih Merk Honda atau Yamaha

Catatan Abdi Masa

pilihanEkspresNews.com – Dua merk terkenal dan sudah mendunia. Honda dan Yamaha. Menyebutkan merk Honda lebih dahulu dibanding Yamaha bukan serta merta Honda lebih hebat dibandingkan Yamaha. Hanya saja kebiasaan dan proses branding dari masyarakat, khususnya Padang, segala jenis kendaraan roda dua disebut atau biasa dipanggil honda.

Awal perkenalan saya dengan dua produk besar itu dari pertandingan MotoGP. Namun, saya tidak melihat langsung setiap pertandingan secara langsung di lokasi balapan, melainkan lewat televisi. Sengitnya pertarungan antara motor-motor balap itu menjadi ‘rutinitas’ dan tontonan wajib saat itu.

Tulisan ini tidak akan membahas saya memilih Yamaha ataupun Honda berdasarkan spesifikasi, keiritan bahan bakar, ataupun performa roda dua tersebut dijalanan. Bukan. Pemilihan ini akan berdasar pada pengalaman saya saat memiliki masing-masing motor itu. Saya pernah punya Honda dan juga pernah memiliki Yamaha.

Dari pengalaman itu saya belajar, ternyata dua merk motor ini sama-sama memiliki kekuatan untuk menahan beban (berat badan) saya yang sudah mencapai angka 90 kg. Tunggu dulu, benar kalau saya sudah masuk dalam kategori obesitas. Tapi, dua motor ini memiliki kemampuan yang sama. Apalagi saat saya mengendarainya dari Kota Padang melewati Sitinjau Lauik (kondisi jalan yang menanjak) hingga Kabupaten Solok.

Secara keseluruhan dalam perjalanan itu, saya tidak mengeluhkan persoalan mesin, tarikan, rem ataupun segala macam jenis persoalan mesin. Dua-duanya saya akui bagus di setiap perjalanan saya. Sehingga pada posisi ini, saya kembali masih ragu saat ditanya untuk memilih salah satu dari dua jenis merk motor itu.

Namun, saya akhirnya mendapatkan petunjuk baru. Dan sepertinya bisa mengambil keputusan. Saya pernah melakukan perawatan berkala di dua main dealer. Dua-dua main dealer itu punya pelayanan yang prima, ramah, sopan, santun hingga murah senyum walau tidak ada diskon. Akan tetapi, saya mendapatkan nilai tambah di main dealer Honda. Mungkin karena banyak kenalan disana yang bekerja, mulai dari level bahwa hingga level atas-atas.

Di Honda, khususnya di Hayati, main dealer di Kota Padang, saya kenal dengan General Managernya. Awal perkenalan kami bukan karena dia seorang GM, tapi seorang mahasiswa. Kami sama-sama mengambil kuliah strata dua. Kami satu kampus. Kami satu konsentrasi, sayangnya GM tersebut masih dalam proses menyelesaikan thesis sedangkan saya sudah diwisuda. Semoga sedikit memberikan semangat kepada teman saya itu.

Okelah, jadi jika saya diminta untuk memilih antara dua merk itu, sudah jelas pilihan saya yang itu. Namun, perlu diketahui, catatan saya kali ini bukan catatan yang disponsori dari salah satu merk. Tapi murni saya ditanyai oleh seorang teman. Semoga teman saya yang bertanya bisa memahami. “Jika ada orang dalam disana, pilih saja itu,” balas saya singkat di pesan WA. (*)

Read more
Segelas Cappucino dan Sejuta Bahan Diskusi di Parewa

Segelas Cappucino dan Sejuta Bahan Diskusi di Parewa

Catatan Abdi Masa

12963648_10206385097175013_2032607299108152821_nEkspresNews.com – Minggu, 11 Februari 2018, di sudut Kedai Kopi Parewa, perlu diteliti bahwa konsep warung kopi memang tidak pernah berubah. Persoalan dasar dalam segelas atau secangkir kopi masih tetap beriringan dengan diskusi ringan para mahasiswa Universitas Andalas. Lokasi Kedai Kopi Parewa ini memang sangat dengan kampus tertua di Pulau Sumatera ini. Sehingga banyak mahasiswa menjadikan warung-warung kopi sebagai tempat nongkrong. Hampir setiap kursi di Kedai Kopi Parewa ini diisi oleh mahasiswa.

“Pola diskusi sekarang tidak hanya dilakukan di kampus atau ruang publik seperti televisi ataupum radio, gaya diskusi mahasiswa jaman now juga berpindah ke warung kopi seperti di Parewa ini,” ujar alumni Magister Manajemen, Ikwan Hadipura. Menurutnya diskusi tidak hanya soal politik saja, terdengar beberapa topik sosial dan budaya yang dibicarakan oleh mahasiswa ini. “Diskusi segala hal, ini sudah benar, mahasiswa harus lebih kritis soal bangsa ini. Beberapa gagasan bahkan muncul dari kedai kopi,” ujar pria yang baru saja mengakhiri masa lajangnya itu.

Dunia kritis mahasiswa, lanjut Ikwan, memang perlu diasah terus. Baru-baru ini ada aksi “kartu kuning” mahasiswa kepada Presiden. Namun, Ikwan menilai masih kurang kritis dalam hal substansialnya. “Namanya juga mahasiswa, perlu diskusi lebih dalam lagi kali ya. Tapi, terlepas dari siapa dan mengapa, ini sudah kritis juga namanya sebagai agent of change,” ujarnya menyeruput segelas cappucino dingin malam itu.

