Pengabdian Program Wirausaha Jamur Tiram Putih Kemitraan Masyarakat

Pengabdian Program Wirausaha Jamur Tiram Putih Kemitraan Masyarakat

Wirausaha Jamur Tiram Putih berbasis Technopreneur Sebagai Sumber Wirausaha Baru Dalam Pemanfaatan Limbah Kayu (Serbuk Gergaji)  di Jorong Taratak Pauh Nagari Sungai Nanam Tahun 2019.

EkspresNews.com – Universitas Tamansiswa Padang berupaya mewujudkan, bahwa Penelitian yang dilakukan di Perguruan Tinggi harus bisa diterapankan langsung dalam bentuk pengabdian masyarakat. Tentunya hal ini akan membantu mempercepat program pemerintah dalam menyelesaikan persoalan kemiskinan, ekonom, pendidikan dan social masyarakat.

Kegiatan Pengabdian dengan tema Wirausaha Jamur Tiram Putih berbasis Technopreneur Sebagai Sumber Wirausaha Baru Dalam Pemanfaatan Limbah Kayu (Serbuk Gergaji)  di Jorong Taratak Pauh Nagari Sungai Nanam ini bertujuan untuk mencari nilai manfaat terbaik dari potensi pertanian lokal dengan teknologi tepat guna, sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat petani miskin karena usaha jamur tiram putih merupakan usaha baru yang dapat memberikan hasil berkelanjutan, dapat dijadikan peluang usaha yang cukup potensial. Selain itu, limbah jamur merupakan makanan ternak alternatif yang cukup potensial untuk digunakan.

Kegiatan pengabdian pada masyarakat di Jorong Taratak Pauah Nagari Sungai Nanam. Ist

Jorong Taratak Pauah Nagari Sungai Nanam memiliki potensi yang baik untuk pemnafaatan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur tiram putih yang nantinya akan dijadikan bahan baku utama untuk olahan makanan yang bernilai tinggi.

Mitra sebagai masyrakat sasaran program terkendala dalam pemanfaatan potensi tersbut yang dikarenakan oleh beberapa permasahalan, diantaranya adalah tidak memahami bagaiman memanfaatkan limbah serbuk gergaji, belum memeliki kemampuan dan pengetahuan yang baik dalam hal manajemen pengelolaan, dan tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan dalam bidang pemasaran.

Tujuan program PPM ini adalah; masyarakat memahami pemanfaatan limbah serbuk gergaji, Masyarakat memeliki pengetahuan  pengelolaan usaha,, dan memiliki pengetahuan dalam bidang pemasaran. Metode program PPM ini adalah; 1) Penyuluhan, 2)Percontohan produksi, 3)Pelatihan manajemen usaha, 4)Pelatihan Pemasaran, 5) Pendampingan.

Pembuatan rumah jamur. Ist

Hasil Kegiatan PPM Wirausaha Jamur Tiram Putih berbasis Technopreneur  Sebagai Sumber Wirausaha Baru Dalam Pemanfaatan Limbah  Kayu (Serbuk Gergaji)  di Jorong Taratak Pauh Nagari Sungai Nanam, adalah ; 1) masyarakat sasaran memiliki kemampuan budidaya jamur tiram, 2) masyarakat mampu mengolah jamur tiram putih menjadi olahan makanan bernilai tinggi seperti rendang jamur tiram, dendeng jamur tiram, dan crishpy jamur tiram), 3) masyarakat mamiliki kemampuan pemasaran, 4) terbentuknya kelompok usaha dengan nama Jamur soladirity Group. Keluaran dari kegiata ini adalah berkembangnya kelompok usaha masyarakat dalam usaha budi daya jamur tiram putih, sehingga meningkatkan pendapatan keluarga.

Kegiatan pendampingan pasca produksi makanan olahan jamur tiram putih tetap dilakukan oleh tim program PPM. Adapun beberapa kegiatan pendampingan yang dilakukan adalah dalam hal kelembagaan organisasi kelompok, pengelolaan administrasi dan juga dalam hal pemasaran produk. Berikut adalah beberapa kegiatan pemasaran yang dilakukan.

