Dolar AS Melemah Tertekan Kuatnya Emas

Dolar AS Melemah Tertekan Kuatnya Emas

EkspresNews.com – Kurs dolar AS diperdagangkan melemah terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada Selasa (Rabu pagi WIB). Pelemahan dolar terjadi di tengah kuatnya kenaikan harga emas dunia. Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,55% menjadi 94,608 pada perdagangan akhir.

Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,1563 dari USD1,1478 dan pound Inggris turun menjadi USD1,3049 dari USD1,3054 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia naik tipis menjadi USD0,7923 dari USD0,7797.

Dolar AS dibeli 112,00 yen Jepang, lebih rendah dari 112,63 yen pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9540 franc Swiss dari 0,9622 franc Swiss, dan turun tipis menjadi 1,2625 dolar Kanada dari 1,2690 dolar Kanada.

Di sisi lain, kontrak emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange berhasil membukukan kenaikan lebih lanjut pada perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Naiknya harga emas didukung indeks dolar AS yang terjebak dalam tren penurunan. Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus, naik USD8,2 atau 0,66%, menjadi menetap di USD1.241,90 per ounce. Sedangkan untuk logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman September naik 16,9 sen atau 1,05%, menjadi ditutup pada USD16,268 per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober tidak berubah pada USD930,30 per ounce.

(Okz)

Read more
Mandiri Sekuritas : IHSG Diprediksi Bergerak Sideways

Mandiri Sekuritas : IHSG Diprediksi Bergerak Sideways

EkspresNews.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari kemarin ditutup tipis. Indeks turun 3 poin (-0,06 persen) ke 5.266. Pergerakan IHSG hari ini diestimasi akan bergerak relatif sideways dengan rentang perdagangan berada di 5.236 sampai dengan 5.300.

Mandiri SekuritasIndeks bursa AS pada ditutup terkoreksi. DJIA -0,30 persen, S&P500 -0,30 persen, dan Nasdaq -0,63 persen. Indeks saham di Eropa ditutup turun. Indeks FTSE di Inggris -1,46 persen, DAX di Jerman -0,31 persen, dan CAC di Prancis -0,46 persen. Dari Asia, indeks Nikkei di Jepang -0,48 persen, indeks Hang Seng di Hong Kong 0,54 persen, dan indeks SSE di Shanghai 0,17 persen.

Emas ditutup di US$ 1.212 per troy ounce atau 1,40 persen. Minyak mentah AS, WTI, ditutup di US$ 52,48 per barel atau 0,21 persen. Ada pun saham yang direkomendasikan oleh analis Mandiri Sekuritas adalah sebagai berikut:

BEST (BUY) Target Harga Rp. 310, Stop Loss Rp. 284. (Abdi)

Read more
IHSG Betah di Zona Merah, Trader Tunggu Saran Analis

IHSG Betah di Zona Merah, Trader Tunggu Saran Analis

EkspresNews.com – Minimnya insentif positif ditengah meningkatnya risiko pasar global diprediksi menekan kembali pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Rabu (18/1). Kepala Riset First Asia Capital David Sutyanto menjelaskan, saham Wall Street tadi malam bergerak di teritori negatif. Lihat saja, DJIA dan S&P masing-masing terkoreksi 0,3 persen di 19.826,77 dan 2.267,89. “Pasar saham global lebih didominasi isu politik di AS dan Inggris terkait masa depan negara tersebut pasca pelantikan Trump akhir pekan ini dan keluarnya Inggris dari Uni Eropa,” ungkap David dalam risetnya, dikutip Rabu (18/1) dari laman CNNIndonesia.

Kondisi yang sama terjadi pada perdagangan dalam negeri yang kembali ditutup negatif. IHSG tercatat terkoreksi tipis 3,073 poin (0,06 persen) di 5.266 kemarin. Menurut David, pasar terlihat kurang bergairah menunggu pidato perdana Donald. David memprediksi pergerakan IHSG masih sama seperti kemarin, di mana IHSG bergerak bervariasi dengan sentimen eksternal yang lebih mendominasi. Menurutnya, IHSG akan bergerak dalam rentang support 5.250 dan resisten 5.300.

Di lain sisi, analis senior Binaartha Securities Reza Priyambada memprediksi IHSG berpeluang menguat imbas dari penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin. Selain itu, adanya peningkatan rating JP Morgan mengenai saham Indonesia menjadi neutral dari sebelumnya underweight juga menjadi sentimen positif bagi pasar modal.

Ia memprediksi IHSG dapat bergerak dalam rentang support 5.251-5.259 dan resisten 5.280-5.294. Namun, Reza tetap mengingatkan agar pelaku pasar tetap mencermati pergerakan saham dan sentimen yang ada, untuk mengantisipasi jika adanya pelemahan lanjutan.

