Wagub : Songket Bisa Jadi Pakaian ASN ke Kantor

0

DSC_0053EkspresNews.com – Produksi songket di Sumatera Barat (Sumbar) khususnya Kota Sawahlunto sudah menampakkan peningkatan. Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit mengatakan, Songket tersebut bisa menjadi pakaian bagi Aparatur Negara Sipil (ASN) untuk ke kantor. Kabupaten atau kota lain, bila tidak punya produksi songket, Songket Sawahlunto bisa menjadi pilihan.

“Saya rasa kita tidak usah lagi terikat. Karena sekarang di ASN sudah tidak ada lagi ikatan. Bisa saja kita sekarang pakai hasil industri sendiri atau songket-songket atau tenunan yang bisa dipakai untuk kita ke kantor,” kata Nasrul Abit usai penutupan Sawahlunto International Songket Carnaval (SISCA) pada Minggu (27/8) siang di Sawahlunto.

Nasrul Abit mengatakan, untuk saat ini memang belum ada Peraturan Gubernur (Pergub) untuk menjelaskan aturan tersebut. Akan tetapi, katanya, karena di Sumbar ada beberapa kabupaten dan kota yang punya produksi songket tersebut, ini sudah bisa dijadikan pakain bagi ASN.

Ia juga mengatakan, bila walikota atau bupati di Ranah Minang ini ingin menjadikan songket sebagai salah satu pakaian dinasnya, maka kepala daerah tersebut boleh membuat peraturan bupatinya.  Di samping itu, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Triawan Munaf mengatakan, Songket adalah produk keunggulan di Sawahlunto. Kekuatan tradisinya sangat khas, tetapi memang memerlukan penyempurnaan-penyempurnaa, seperti dari segi desain.

Oleh karena itu, kita ingin, bukan hanya menunggu, tapi kita akan sama-sama bina dan kembangkan dengan pemahaman terhadap selera internasional dan juga nantinya bagaimana penerapan-penerapan songket ini. “Songket bukan hanya sebagai pakaian, tapi juga bisa dijadikan aksesoris, keperluan rumah tangga, dan lain-lainnya. Saya pikir itu dapat memperluas pasaran hingga nanti akan dibutuhkan kemampuan Sawahlunto untuk memproduksi lebih banyak lagi tanpa mengurangi kualitas,” jelasnya.




Menurutnya, kualitas Songket sawahlunto tersebut sudah bagus. Tidak ada yang bisa mengalahkan. Mudah-mudahan ke depannya jauh leih baik. “Kadang-kadang kan begini, songketnya sudah bagus, tapi baju dalamnya yang kuras bagus. Nah, hal-hal detail seperti itu harus jadi perhatian,” katanya. Saat ini, kata Triawan, Songket sudah menjadi pakaian nasional. “Seperti kemarin ketika hari Merdeka di Istana banyak yang memakai songket. Songket itu memiliki cIri dan sifat festif, mengkilat dan meriah. Walaupun polos, tetap ada kilat mengkilatnya. Itu sudah menjadi ciri khas tersendiri,” katanya.

Terkait bahan bakunya, saat ini kota Sawahlunto masih menggunakan bahan baku songket dari India dan Cina. Mengenai hal itu, menurut Triawan Munaf, itu adalah lintas kementerian, tidak bisa badan ekonomi kreatif sendiri. Tapi, ia akan membicarakannya dengan para desainer, dan kementerian yang berwenang.

Ia mengajak agar masyarakat bangga kepada produk kita sendiri. Kalau ada produksi, tapi tidak ada yang mengomsumsi ini tidak akan berhasil. “Seperti di Korea, di Korea, ketika mereka sudah memproduksi suatu barang, walaupun belum sempurna, tapi mereka sudah mengonsumsi. Saya harap Indonesia juga begitu, jangan menunggu sempurna, mari kita konsumsi produk-produk kita. Bayangkan pasar yang kita lebih dari dua ratus juta. Itu adalah pasar yang menggiurkan bagi orang-orang luar,” jelasnya. Sementara itu, Walikota Sawahlunto Ali Yusuf Optimis Songket hasil tenunan masyarakat di situ mampu go international. (Asra)

Comments

comments

About author

redaksi

Redaktur adalah orang yang betanggung jawab penuh terhadap berita yang disuguhkan kepada pembaca. Redaktur umumnya berasal dari reporter lapangan yang dalam kariernya kemudian naik menjadi redaktur muda, madya dan kemudian redaktur kepala atau redaktur bidang, yakni yang membawahi bidang tertentu.