Kegiatan produksi jamur. Ist

Kelompok masyarakat sebagai sasaran program PPM Wirausaha Jamur Tiram Putih berbasis Technopreneur Sebagai Sumber Wirausaha Baru Dalam Pemanfaatan Limbah Kayu (Serbuk Gergaji) di Jorong Taratak Pauh Nagari Sungai Nanam yang tergabung dalam kelompomk Jamur tiram soladirity Group (JSG) sangat berpotensi untuk dapat mengembangkan program ini dalam bentuk usaha yang bernilai ekonomis tinggi. Selama kegiatan dilaksanakan semua anggota kelompok dapat mengikuti kegiatan dengan baik.

Puji syukur kehadiratNya, akhirnya tim pengabdian ini yang beranggotakan Lenny Hasan, Sepris Yonaldi, dan Novelisa Suryani mengucapkan terimakasih kepada  masyarakat dan Kepala Jorong Taratak Pauh nagari Sungai Nanam, Ibu Febriani Ketua LPPM Universitas Tamansiswa serta jajaran, Lembaga Layanan Dikti Wilayah X serta Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Direktoral Jendral Penguatan Riset dan Pengembangan Kementrian Riset, Teknologi, yang telah mendukung penuh pelaksanaan Program Kemitraan Masyarakat ini.

Penulis adalah : Lenny Hasan, Sepris Yonaldi, Novelisa Suryani. (Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Tamansiswa Padang)

Read more
Pertamini Di Tuapeijat Bermain Takaran?

Pertamini Di Tuapeijat Bermain Takaran?

EkspresNews.com – Teknologi pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) secara eceran di masyarakat yang sering disebut Pertamini cukup banyak ditemukan di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Selain karena model pengisian BBM di Pertamini mulai diminati masyarakat, peralatannya pun terbilang murah, tangki ukur dan alat pengisian BBM dengan tampilan yang cukup menarik karena menyerupai stasiun Pertamina.

Munculnya teknologi ini memang cukup membantu masyarakat khususnya dalam memenuhi kebutuhan BBM untuk kendaraan. Karena dibanding dengan pengisian manual menggunakan botol, mengisi di Pertamini nampaknya lebih dipercaya dari segi ukuran liter yang digunakan. Untuk harga BBM jenis premium di Pertamini dijual sebesar Rp 9000 setiap liternya.

Namun sayangnya, seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan BBM untuk kendaraan di Kepulauan Mentawai khususnya di Desa Tuapeijat Kecamatan Sipora Utara dan beralihnya pembelian BBM dari eceran menggunakan botol ke Pertamini, hal tersebut dimanfaatkan oleh oknum pemilik pertamini untuk meraup untung yang cukup besar.

Bahkan tak segan, langkah yang diambil pemilik Pertamini malah merugikan masyarakat, hanya demi keuntungan semata. Misalnya seperti yang sekarang diduga dilakukan salah satu pemilik Pertamini di kawasan Km.3 Desa Tuapeijat dan telah viral di media sosial.

Salah satu keluhan yang kini banyak muncul di masyarakat soal pengisian BBM di Pertamini yakni, tidak sesuainya takaran BBM yang dicantumkan dalam tangki indikator dengan jumlah yang diterima kendaraan.

Salah seorang pembeli BBM jenis premium, Noak warga Pogari yang dimintai kererangan mengeluhkan hal tersebut. “Tadi malam saya beli BBM jenis premium di Km.3 itu sebanyak 2 liter, tapi setelah diisi dalam botol minuman mineral ternyata takarannya tidak cukup. Ini sangat merugikan sekali,” keluhnya saat dimintai keterangan Kamis, (5/9/2019).

Hal yang sama juga dikeluhkan Johan salah satu warga Mapaddegat. Ia mengeluhkan takaran yang ada di pertamini memang tidak sesuai takaran. Saat mengalami kejadian tersebut, dirinya lebih memilih membeli BBM jenis premium eceran dalam botolan.

Ia berharap pemerintah dan pihak terkait bisa melakukan pengawasan terhadap takaran BBM di seluruh Pertamini di kawasan Kepulauan Mentawai khususnya di desa Tuapeijat, sebab warga benar-benar merasa dirugikan dengan kebiasaan isi yang tidak sesuai takaran. Bila ini terjadi seterusnya maka ia beranggapan justru semakin menguntungkan oknum yang tidak bertanggung jawab mempermainkan dan memanfaatkan keadaan. (N)

Read more