Trader yang ditemui EkspresNews di kawasan Kuningan, Jakarta, mengatakan akan menunggu analis saham untuk hari ini. Pasalnya, menurut dia, trend zona merah IHSG akan memengaruhi geliat para pemain saham. “Kalau saya sendiri akan menunggu obrolan grup di telegram (aplikasi pesan instan), kalau nanti hasil analisisnya keluar, baru ada keputusan SELL atau HOLD,” ujarnya.

(Ares)

Read more
Pekan Kedua di Tahun 2017, IHSG Rawan Terjadi Koreksi

Pekan Kedua di Tahun 2017, IHSG Rawan Terjadi Koreksi

EkspresNews.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari akhir pekan kemarin ditutup naik. Indeks naik 21 poin (0,46%) ke 5.325. Dalam beberapa hari ke depan IHSG akan mencoba menguji resistance yang terjadi akibat gap di area 5.380-5.414. Namun jika dilihat dari jangka pendek IHSG berada dalam kondisi overbought dan sangat rawan untuk terjadinya koreksi.

Kenaikan yang terjadi dalam empat hari terakhir tidak disertai dengan volume yang signifikan dan cenderung di bawah rata-rata.  Pergerakan IHSG hari ini kami estimasi dengan rentang perdagangan berada di 5.300 sampai dengan 5.380.

Global Market

Indeks bursa AS pada ditutup menguat. DJIA 0,32%, S&P500 0,32% dan Nasdaq 0,60%. Indeks saham di Eropa ditutup menguat. Indeks FTSE di Inggris 0,20%, DAX di Jerman 0,12% dan CAC di Perancis 0,19%. Dari Asia, indeks Nikkei di Jepang -0,20%, indeks Hang Seng di Hong Kong 0,21% dan indeks SSE di Shanghai -0,35%. Emas ditutup di US$ 1.173 per troy ounce atau -0,64%. Minyak mentah (OIL WTI) ditutup di US$ 53,99 per barel atau 0,43%.

Stock Pick
Saham Rekomendasi

LPPF (buy) Target Harga : Rp. 16.800

BBTN (buy) Target Harga : Rp. 1.850

BRPT (buy) Target Harga : Rp. 1.745

BBCA (sell) Target Harga : Rp. 15.000

(Abdi)

Read more
Harga minyak Naik Dipicu Serangan di Turki dan Bangladesh

Harga minyak Naik Dipicu Serangan di Turki dan Bangladesh

EkspresNews.com – Harga minyak mengakhiri minggu bergejolak dengan kenaikan pada Jumat (Sabtu pagi WIB), karena krisis penyanderaan di Bangladesh menghidupkan kembali kekhawatiran tentang risiko politik dan implikasinya bagi pasokan minyak.

Sejumlah pria bersenjata menyerbu sebuah restoran yang ramai di ibukota Bangladesh, Dhaka, pada Jumat malam, menyandera para pengunjung dan memicu baku tembak dengan polisi, kata para petugas. Analis mengatakan pasar minyak sudah gelisah setelah serangan bunuh diri pada Selasa di bandara Istanbul di Turki, yang mengakibatkan 44 orang tewas.

Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus naik 66 sen menjadi berakhir di 48,99 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman September, patokan global, menguat 64 sen menjadi menetap di 50,35 dolar AS per barel di perdagangan London.

Para investor ingin bermain aman sebelum libur panjang akhir pekan, dengan pasar AS ditutup pada Senin (4/7) untuk liburan Hari Kemerdekaan AS, kata konsultan industri energi Andy Lipow. Lipow mengatakan minyak juga diperkirakan menerima dukungan dari kenaikan penggunaan bensin pada musim panas ini, karena lebih banyak pengendara diuntungkan dari harga bensin lebih rendah di SPBU dan memilih untuk melakukan perjalanan darat daripada perjalanan udara.

Perdagangan Jumat menutup gejolak harga minyak yang telah terjadi selama seminggu. Penurunan harga terjadi sebagai respons atas pilihan Inggris pada 23 Juni untuk meninggalkan Uni Eropa, namun kembali pulih pada Selasa.

Brexit dipandang sebagai penghambat untuk pertumbuhan global, meskipun ada perdebatan di antara para ekonom tentang sejauh mana dampaknya. Sebagian besar analis masih melihat pasar minyak kelebihan pasokan karena tingginya produksi di produsen-produsen utama OPEC, walaupun ada gangguan pasokan di beberapa negara penghasil minyak utama, seperti Nigeria dan Kanada.

Kenaikan harga minyak juga didukung oleh melemahnya dolar AS yang meningkatkan sentimen investor, karena membuat minyak dalam denominasi dolar lebih menarik bagi pemegang mata uang lainnya. Harga minyak mentah juga didukung data terakhir yang menunjukkan persediaan minyak mentah AS telah turun untuk minggu keenam berturut-turut.

Badan Informasi Energi AS mengatakan dalam laporan mingguannya pada Rabu bahwa persediaan minyak mentah AS turun 4,1 juta barel menjadi 526,6 juta barel dalam pekan yang berakhir 24 Juni, demikian seperti dikutip dari AFP dan Xinhua.

(Re/T)

Read more