Aiptu H. Dalimi Dirikan Pondok Tahfiz Al Qur’an Gratis

0

IMG-20171115-WA0018

EkspresNews.com – Berbaju kaos dibelakangnya bertuliskan polisi, dengan celana coklat hati, kesannya sederhana sekali. Lelaki bersorban haji itu adalah anggota Polisi. Aiptu, H. Dalimi (55), anggota Polres Solok Kota yang bertugas di Polsek X Koto Singkarak, Kabupaten Solok. Sudah sejak tahun 1984 Buya menjadi Polisi dengan pangkat pertama sebagai Prada (Prajurit Dua).

Sehari-hari Buya Dalimi dikenal dikenal banyak orang polisi bertitelkan buya yang rendah hati dan suka berbagi dengan orang lain. Dari hasil tetesan keringatnya, dia Mendirikan sebuah Pondok Tahfidz Alquran, yang lengkap dengan Mushallanya. Dan kemudian dia menggerakkan pendidikan baca Alquran gratis bagi anak-anak di kawasan nagari Singkarak dan Sumani.

“Sejak bertugas di Singkarak saya sudah berniat mendirikan pondok Tahfidz Alquran. Istri saya juga mendorong, Alhamdullillah yang diniatkan itu terwujud,” bebernya dengan nada rendah saat di konfirmasi.

Ihkwal berdirinya Pondok Tahfids Alquran adalah wujud cita-cita bersama istrinya sejak mulai berdinas di Polsek Singkarak. Sebelumnya Buya pernah bertugas di Polres Solok Kota. Bahkan ketika masih tinggal di asrama polsek, Buya telah mulai menabung untuk menyiapkan cita-citanya.




Pada hari libur atau pulang berdinas sebagai petugas polisi, Buya memanfaatkan waktunya dengan bertani, berkebun di ladang. Buya mengaku juga memelihara sapi di ladang yang lokasinya berada di kawasan Ujung Ladang, nagari Koto Sani,

Dikebunya, Buya membudidayakan berbagai tanaman seperti Jahe, Kunyit dan Casiavera serta Cengkeh. ” Berkat kerja keras, cita-cita kami sekeluarga dikabulkan Allah SWT. Kami akhirnya bisa mendirikan Pondok pendidikan Alquran,” papar Buya mensyukuri apa yang diperolehnya.

Niat mendirikan pondok Alqur’an ikut disemangati oleh pihak Keluarga. Buya mengaku, famili dan kawan-kawan di Polsek Singkarak sangat mendukung, sehingga pembangunan pondok terealisasi tahun 2015. dan diresmikan pemakaiannya oleh Kemenag Kab. Solok pada 7 Februari 2015. ” Kebetulan lahan perumahan yang kami beli tahun 1980, luasnya agak lapang. Disinilah kami dirikan pondok,” ungkapnya.

Sebenarnya, bukan soal dimana Buya mendirikan pondok pengajian, termasuk kenapa membangun sebuah mushalla disampingnya. Tetapi lebih menyangkut tentang motivasi H. Dalimi menggerakkan pendidikan agama Islam bagi anak anak dan tanpa memungut biaya pula.

Disebutkan, anak-anak perlu belajar Tahfidz Alqur’an. Untuk memotivasi anak-anak digerakkan tanpa pungutan biaya. Bahkan untuk guru menggaji bagi tiga orang guru, Buya menanggulangi membayar sendiri” Kita juga membayar insentif tiga orang guru untuk mengajar sebanyak 90 orang santri. “Dan sampai sekarang, pondok Alquran ini telah melakaukan wisuda bagi 11 santri,” paparnya.

Disegi finansial. Dia menyatakan. Dengan Ikhlas tidak ada kepentingan lain-lain bagi Buya dalam menggerakkan pendidikan baca Alqur’an di Singkarak. Tidak ada maksud tertentu dibaliknya. Bahkan ia awalnya enggan untuk dipublikasikan. Namun ia mengaku berbuat di jalan Allah, semata untuk menjadikan generasi muda Kabupaten Solok yang berkualitas dengan pengetahuan nilai keagamaan yang kuat.

Sebagai seorang anggota Polisi, yang melayani dan mengayomi, H. Dalimi memaknai tanggung jawabnya dengan berkorban sepenuhnya untuk masyarakat. Apalagi ketika sepasang anaknya telah lepas dari beban biaya pendidikan, seorang menjadi bidan dan seorang lainnya telah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Unand padang.

Hal itu telah membuat tanggungan keluarga relatif ringan dan ia kemudian fokus untuk mengelola Pondok Tahfizd Alqur’an gratis. Tidak itu saja, agar anak-anak bersemangat belajar, buya kerap membantu istrinya membuat gorengan untuk diberikan kepada santri sebagai snack dengan gratis.




Buya Dalimi lantas mengenang, mengingat masa-masa sulit ketika ia mulai mewujudkan impiannya mendirikan pondok baca Alqur’an. Kalau tidak rajin berladang, kenang dia, niat untuk mendirikan Pondok belum kesampaian.” Alhamdulillah, rezki kami diberi lebih oleh Tuhan Allah. Istri saya juga sangat membantu dan mendukung. Sekarang tumbuh kebahagiaan dibathin kami, ketika melihat anak-anak sudah rajin mengaji.

Dalam perjalanannya, banyak orang yang terkesima. Kegiataan pendidikan agama yang digerakkan anggota Polisi itu patut diapresiasi. Setidaknya pengakuan itu diungkapkan pemuka masyarakat Singkarak. Kepedulian Buya Dalimi terhadap pendidikan agama sangat bernilai.

Kegiatan ini sekaligus semakin menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polisi.
Meski tidak menafikan bantuan dana operasional pendidikan juga diperoleh dari donatur lainnya, namun usaha menggerakkan pondok pengajian yang dilakukan Buya Dalimi, harusnya lebih dimaknai sebagai sebuah pengabdian dan prestasi luar biasa yang dilakukan seorang anggota Polisi. “Kita angkat topi dan menaruh hormat terhadap kegigihan Buya Dalimi dalam mendirikan Pondok Tahfizd Alqur’an,” sebut salah seorang pemuka masyarakat setempat. (Roni Natase)

Comments

comments

About author

redaksi

Redaktur adalah orang yang betanggung jawab penuh terhadap berita yang disuguhkan kepada pembaca. Redaktur umumnya berasal dari reporter lapangan yang dalam kariernya kemudian naik menjadi redaktur muda, madya dan kemudian redaktur kepala atau redaktur bidang, yakni yang membawahi bidang tertentu.