Berantas Premanisme, Kapolres Solok MoU dengan Pemko

Berantas Premanisme, Kapolres Solok MoU dengan Pemko

P_20171026_104415

EkspresNews.com – Masih dalam hitungan bulan, Kapolres Kota Solok dan jajarannya dibawah Komando AKBP. Dony Setawan. Berbagai inovasi dan gagasan beliau lontarkan dan ditirehkan, hal itu adalah tidak lain. Agar Kota Solok melaju di segala aspek pembangunan, dan masyarakatnya terlepas dari berbagai be lenggu ketertinggalan.

Demi memperkuat kerjasama serta untuk meningkatkan ketertiban, keamanan, dan kenyamanan masyarakat, serta untuk memusnahkan segala penyakit yang bisa timbul di tengah masyarakat terutama bagi masyarakat di jajaran Pemerintah Kota Solok.

Untuk mewujudkan hal itu, Kapolres Solok Kota melakukan penanda tanganan Nota kesepahaman MoU. Tentang penanganan preman dan premanisne serta pekat. Antara Pemko Solok, Kamenag Kota Solok, Kadis Sosial, Kadat Pol PP Kota Solok, serta dengan Da,i Kamtibmas (penyuluh).




Nota kesepahaman atau Memorandum Of Understanding (MOU) yang ditanda tangani itu, dilaksanakan pada Kamis (26/10) bertempat dAula Mapolres Solok Kota.

Pelaksanaan acara itu dihadiri langsung oleh Walikota Solok H. Zul Elfian, Wakil Walikota Solok Reinier, Kapolres Solok Kota AKBP. Dony Setiawan, Waka Polres Solok Kota Kompol. Sumintak. Kamenag Kota Solok Afrizen, Personil Polres Solok Kota, Bhabin Kamtibmas, Kepala SKPD di Jajaran Pemko Solok. Ketua LKAAM, Bundo Kandung, para Da,i, dan banyak undangan lainya.

Kapolres Solok Kota AKBP. Dony Setiawan dalam sambutanya menyampaikan. Penanda tanganan kesepahaman ini adalah merupakan sebuah gagasan atau inofasi dari Kapolres Solok Kota bekerja sama dengan selurutuh lapisan yang ada. Itu semua adalah dalam upaya untuk mensejahterkan masyarakat daerah Kota Solok agar tidak mudah termasuki oleh berbagai isu yang berkembang ditengah masyarakat. “Yang lebih mengambil makna lagi adalah sebagai bentuk dukungan atas kebijakan walikota Solok. Yang menjadikan kota Solok sebagai Kota Beras Serambi Madinah,” papar Dony.

Dony mengharapkan, dengan telah ditanda tanganinya MOU itu. Diyakini akan mampu mengandung sebuah nilai -nilai positif dalam tatanan pemerintah kota solok. Intinya papar Dony, diyakini akan mampu memberikan kontribusi positif bagi kelangsungan dan prilaku hidup nasyarakat Kota Solok, terutama bagi genrrasi muda.

Labih lanjut dikatakan Kapolres Solok Kota itu, dengan adanya kesepahaman itu. Diharapkan seayun selangkah saciok bak ayam, sadanciang bak basi dengan bahu-membahu dalam melaksanakan pemberantasan penyakit masyarakat, dan penertiban atau juga penutupan terhadap tempat hiburan malam yang beroperasi yang tidak sesuai dengan ketentuan perda yang ada di Kota Solok.

Dikatakan Kapolres Solok kota lahirnya sebuah ide atau inofasi ini, adalah karena kita meyakini akan bisa menjadi sebuah solusi bersama dalam mewujudkan kota Solok menjadi kota beras serambi medinah kota yang beriman dan bebas dari segala pekat.

“Momentum ini lahir adalah terpancar dari semangat yang telah diperlihatkan oleh para ulama dan Da’i kota Solok. Dalam upaya membantu pemerintah dalam mewujudkan kota Solok yang bersih dari perbuatan maksiat dan segala bentuk penyakit masyarakat (Pekat),”ujar Dony Setiawan.

Kapolres Solok Kota mengapresiasi kepedulian yang telah diberikan oleh para ulama dan Da’i kota Solok, Da’i, dan pemuka agama lainnya dalam membangun daerah Kota Solok tampa pambrih merupakan sebuah perjuangan yang tiada nilainya, dan hal ini layak dijadikan Motivasi dan menjadi contoh bagi pemangku agama lainya.

“Dengan telah ditanda tanganinya Kesepahaman ini, kita harapkan gar para ulama dan Da’i yang ada itu, mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah daerah, baik moril atau pun materil. Dan Apresiasi untuk Pemko Solok karena telah menjadi satu satu nya daerah tingkat dua yang pertama memunculkan inovasi ini. Selain itu juga telah menganggarkan dana dalam APBD untuk mensejahterakan para pemuka agama,” ungkap Kapolres Solok Kota.