Adila Wiska, pemilik Kedai Kopi Parewa ini malah mengatakan di Sumatera Barat pola kedai kopi masih terbatas soal nongkrong. “Masih sama, di luar Sumbar juga tetap, kedai kopi sebagai tempat nongkrong yang utamanya,” ujar Adil yang merupakan lulusan Manajemen Unand. Lebih lanjut, menurut Adil, minum kopi saat ini sudah menjadi sebuah kebutuhan. “Bahkan dari trend sudah beralih ke arah kebutuhan,” terangnya.

Lain cerita dengan Ilham, anak muda yang memang sengaja datang ke kedai kopi untuk melepas jenuh usai bekerja. “Lebih suka yang kopi pahit ya, dan ini bisa melepas jenuh usai bekerja. Kalau dibilang ini trend, saya rasa tidak. Karena sudah seperti kebutuhan juga. Beberapa teman saya, sehari tanpa kopi itu udah kehilangan akal bagi mereka,” ujar Ilham.

Dengan demikian, segelas kopi yang menjadi dingin karena menemani diskusi pada malam hari tetap terasa hangat untuk memunculkan sejuta bahan diskusi. Catatan ini berakhir dengan satu seruput habis di gelas Cappucino. Terima kasih telah bergabung pada diskusi ringan, Pimpinan Perusahaan Tabloid Indonesia Raya Agung, Redakturnya Ilham, Kepala Cabang Mandiri Sekuritas Adrianda, Pemilik Parewa Adil, salah seorang teman Ikwan yang baru resign dari salah satu perusahaan motor di Padang. (*)

Read more
Ponpes Darul Ulum Padang Magek Butuh Bantuan Dana

Ponpes Darul Ulum Padang Magek Butuh Bantuan Dana

Catatan Abdi Masa

EkspresNews.com – Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek, Tanah Datar, Sumbar, didirikan Tk Salim Malin Kuning tahun 1942 berupa pengajian surau mengaji kitab kuning. Beliau lahir  tahun 1914 dan meninggal dunia 1987.  Sejak tahun 1987 pondok ini diteruskan murid beliau, Tk Anwar Sutan Marajo.

WhatsApp Image 2018-01-30 at 13.48.15Tahun 1989 Tk Anwar diperkuat oleh Tk Jakfar Imam Mudo. Tk Anwar meninggal 2014. Sejak itu sampai kini Darul Ulum dipimpin Tk Jakfar Imam Mudo dibantu beberapa santri senior yang mengabdi di pondok ini. “Kini Pondok Pesantren Darul Ulum sedang butuh tempat tinggal anak santri. Tempat yang ada sudah tidak muat karena santri semakin bertambah. Kami butuh uluran tangan donatur dan sumbangan tidak mengikat dari semua pihak,” kata H. Syahyuti Abas pengelola Pesantren Darul Ulum di Padang Magek, ketika dijumpai beberapa waktu lalu.

Menurutnya, selama ini Darul Ulum berkembang berkat dukungan anak nagari, masyarakat luas, kaum muslimin dan muslimat serta bantuan pemerintah. Kini pondok ini berdiri dengan dua unit bangunan dan satu buah mushalla. Pondok ini juga dikelilingi surau-surau kecil milik masyarakat yang ditempati oleh para santri yang tetap konsisten belajar kitab kuning.

Santri yang menimba Ilmu agama di pesantren ini, antara lain berasal dari Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Solok, Kota Sawahlunto, Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Dharmasraya, dan Kabupaten Tanah Datar sendiri. Mereka tidak dipungut biaya. Kecuali berupa iyuran yang diputus musyawarah santri sendiri, untuk keperluan kelangsungan belajar mengajar di pondok.

Tk Jakfar Imam Mudo, mengatakan, santri bisa diantar keluarga kapan saja, cukup bawa selimut, tikar dan bantal. Biasanya banyak yang datang  setelah lebaran. Pada tahun-tahun terakhir ini jumlah santri semakin banyak. Hingga kini santri laki laki dan perempuan sekitar 300 orang. Tempat tinggal santri menjadi sempit. Tempat yang tersedia tidak memadai lagi. Untuk itu perlu ditambah bangunan sederhana sebagai solusinya. WhatsApp Image 2018-01-30 at 13.48.15 (1)

Dalam hal ini, baik Syahyuti Abas maupun Tk Jakfar memberikan kesempatan kepada kaum muslimin dan muslimat dimana saja berada, yang berniat berinfak, bersedekah dan sebagainya untuk kebutuhan pesantren, dapat mengirimkan bantuan ke: No Rek. Bank Nagari 0300.0210.03675-1. A/n. Bos PPS Pesantren Darul Ulum Padang Magek.

Sumbangan Bapak dan Ibu, Saudara juga bisa diantar langsung ke alamat di Jorong Guguak Gadang, Padang Magek, Tanah Datar, Sumbar. Jika sumbangan Bapak dan Ibu perlu dijemput, mohon hubungi Bapak Syahyuti Abas di nomor 081267617618. Tk Jakfar 081267917016. (**)

Read more