Nama Presiden Joko Widodo Diusulkan Jadi Nama Puncak Gunung Kerinci

Nama Presiden Joko Widodo Diusulkan Jadi Nama Puncak Gunung Kerinci

IMG-20180215-WA0017-400x267oki

EkspresNews.com – Para pegiat pariwisata Sumatera Barat dan Sekretariat Bersama Pendakian Kerinci Solok Selatan mengusulkan pemberian nama puncak kerinci dengan nama Presiden ke-7 Republik Indonesia yaitu, Puncak Joko Widodo.

Hal tersebut didukung oleh Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Irwan Afriadi ketika menghadiri pelepasan pendakian perdana Gunung Kerinci Via Solok Selatan di Bangun Rejo, Kamis (15/2).

IMG-20180215-WA0016-800x451ok“Ini merupakan bentuk apresiasi kita kepada beliau (Jokowi). Pada waktu acara HPN (Hari Pers Nasional) beliau melakukan promosi yang sangat luar biasa di depan 26 Duta Besar Negara Luar, banyak Menteri, dan dihadiri oleh ratusan Media Lokal, Nasional dan Internasional,” ujar Irwan.

Selain itu, Jokowi juga pernah melakukan pendakian kerinci pada tahun 1983, dan hal tersebut sangat berkesan bagi beliau. Terlebih waktu itu Jokowi melalui Solok Selatan untuk sampai di Kresik Tuo.

“Ini baru usulan dan plang namanya kita akan letakkan di puncak kerinci 3805 Mdpl, kalau beliau setuju ya Alhamdulillah, kalau tidak setuju nanti akan kami turunkan kembali,” tambahnya.

IMG-20180215-WA0015-497x332okPada kesempatan yang sama, Kepala Seksi Pengelolaan Kawasan Strategis  dan Destinasi Kepariwisataan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Solok Selatan, Aig Wadenko mengatakan selain nama Jokowi, mereka juga mengusulkan nama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Siti Nurbaya.

“Kami mengusulkan tempat perkemahan terakhir pada ketinggian 3200 mdpl diberikan nama Camping Siti Nurbaya, sebagai apresiasi atas besarnya perhatian menteri untuk pembukaan jalur tersebut,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan ada 11 nama lagi yang digunakan sebagai tempat perkemahan sepanjang jalur pendakian 14,2 Km. Nama-nama tersebut memiliki arti penting dalam pembukaan jalur tersebut.

“Wabup juga sangat mendukung penamaan tersebut, akan mudah diingat,” tukas Aig. (Zaki/Red)

Read more
Outlook Ekonomi dan Klinik Investasi bersama Mandiri Sekuritas

Outlook Ekonomi dan Klinik Investasi bersama Mandiri Sekuritas

DSC_0711 - Copy

EkspresNews.com – Investor Gathering Market Update dan outlook 2018 yang digelar oleh Mandiri Sekuritas bersama Bursa Efek Indonesia kantor Perwakilan Padang di Hotel Grand Zuri, Padang, Rabu (14/2/2018). Kegiatan ini ditujukan untuk memberikan informasi kepada nasabah terkait kondisi oulook ekonomi Indonesia di tahun 2018 dan bagaimana cara menghadapi tantangan di tahun ini.

Adrianda Anwar mengungkapkan, pasar modal Indonesia dalam perjalanannya telah mengalami banyak perubahan dan pertumbuhan. “Kontribusi pasar modal terhadap perekonomian nasional juga tidak sedikit,” kata alumni Magister Manajemen Universitas Andalas ini.




Pasar modal, menurut Adrianda, memberikan efek bergulir (multiplier effect) yang besar terhadap perekonomian, seperti meningkatkan penerimaan pajak dari emiten saham maupun emiten obligasi, mendorong pertumbuhan dan peningkatan ekspansi bisnis perusahaan, baik secara organik maupun nonorganik.

Wahyu Tjahjono dari Mandiri Sekuritas Jakarta sebagai pembicara, menyampaikan paparan terkait peluang investasi di tahun 2018. “Ada beberapa emiten yang tidak terganggu karena pergerakan asing, seperti unilever,” ujar Wahyu dihadapan puluhan investor yang hadir.

Menurutnya, peluang meningkatkan indeks masih terbuka lebar walaupun harus diwaspadai dengan meningkatnya suhu politik dalam negeri. “Sektor yang layak diperhatikan adalah sektor finansial, sektor konstruksi, dan sektor konsumsi tadi seperti Unilever,” tuturnya.

Sedangkan, Kepala Cabang Bursa Efek Indonesia Perwakilan Early Saputra memaparkan kondisi ekonomi Indonesia saat ini. “Ini menjadi acuan dalam perhitungan saham sehingga investor perlu memerhatikan kondisi ekonomi saat ini,” ujar Early Syahputra dalam pemaparannya.

Dikatakannya, ada beberapa paket kebijakan dalam ekonomi yang dapat menjadi gambaran dalam mengambil keputusan. “Tahun 1998 rupiah melemah 190 persen, 2008 masih lemah juga. Trus soal inflasi, dan sekarang sudah cukup baik diangka 3 persen. Namun kita tidak tahu pasti, akan tetapi ada sinyal positif,” paparnya.

(Red)

Read more