Pada kesempatan yang sama Walikota Solok Zul Elpfian megatakan. mengatakan semoga Kapolres Solok kota diperintahkan oleh atasannya untuk bertugas dikota Solok selamanya, sebab katanya.

Walikota Solok mengakui Inofasi yang telah dilahirkan oleh Kapolres Solok Kota merupakan sebuah gagasan yang akan menjadi solusi dalam upaya mewujudkan kota Solok menjadi kota beras serambi medinah, Hal ini akan menjadi catatan sejarah di kota Solok, karena MOU yang ditanda tangani itu merupakan pertama kali terjadi di kota Solok, dalam rangka mewujudkan masyarakat kota Solok yang aman, nyaman, dan sejahtera.

Zul Elfian mengajak, kepada seluruh OPD terkait, agar MOU yang telah kita tuangkan itu. Jangan hanya retoria belaka, akan tetapi harus dapat mewujudkan atau melahirkan apa yang telah menjadi tujuan dari program perioritas pemerintah daerah Kota Solok.

Baca Juga : Kapolres Solok : Penggunaan Dana Desa Harus Tepat Sasaran




Begitu juga diharapkan kepada Kamenag Kota Solok mari serangkuh sedayung dalam melaksanakan apa yang telah kita sepakati. Lebih jauh disampaikan Walikota Solok, terkait dengan kesejahteraan para ulama dan Da’i kota Solok yang ada, Zul Elfian berjanji akan menaikan atau menambah dana insentif yang telah diberikan selama ini, dan dikatakannya, pemerintah kota Solok juga akan mengansuransikan para ulama, Da’i dan pemuka agama lainnya kedepanya.

“Sudah sepantasnya kita memberikan perhatian lebih kepada para pemuka agama yang ada itu, sebab selama ini mereka bekerja tampa pamrih dan kurang mendapat perhatian dari pihak manapun,” terang Zul Elfian. (Roni)

Read more
Kapolres Solok : Penggunaan Dana Desa Harus Tepat Sasaran

Kapolres Solok : Penggunaan Dana Desa Harus Tepat Sasaran

EkspresNews.com – Agar tidak bermuara ke ranah hukum, diminta kepada Walinagari harus transparan terhadap penggunaan dana desa. Untuk itu penggunaan dana desa harus tepat sasaran. Demikian ditegaskan Kapolres Solok Kota AKBP, Dony Setiawan saat acara pengawasan dan pengelolaan dana desa, Rabu malam (25/10) di Kapolres Solok Kota.

Kegiatan itu dihadiri Tenaga Ahli dari Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (TA PMD) Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Kabupaten Solok, Dasrul Effendi, Wakapolres Kompol Sumintak, Kabag Ops Kompol Bresman Simanjuntak, 5 Kapolsek, dan 33, Bhabin Kamtibmas di lingkup Polres Solok Kota.

Kapolres Kota Solok Dony Setiawan menyampaikan, terkait rendahnya serapan dana desa/nagari dan banyaknya kepala desa/walinagari yang terlibat kasus Alokasi Dana Desa (ADD), membuat kepolisian menaruh perhatian serius. Sebelumnya, tercatat sebanyak 214 kasus ditangani kepolisian yang melibatkan kepala desa/wali nagari dan perangkat nagari.




“Dengan kerugian sekitar Rp 64 miliar. Polri kemudian menugaskan jajarannya, hingga ke tingkat Polres, Polsek, bahkan hingga ke personel Bhabin Kamtibmas, untuk wanti-wanti dalam pengawasan terhadap pengelolaan dana desa/nagari,” jelas Dony.

Dony Setiawan menyatakan pihaknya diminta untuk bekerja mengungkap dan mencegah terjadinya penyelewengan ADD ini. Maka bagi personil yang berhasil dalam nengungkap ketimpangan penggunaan dana desa akan diberi penghargaan. “Maka Untuk memaksimalkan hal itu, Dony menyatakan pihaknya akan ikut serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pertanggungjawaban dan azaz manfaat. Hal itu dikatakan Kapolres saat Sosialisasi Pengawasan Pengelolaan Dana Nagari,” ujarnya.

Kapolres menekankan. peran personel Polres harus terdepan untuk pengawasan. Bangun konsultasi dengan pihak terkait. Personel harus proaktif dalam upaya pencegahan dan pengawasan. Kuncinya, harus ikut dari perencanaan, pelaksanaan, pertanggung jawaban dan pemanfaatan. Kita harus tahu apa yang dibutuhkan masyarakat. “Namun kita tidak boleh cari-cari masalah, personil yang bertugas harus bijak. Hal yang diproses adalah yang tidak bisa lagi diperbaiki,” ujar Dony.

Lebih lanjut disampaikan Dony, saat ini, pihak Polres Solok Kota telah menugaskan 33 personel Bhabin Kamtibmas, di 33 nagari untuk 5 Kecamatan di Wilayah hukum Polres Solok Kota di Kabupaten Solok. Ditambah dengan lima Kapolsek dan Kapolres yang akan turun langsung. “Karena pengelolaan dan penggunaan dana desa itu, sangat menjadi perhatian serius secara nasional oleh institusi Polri,” jelas Dony.




Kita telah bb ertegas- tegas kepada para personel Bhabin Kamtibmas telah ditegaskan untuk membuat komitmen dengan wali nagari dan perangkat nagari. Yakni komitmen untuk transparansi dan kerja sama memaksimalkan dana desa ini.

“Tentunya, semua Bhabin Kamtibmas kita ingatkan, jangan coba- coba melakukan kongkalikong dengan wali nagari dan perangkat nagari. Kalau terbukti akan mendapat sanksi berat kepada personel yang terlibat bermain, dan juga kita ingatkan Walinagari jangan coba- coba Kongkalikong menggunakan alokasi dana / nagari kearah yang tidak jelas,” ujar Kapolres Solok Kota Dony. (Roni)

Read more
Biksu Lim U Tek Membangun Adanya Peradaban Agama Budha di Pontianak

Biksu Lim U Tek Membangun Adanya Peradaban Agama Budha di Pontianak

EkspresNews.com – Klenteng atau kelenteng (bahasa Hokkian, bio) yang umumnya biasa kita kenal adalah sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa yang ada di Indonesia. Di Indonesia, penganut kepercayaan tradisional Tionghoa ini sering disamakan sebagai penganut agama kepercayaan yang kita sebut Konghucu, dan klenteng dengan sendirinya sering dianggap sama sebagai tempat ibadah agama Konghucu.

Berbagai daerah yang ada di Indonesia, klenteng juga disebut dengan istilah tokong. Istilah ini diambil dari bunyi suara lonceng yang dibunyikan pada saat menyelenggarakan upacara.

Kelenteng yang bernuansa arsitektur Tionghoa ini hanya dikenal di pulau Jawa dan tidak dikenal di wilayah Indonesia lainnya.Untuk Tionghoa dii Sumatera mereka menyebutnya bio, dan di Sumatera Timur khususnya mereka menyebutnya Am (dibaca am) dan bahkan penduduk setempat menyebutnya dengan kata pekong atau bio.




Lain halnya di Kalimantan di orang Hakka menyebut kelenteng dengan istilah thai Pakkung, dan bisa juga pakkung miau atau shinmiau. Penyebaran dan pertumbuhan Adanya Ajaran Budha cepat meluas di Indonesia dan istilah kata ‘kelenteng’ menjadi umum dan mulai meluas mamfaat penggunaannya.

Bagi masyarakat Tionghoa keberadaan Kelenteng khususnya bukan saja berarti sebagai tempat ibadah saja, Selain Gong-guan (Kongkuan), Klenteng mempunyai peran yang sangat besar dalam tumbuhnya adanya kehidupan komunitas Tionghoa dimasa lampau.

Klenteng untuk pertama kali dibangun yakni pada tahun 1650 oleh Letnan Kwee Hoen dan dinamakan Kwan Im Teng .Keberadaan Klenteng ini ditujukan sebagai persembahan dan diberikan kepada Kwan Im (Dewi Pewelas Asih), Kwan Im atau Avalokitesvara bodhisatva Dari kata Kwan Im Teng inilah orang Indonesia akhirnya lebih mengenal kata Klenteng daripada Vihara, yang kemudian melafalkannya sebagai Klenteng hingga saat ini sebagai bio yang merupakan dialek Hokkian dari karakter (miao), Ini adalah sebutan umum bagi klenteng di Republik Rakyat Tiongkok.

Klenteng sebagai tempat suci dan sebagai tempat penghormatan untuk leluhur “Ci” (rumah abu) atau dewa, dan masing-masing marga membuat “Ci” untuk menghormati para leluhur mereka sebagai rumah abu. Para dewa-dewi yang dihormati tentunya berasal dari suatu marga tertentu yang pada awalnya dihormati oleh marga mereka.

Perkembangan yang terus meluas sepanjang waktu dan zaman, penghormatan kepada dewa-dewi lalu dibuatkan ruangan khusus yang dikenal sebagai klenteng yang dapat dihormati oleh berbagai macam-macam marga atau suku. Di dalam klenteng sendiri bisa ditemukan (bagian samping atau belakang) dikhususkan untuk abuh leluhur yang masih tetap dihormati oleh para sanak keluarga masing-masing.

Klenteng juga menyediakan tempat untuk mempelajari ajaran-ajaran atau agama leluhur seperti ajaran-ajaran Konghucu, Taoisme, dan bahkan ada pula yang mempelajari ajaran Buddha. Klenteng selain sebagai tempat penghormatan para leluhur, para dewa-dewi, dan tempat mempelajari berbagai ajaran, juga digunakan sebagai tempat yang damai untuk semua golongan tidak memandang dari suku dan agama apapun.

Adanya Perjalanan Biksu Lim U Tek Di Pontianak

Keberadaan Ajaran Budha di Pontianak juga tidak terlepas dari adanya Biksu Lim U Tek yang mengembangkan ajaran-ajaran kedamaian dan sosial yang dimulai sejak Abad XIX(sembilan belas) telah berkembangnya ajaran Budha di Kalimantan, khususnya di Pontianak.

Adanya keberadaan kelenteng tua yang bernama Meng Siang Theng yang tepatnya berada dijalan Tjemara pontianak No.9 yang sekarang dikenal dengan nama jalan Gusti Sulung lelanang pontianak merupakan salah satu Kelenteng yang dibangun dan didirikan Biksu Lim U tek.




Kelenteng dari peninggalan Lim U Tek yang dapat dijumpai saat ini yakni Klenteng Meng Siang Theng . Ahli waris ataupun cucu dari Biksu Lim U Tek ternyata masih dapat kita temukan di tempat itu.

Pria separuh baya yang kami temui itu dikenal dengan nama Lim Seng Hak, alias Subroto dan menceritakan banyak tentang perjalanan kakeknya (Lim U Tek) hingga saat ini tetap menjadi sejarah adanya perkembamngan ajaran Budha di Pontianak.

Biksu Lim U Tek alias Ling Tek Eng lahir di Kekjo Tiongkok pada tanggal 3 Juli 1915 , datang ke pontianak sekitar tahun 1938. “Lim U Tek dengan penuh keyakinan untuk membantu sesama yang membutuhkan”, kata Lim Seng Hak. Lim U Tek lanjutnya menjelaskan selain dalam menyebarkan ajaran agama Budha di wilayah Pontianak juga mendirikan pabrik roti yang bernama “Meng Kie” dengan tujuan membatu roda perekonomian sekitar, katanya kepada media.

“Selama berdiam di pontianak Lim U Tek telah banyak melakukan kegiatan kegiatan sosial terutama ketika pada zaman pendudukan jepang”.Tegas Lim Seng Hak.

Saat itu banyak penduduk disekitar kelenteng pada zaman itu yang kelaparan, tertembak ataupun luka lalu dibawa ketempat kediaman Lim U Tek untuk diobati dan tinggal untuk semetara ditempat Lim U Tek, tambahnya lagi kepada media yang sedang mengunjungi perjalanan dan peninggalan sejarah Budha di Pontianak.

Bagaimana seorang Biksu memiliki cucu bila Biksu Lim U Tek Tidak menikah, Tanya awak Media Kepada Bapak yang merngaku Cucu dari Biksu Lim U Tek ini kepada kami( media-red).

Lim Seng Hak alias Subroto mengakui bahwa, Lim U Tek adalah seorang biksu yang tidak menikah, sehingga saat itu Lim U Tek mengangkat anak yaitu :

1.(satu) Tjiang Seng. 2(Dua) Lim A Sai (Saiman Ngabianto). 3(Tiga) Lie Song Kia (Subroto Ali). Kebenaran sebagai anak angkat tersebut dibuktikan dengan adanya lampiran dari Kelurahan Benua Melayu Darat, Pontianak Selatan.

Setelah mengangkat anak angkat Lim U Tek mengajak anak-anaknya tinggal bersama Lim U Tek yang terletak dijalan Tjemara Pontianak dan bekerja dengan Lim U Tek pada pabrik roti tersebut, serta membantu juga mempersiapkan segala sesuatu terkait upacara sembayang di Kelentang Budha Meng Siang Teng seperti mempersiapkan Hio, Lilin, dan persiapan alat sembayang lainnya.




Biksu Lim U Tek Akhirnya pada Tahun 1969 mendirikan yayasan Kelenteng Budha Meng Siang Theng, dengan pengurus saat itu yakni : Pakoesoe Halim sebagai ketua , Subroto Ali(Lie Song Kia) sebagai seketaris, dan Lim U Tek sendiri sebagai bendahara. (Eva Andryani)

Sumber  : Bidik Fakta

Read more